Agenda Indonesia dalam Ajang World Economic Forum 2022 di Swiss

Agenda Indonesia dalam Ajang World Economic Forum 2022 di Swiss
info gambar utama

Tahun ini Indonesia kembali hadir dalam ajang World Economic Forum (WEF) yang diselenggarakan pada 22-26 Mei di Davos, Swiss. Adapun delegasi Indonesia yang akan terlibat di forum tersebut dipimpin oleh Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta didukung oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kemenkominfo, Kemenperin, KKP, Kementerian ESDM, dan kementerian lainnya.

"Ada dua agenda yang akan bicara tentang G20. Misalnya persiapan Presidensi G20 di Indonesia, serta materi tentang transisi energi. Ini kan juga salah satu materi yang akan di-address di Presidensi G20 di Indonesia," ujar Usman Kansong, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo.

Dalam forum ekonomi tingkat internasional tersebut, Indonesia memiliki kesempatan untuk berpartisipasi melalui Indonesia Pavilion dan Indonesia Night. Indonesia Pavilion merupakan tempat berdiskusi, seminar, hingga menjalin koneksi, di antara para pejabat senior pemerintah, pengusaha terkemuka, dan tokoh-tokoh dunia yang akan percepatan transformasi ekonomi di Indonesia. Sedangkan Indonesia Night menjadi ajang untuk memperkenalkan potensi Indonesia ke dunia lewat pertunjukkan budaya dan kuliner.

Ini Daftar 102 Penyelenggara Pinjol Terdaftar dan Berizin OJK

Indonesia di WEF 2022

Paviliun Indonesia di WEF 2022 | Dok Kemenko
info gambar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya di Paviliun Indonesia merefleksikan pengalaman dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19 pada dua tahun terakhir.

“Dua tahun terakhir semua negara berada dalam keadaan sulit akibat pandemi Covid-19. Kabar baiknya, Indonesia menunjukkan ketahanannya dan mulai menunjukkan proses recovery dimana perekonomian Indonesia pada Triwulan I tahun ini mencatat pertumbuhan sebesar 5,1% yoy,” kata Menko Airlangga.

Dijelaskan Airlangga bahwa pertumbuhan perekonomian nasional yang menguat jadi salah satu peluang dalam upaya menarik investor. Selain itu, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia juga terus membaik dan dapat akan menjadi faktor pendorong ekonomi nasional semakin menguat ke depannya.

“Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan saat ini adalah momen emas untuk berinvestasi di Indonesia,” jelasnya.

Menko juga menerangkan bahwa Presiden Joko Widodo menjadi Champion Global Crisis Response Group (GCRG) yang berfokus pada isu pangan, energi, dan keuangan. Ini menjadikan Indonesia turut berperan dalam mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam ketahanan pangan, energi, dan keuangan global akibat konflik Rusia-Ukraina. Ia pun menekankan pentingnya peran serta kerja sama semua anggota G20 dalam menjaga stabilitas dunia.

“Selama krisis keuangan global 2008, G20 lah yang mencegah ekonomi dunia jatuh lebih dalam ke jurang depresi. Negara-negara yang membentuk G20 terdiri dari dua pertiga dari populasi dunia, 85 persen dari PDB dunia, 75 persen dari perdagangan dunia, dan 80% dari investasi global. Keputusan yang dicapai di G20 akan memperbaiki banyak hal di dunia ini,” kata Airlangga dalam pertemuan pers terkait Indonesia Economic Outlook 2022 dan Presidensi G20 Indonesia, di Davos, Senin (23/05).

Menko menjelaskan Presidensi G20 Indonesia mengusung tiga agenda utama yakni arsitektur kesehatan global, transformasi ekonomi berbasis digital, dan transisi energi.

“Dalam arsitektur kesehatan global, Indonesia mengusulkan untuk menciptakan mekanisme pembiayaan yang bisa mendukung tersedianya vaksin untuk negara-negara yang membutuhkan. Hal ini penting karena saat ini pandemi Covid-19 masih belum selesai dan masih ada negara-negara, terutama di Afrika, yang belum memiliki akses yang luas dalam mendapatkan vaksin seperti negara-negara berkembang lainnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk transformasi ekonomi berbasis digital, telah terjadi peningkatan tajam terkait digitaliasasi di Indonesia selama pandemi yang dapat mendorong pemulihan ekonomi. Dijelaskan bahwa perkembangan ekonomi digital di Indonesia tahun 2021 bisa dilihat dari transaski komersial yang mencapai lebih dari 27 miliar dolar AS. Nilai transaksi uang elektronik juga telah melebihi 2,4 miliar dolar AS per Desember 2021.

Peruri dan Kepercayaan Sejumlah Negara yang Mencetak Uang di Indonesia

Transisi energi

Menko Airlangga jadi panelis di WEF 2022 | Dok Kemenko
info gambar

Pada lokakarya mengenai percepatan transisi energi di emerging and developing economies, Menko Airlangga didapuk menjadi panelis dalam forum pertemuan dengan para stakeholders di tingkat global. Adapun panelis lain yang hadir dalam lokakarya tersebut merupakan delegasi berbagai negara, perusahaan multinasional, multilateral development banks, investor pada bidang energi, dan agensi energi internasional.

Dalam lokakarya tersebut, Menko menerangkan bahwa Indonesia berkomitmen dalam bertransisi menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT). Indonesia juga tengah mengembangkan prototipe pajak karbon untuk pembangkit listrik tenaga batu bara dan mengganti pembangkit listrik tenaga batu bara dengan EBT dengan mempunyai model pembiayaan terjangkau dan berkelanjutan.

“Salah satu yang menjadi penting dalam transisi energi ini adalah tentang bagaimana menyiapkan pendanaannya melalui mekanisme blended finance dan mengembangkan protokol obligasi transisi sebagai peluang untuk memberikan pembiayaan kepada perusahaan yang memiliki target transisi ke industri hijau di masa depan. Kita tidak bisa melakukan transformasi tanpa pembiayaan yang memadai,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, lokakarya tersebut membahas mekanisme transisi energi dan menekankan kolaborasi berbagai pihak. Beberapa topik yang dibahas antara lain kolaborasi dan model bisnis yang mendukung transisi energi, mekanisme pembiayaan yang berpotensi membuka dan meningkatkan investasi masa depan untuk mendukung energi terbarukan dan teknologi dekarbonisasi, memastikan bahwa pendanaan hijau terhubung dengan kebutuhan aktual di lapangan, hingga tindakan yang diperlukan untuk memastikan akses energi bersih ke jutaan orang yang kekurangan energi dan mencapai target SDGs.

Diselenggarakannya lokakarya tersebut diharapkan mampu memberikan masukan dan wawasan terbaru untuk para pemangku kepentingan, seperti upaya katalisasi pada proses mekanisme percepatan transisi energi di wilayah negara emerging dan negara berkembang, mempercepat upaya pada proses transisi energi, melihat peluang dari proses transisi, dampak yang mungkin terjadi pada masyarakat akibat transisi energi, dan penyelarasan dan kolaborasi antara Pemerintah dan swasta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini