Dikei, Ritual Pengobatan Suku Sakai yang Melibatkan Roh Baik Pembangkit Semangat

Dikei, Ritual Pengobatan Suku Sakai yang Melibatkan Roh Baik Pembangkit Semangat
info gambar utama

Selain pengobatan non-medis yang umum seperti akupuntur, pijat refleksi, jamu, gurah, hipnosis, dan obat-obatan herbal, beberapa daerah di Indonesia juga punya metode unik dalam menyembuhkan penyakit.

Salah satunya seperti yang dilakukan Suku Sakai yaitu dikei Sakai atau disebut dikei saja. Pengobatan ini dinilai cukup langka bahkan nyaris punah. Pada tahun 2019, dikei sakai masuk ke dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Riau yang disahkan langsung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pada dasarya dikei merupakan ritual pengobatan yang dilakukan Suku Sakai dan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Konsep dikei juga tak lepas dari kepercayaan kepada Tuhan dan alam. Seperti apa ritual pengobatan ala Suku Sakai dilakukan? Berikut penjelasannya:

Sakai, Suku Nomaden Asal Riau yang Bergantung Pada Hutan

Pengobatan tradisional Suku Sakai

Sebelum mengetahui ritual pengobatan yang khas, mari berkenalan dengan Suku Sakai. Siapa mereka? Jadi, Suku Sakai merupakan salah satu suku terasing yang ada di Indonesia. Mereka diketahui hidup di Kepulauan Riau, tetapi keberadaan dan informasinya jarang diketahui. Ada beberapa daerah tempat bermukim Suku Sakai yaitu Kapur, Minas, Duri, Kandis, Balai Pungut, Kota sekitar Sungai Siak, dan bagian hulu Sungai Apit.

Hal unik dari suku ini adalah kehidupan mereka di daerah pedalaman dan menggantungkan hidup pada alam. Mereka masih hidup secara tradisional dan tak tersentuh perkembangan zaman. Masyarakat Suku Sakai juga biasanya tinggal di pondok sederhana yang dihuni beberapa keluarga inti.

Pondok tempat tinggal mereka cenderung mudah dibongkar dan mudah dipindahkan ke tempat lain karena memiliki kebiasaan berpindah-pindah atau nomaden. Sehari-hari, mereka memanfaatkan berbagai sumber daya dari alam. Bahkan, pakaiannya pun terbuat dari kulit kayu.

Untuk ritual dikei sendiri biasa dilakukan untuk mengembalikan semangat manusia yang telah hilang. Masyarakat Sakai percaya bahwa hilangnya semangat itu merupakan penyebab orang menjadi sakit. Semangat digambarkan sebagai sesuatu yang rapuh, dapat hilang setiap saat karena kejutan, mudah terpikat, dan tergoda pada alam lain. Ketika semangat hilang, orang juga akan kehilangan kesadaran dan tubuh akan mengikuti kehendak yang memanggilnya.

Mereka percaya jika hidup tanpa semangat, manusia seperti mati dan kesadarannya tidak berada di tempat seharusnya. Keberadaan semangat yang dimaksud bisa terasa di denyut nadi di pergelangan tangan, dada, dan kening, kemudian inilah yang menjadi titik fokus dalam pengobatan.

Untuk mengembalikan semangat sekaligus menyembuhkan maka akan memanfaatkan roh-roh baik di alam. Dikei juga bersifat memagari agar semangat tidak hilang kembali dan terbujuk pengaruh dari luar. Mereka percaya bahwa seperti di alam manusia yang terdiri dari orang baik dan jahat, begitu juga di alam lain.

Pada dasarnya roh baik tidak mengganggu dan bisa membantu manusia bila diminta. Roh tersebut juga diyakini memiliki kekuatan yang dapat membangkitkan rasa hormat, segan, bahkan terkadang bisa menimbulkan perasaan takut.

Jalur Rempah dan Saling Silang Peradaban yang Memperkaya Bahasa Ambon

Upacara penyembuhan dikei

Pada saat ritual dikei akan diselenggarakan butuh komponen utama yang akan menjadi sarana penyembuhan yaitu Mahligai 9 Telingkek atau sembilan tingkat. Mahligai ini terdiri dari jalinan daun angin-angin yang ada di hutan dan dibuat tujuh tingkat. Selain itu juga dibutuhkan obor dari kayu damar yang akan menyala sepanjang ritual dan harus dijaga agar tidak padam.

Kemudian, ritual akan dipimpin oleh seorang dukun yang disebut kemantan. Kemantan percaya bahwa di atas puncak ke sembilan dari mahligai adalah tempat putri makhluk halus terlihat duduk di atas singgasana dan akan membantu proses penyembuhan. Dengan pencahayaan remang-remang, ritual dikek memang terasa mistis.

Setelah semua siap, kemantan akan menyanyikan mantra-mantra dalam bahasa Suku Sekai dan satu-dua orang menabuh gendang untuk mengiringi nyanyian. Ditambah dengan tarian olang-olang dengan gerakan seperti mengepak-ngepakkan sayap sambil berputar-putar yang diiringi tabuhan gendang.

Upacara dikek biasanya dilakukanpada malam hari, lokasinya di dalam hutan yang ditentukan Suku Sakai, dan ritual bisa berlangsung lebih dari satu jam.

Menariknya, proses pengobatan ini berlangsung lebih dari satu jam dan harus dilakukan pada malam hari dalam hutan yang ditentukan oleh suku Sakai. Konsep dari ritual dikek memang melibatkan berbagai aspek mulai dari musik, ritual alam, tarian, dan nyanyian.

Kini, sebagian masyarakat Suku Sakai masih melakukan ritual dikei untuk penyembuhan. Meski ada pula sebagian dari mereka yang lebih memilih pengobatan medis ke rumah sakit. Sementara untuk pelestarian warisan budaya ini juga sering ditampilkan sebagagai pertunjukkan di ajang seni-budaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini