Tebu Ajaib dari Jawa: Cerita Manisnya Industri Gula bagi Kota Pasuruan

Tebu Ajaib dari Jawa: Cerita Manisnya Industri Gula bagi Kota Pasuruan
info gambar utama

Pada awal abad ke 20, nama Pasuruan telah ditulis dalam tinta emas sejarah gula Hindia-Belanda, bahkan dunia. Kota ini begitu melegenda dengan industri-industri gulanya yang begitu maju.

Kawasan kota Pasuruan yang dahulu disebut sebagai Oosthoek (meliputi Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Jember, Bondowoso, Lumajang, dan Banyuwangi) merupakan daerah yang mengalami masa kejayaan industri gula.

Dilansir dari p3gi.co.id, industri gula di Pasuruan kota sudah dimulai sejak masa Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) dan berkembang di abad 19 Masehi. VOC memang memulai merambah gula, setelah melihat keberhasilan para pedagang Tionghoa.

Saat itu para pedagang Tionghoa berhasil menjual gula dengan harga yang menggiurkan. Hal ini membuat perusahaan asal Belanda ikut terjun pada sektor tersebut sampai meletusnya perang Diponegoro.

Catatan sejarah menunjukan, VOC pertama kali mengekspor gula dari Batavia. Namun, belum ada bukti yang memastikan bahwa awal pembuatan gula kristal di Hindia Belanda berlokasi di Batavia.

Pabrik Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegaran yang Terbesar di Asia

Banten justru diduga menjadi lokasi pembuatan gula kristal pertama di Indonesia. Hal ini berdasarkan adanya batu silinder di Museum Banten Lama dan lukisan peta Kota Banten pada tahun 1596.

Baru ketika orang-orang Belanda mulai membuka koloni di Pulau Jawa, kebun-kebun tebu monokultur mulai dibuka dan terus berkembang ke arah timur, terutama daerah Jawa Timur yang menjadi basis industri gula.

“Berawal dari upaya VOC pada permulaan abad ke 19 menyulap daerah Tapal Kuda Jawa Timur yang mereka sebut Oosthoek dan dianggap daerah miskin, menjadi kawasan yang produktif secara ekonomi. Cara yang ditempuh adalah melalui pertanian dan pengolahan tebu,” tulis p3gi dalam situs mereka.

Dalam catatan sejarah, pada 1637, VOC berhasil mengekspor 10 ribu pikul atau setara dengan 625 ribu kilogram gula per tahun. Masyarakat Jawa yang awalnya menanam padi mulai beralih menanam tebu, tidak terkecuali para petani di Pasuruan.

Di masa Tanam Paksa, penanaman tebu begitu masif hingga digantikan dengan Undang-Undang Agraria. Sejak itu, pabrik gula diharuskan untuk menanam tebu sendiri dengan sistem sewa tanah dari petani.

Pada tahun 1930 industri gula mulai berkembang pesat, sehingga di Pulau Jawa terdapat 179 buah pabrik gula dan 16 perusahaan tebu, sehingga Jawa terkenal dengan penghasil tebu kedua setelah Kuba.

Manis gula bagi Pasuruan

Suatu hari, seorang inspektur kepala pertanian zaman Hindia Belanda bernama Dr. IHF Sollewijn Gelpke tengah serius menuangkan gagasan pada lembaran-lembaran kertas di meja kerjanya.

“Suatu awal perubahan besar dalam sejarah perkebunan tebu di Jawa dan dunia sedang disiapkan. Pasuruan menjadi takdirnya,” tulis Mahandis Yoanata Thamrin dalam artikel Pusaka Pasuruan: Dunia Mengakui Tebu Ajaib Berasal dari Tanah Jawa.

Jejak gula di Pasuruan masih terlihat dari sebuah gedung yang kini menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), masyarakat menyebutnya Gedung Prop. Sementara nama aslinya adalah Proefstation Oost-Java (POJ).

POJ didirikan pada 9 Juli 1887, merupakan lembaga riset tebu/gula ketiga yang dibangun untuk mendukung industri gula di wilayah Hindia Belanda. Sebelumnya ada Proefstation Het Midden Java (Semarang, 1885), Proefstation Suikerret in West Java (Tegal, 1886).

Kegelisahan hati Gelpke tentang industri gula memang beralasan. Sekitar awal 1880 an industri gula di Tanah Jawa sempat geger. Pertama produksi gula dunia melebihi tingkat konsumsinya, artinya akan ada pembatasan produksi.

Sementara yang kedua, daya saing rendah karena kualitas gula tebu Jawa masih di bawah standar dan diperparah dengan mewabahnya hama sereh (Androgon schoenanthus). Ketika itu penyakit sereh membuat tanaman tebu tak punya batang.

Jaya Pada Masanya, Indonesia Pernah Menjadi Eksportir Gula Terbesar Kedua di Dunia

Setelah lima tahun POJ di Pasuruan berkiprah, banyak penelitian yang melaporkan secara deskriptif hama-hama tebu yang berjangkit di Jawa. Dr JH Wakker, direktur lembaga tersebut (1892-1897) mulai melakukan program penyilangan.

Varietas perdana yang diharapkan tahan terhadap hama sereh dilahirkan dengan kode POJ 100. Setelah empat puluh tahun dalam cengkraman wabah sereh, akhirnya POJ Pasuruan berhasil menemukan klon tebu baru berkode POJ 2878 pada 1921.

Mahandis menulis ini merupakan sebuah kesuksesan besar untuk industri gula di Jawa dan negara-negara penghasil gula di dunia. Varietas ini, jelasnya tidak hanya tahan hama sereh, melainkan punya tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

Keunggulan lain, jelasnya “Si Wonder Cane” ini dinilai baik sebagai tanaman induk (parent material). Pada akhir 1920 an, hampir 200 ribu hektare perkebunan tebu di Jawa menggunakan varietas ini.

Tahun-tahun berikutnya varietas POJ 2878 asal Pasuruan ini telah menyebar ke perkebunan tebu di penjuru dunia. Sebuah catatan melaporkan, klon tebu asal Pasuruan ini telah diperkenalkan di Karibia dan Lousiana pada 1924.

“...Yang menyelamatkan industri gula mereka dari serangan hama sereh,” paparnya.

Jejaknya kini

Setelah rilisan itu, POJ kembali merilis varietas tebu terbaru yakni POJ 3016 pada 1930, varietas yang memiliki produktivitas tinggi dan dalam waktu singkat mencapai 90 persen areal tebu di tanah Jawa.

Abraham Nurcahyo dalam artikel Tata Kelola Industri Gula di Situbondo Masa Kolonial dan Kebijakan Pergulaan Masa Kini menuliskan bahwa produksi gula dari 151 kuintal per hektare pada 1928 menjadi 176,3 kuintal per hektare pada 1940.

“Temuan hasil riset di Pasuruan langsung dikenal dunia, dan POJ kiblat pada masa itu,” ucapnya.

Seiring perubahan zaman, penelitian gula di POJ berubah-ubah kebangsaan. Dari Belanda ke Jepang, hingga kemudian dinasionalisasikan pada 1957. POJ sepenuhnya dipegang dan menjadi Balai Penyelidikan Perusahaan-Perusahaan Gula (BP3G).

Pada 1987, nama BP3G diganti menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) dan berlaku hingga kini. Inisial POJ yang sebelumnya digunakan untuk varietas gula, berubah pada 1957 menjadi PS, mengacu pada Pasuruan.

“Walau sudah seabad, teori-teori yang dibangun pada zaman Belanda masih relevan sampai sekarang dan varietas POJ tetap jadi “keyword” P3GI,” ujar Manager of Marketing, Training & Information P3GI Aris Lukito.

Gula Semut Kulon Progo Diminati Pasar Mancanegara

P3GI bukanlah satu gedung, melainkan kompleks bangunan di dalam satu kawasan seluas 10 hektare. Di antara pohon-pohon tua nan rindang, dapat disaksikan beberapa gedung-gedung tuan yang masih difungsikan.

Pada 1977, sebagian bangunan lama sudah dihancurkan untuk pembangunan gedung P3GI. Bila bagian aula depan masih mempertahankan kesan kunonya, bagian belakang aula dibentuk layaknya ruang resepsi masa kini.

Menurut Silvia Galikano dalam Cerita Gemilang Industri Gula Pasuruan menyebut sepanjang langit-langit, dinding, dan jendela dipasang aksen kayu membujur yang membuat tingginya langit-langit tersamarkan, serta ciri kekunoan jendela hilang tertutupi.

Namun masih ada bangunan yang mempertahankan sebagian besar bentuk aslinya, yakni rumah jabatan direktur P3GI. Di sinilah direktur-direktur POJ sejak era Hindia Belanda hingga kini bertempat tinggal.

Dari tempat ini pula, untaian asal-usul tanaman tebu yang telah dikembangkan di dunia berasal. Pasuruan yang merupakan kota kecil punya kenangan semanis tebu bagi dunia, namun ukiran nama dalam sejarah Indonesia telah banyak dilupakan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini