Cerita Pilu Soekarno di Penjara Banceuy: Menulis Pledoi Gunakan Pispot

Cerita Pilu Soekarno di Penjara Banceuy: Menulis Pledoi Gunakan Pispot
info gambar utama

Di tengah hingar bingar keramaian Jalan Braga dan Asia Afrika di kota Bandung, terdapat situs sejarah yang lokasinya cukup terpencil. Letaknya berada di belakang gedung perkantoran dan pertokoan Kompleks Banceuy Permai, Jalan Banceuy.

Situs tersebut tidak lain merupakan monumen penjara Banceuy yang sempat menjadi saksi sejarah penahanan proklamator Indonesia, Ir Soekarno dan kedua rekannya, Gatot Mangkupraja dan Maskun Sumadireja selama kurang lebih 7 bulan.

Dikutip dari Ayobandung, mereka ditahan akibat aktivitas di Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dinilai mengancam pemerintah Hindia Belanda. Kisah pemenjaraan ketiga tokoh itu, bermula pada suatu subuh di bulan Desember 1929.

Her Suganda dalam Jejak Soekarno di Bandung menyebut kala itu ketiganya berada di Yogyakarta untuk melakukan kampanye politik PNI bersama para penggerak partai yang berada di daerah.

Setelah selesai acara, para petugas penjemputan paksa pemerintah Hindia Belanda kemudian ‘menculik’ Soekarno dan kedua rekannya untuk naik kereta di pagi buta dengan gerbong tertutup tanpa celah.

Membaca Sarinah, Pemikiran Soekarno Terhadap Perjuangan Perempuan

“Hal tersebut menyusul terbitnya telegram rahasia pemerintah Hindia Belanda yang memerintahkan penangkapan terhadap para aktivis organisasi pergerakan,” jelasnya.

Hingga akhirnya sampailah ketiganya di Stasiun Cicalengka. Dengan menggunakan mobil, Soekarno, Gatot, dan Maskun dibawa berkendara hingga tiba di penjara Banceuy dalam keadaan lunglai.

Soekarno dan pilunya di penjara

Penjara Banceuy adalah yang paling tua dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu pada tahun 1887. Penjara ini terkenal paling sangar karena karena kerap digunakan untuk menahan para pelaku kriminal seperti rampok, begal, atau maling.

Ketika sampai, mereka bertiga disambut sang direktur penjara yang telah menempatkan satu regu tentara KNIL atau tentara Hindia Belanda bersenjata lengkap yang dipimpin oleh seorang sersan.

Ditulis oleh Suganda, ketika itu penjara Banceuy telah dipenuhi para penggerak dan pengikut PNI yang turut ditangkap dalam razia besar-besaran. Di antaranya adalah Marwoto, Suka, Subagio, hingga Mr Ishaq Tjokrohadisurjo.

Karena situasi semakin ramai, maka Soekarno dan kedua rekannya dipindahkan ke dalam satu bangunan. Di sana, sel mereka bersebelahan, Soekarno menempati sel nomor 5, Gatot nomor 7, sementara Maskun di sel 9.

Mereka menghabiskan waktu-waktu yang menyesakkan dengan fasilitas minim di dalam kamar sel berukuran 2 x 1,5 meter. Pintunya terbuat dari besi tebal, dan di dalamnya hanya terdapat tempat tidur lipat dari besi beralaskan jerami yang dilapisi tikar.

Kepada Cindy Adams, penulis biografi berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno mendeskripsikan sel yang dihuninya di penjara Banceuy itu layaknya sebuah “peti mati”.

“Aku adalah seorang yang biasa rapi dan pemilih. Aku adalah seorang yang suka memuaskan perasaan, menyukai pakaian bagus, makanan enak, mencintai sesuatu dan tidak dapat menahankan pengasingan kekotoran, kekakuan dan penghinaan-penghinaan keji yang tidak terhitung banyaknya dari kehidupan tawanan,” ungkap Soekarno dalam biografinya.

Tonil Kelimutu, dan Naskah Perlawanan Soekarno Melalui Panggung Teater

Di dalam sel tersebut, Soekarno dan para tahanan lainnya dilarang keras membaca surat kabar dan melakukan hal-hal lainnya. Keadaan yang sepi dengan sel yang kosong membuat Soekarno akhirnya kerap memperhatikan dan memberikan makan cicak-cicak.

Soekarno mengaku menantikan datangnya seekor cicak kecil yang merangkak dari atas loteng. Kemudian memberikan makan hewan itu dengan sebutir nasi dari makanan yang diantarkan oleh sipir penjara.

Setelahnya, jelas Soekarno, cicak itu akan merangkak turun di dinding dan mengintip kepadanya dengan mata seperti butiran mutiara. Lalu cicak itu kemudian melompat mengambil makanan yang diberikan oleh Soekarno, dan lari lagi.

Melihat hal itu, lama kelamaan, salah satu sipir penjara merasa iba dan memperkenankan Soekarno untuk membaca surat kabar di malam hari. Dia kerap membaca surat kabar AID de Preangerbode dan Sipatahoenan, surat kabar pimpinan Otto Iskandardinata.

Setelah beberapa lama, Bung Karno kemudian bisa membawa buku-buku miliknya yang kemudian dijadikan bahan untuk menyusun pledoinya Indonesia menggugat. Maka dengan itu Bung Karno mulai rajin menulis dengan bahan-bahan bukunya sendiri.

Indonesia menggugat dan pispot

Soekarno yang ketika itu masih berusia 29 tahun harus meringkuk di penjara Banceuy. Di kamar selnya yang sempit itulah, Bung Karno menuliskan pidato pembelaan (pledoi) dengan susah payah yang amat sangat.

Dipaparkan Historia, meja untuk menulis tidak ada, satu-satunya perabot yang membantu Bung Karno menulis adalah kaleng pispot. Benda ini digunakan untuk buang air kecil sekaligus menjadi alas kertas untuk Soekarno menulis.

Martin Sitompul dalam Sukarno di Usia 29 menyebut menulis di atas pispot bukan pekerjaan yang mudah. Selain harus menahan bau, tulang punggung yang tertekuk serasa ingin remuk. Itu menjadi aktivitas Bung Karno malam demi malam, selama sebulan setengah.

“Dengan cara begini aku bertekun menyusun pembelaanku yang kemudian menjadi sejarah politik Indonesia dengan nama Indonesia Menggugat,” kenang Bung Karno dalam otobiografinya.

Dalam Indonesia Menggugat, ujar Martin, Bung Karno menelanjangi praktik kolonialisme Belanda di negeri jajahannya. Dia mengungkapkan secara terperinci penderitaan yang menyedihkan rakyat bumiputra akibat penghisapan selama tiga setengah abad.

Tesis tentang kolonialisme itu, kata Soekarno merupakan hasil dari penulisan di atas kaleng tempat buang air yang bertugas ganda itu. Tetapi Bung Karno tidak hanya menguraikan masa suram negerinya akibat imperialisme.

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Dirinya juga menyuarakan tentang kejayaan Nusantara di masa lalu, serta masa depan yang penuh harapan. Bung Karno percaya bahwa kemerdekaan adalah untuk anak-anak, cucu, dan buyut-buyut yang hidup kelak di kemudian hari.

Perkara Soekarno kemudian disidangkan di pengadilan Bandung pada 18 Agustus 1930. Pidato pembelaannya menggegerkan persidangan. Para hakim kolonial tertegun, mereka merasa dipermalukan.

Hakim, tidak usah kami beberkan panjang lebar kekejamannya; juga cultuurstelsel ini sudah diakui jajahannya oleh hampir setiap kaum yang mengalaminya dan oleh kaum terpelajar yang mempelajari riwayatnya,” ujar Bung Karno di depan hakim.

Tuan-tuan hakim yang terhormat, jutaan, tidak terbilang milyar rupiah kapital imperialis yang kini mengeruk kekayaan Indonesia!

Putusan hakim pada akhirnya memvonis Soekarno hukuman penjara empat tahun yang kemudian dijalani dua tahun. Dari Banceuy, Bung Karno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Pidato itu memang tidak berhasil membebaskannya dari jeruji besi.

Tapi, tegas Martin, kemerdekaan yang digaungkan dalam Indonesia Menggugat menjadi kenyataan pada 17 Agustus 1945, hari di mana Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan bersama Bung Hatta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini