Jangan Salah, Perfeksionis Tidak Selalu Baik Dalam Dunia Kerja

Jangan Salah, Perfeksionis Tidak Selalu Baik Dalam Dunia Kerja
info gambar utama

Perfeksionis, merupakan suatu sikap yang memiliki karakteristik “menuntut” seseorang untuk selalu menerapkan standar tinggi dalam mengerjakan segala hal secara sempurna. Hal inilah yang dilakukan oleh kaum perfeksionis dalam mengembangkan karier secara kompetitif di tengah persaingan tim kerja.

Dalam dunia profesional, sifat perfeksionis terkadang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas kerja yang optimal. Tapi jangan salah, Goodmates. Ternyata, tak melulu perfeksionisme dalam diri seseorang berdampak baik terhadap pekerjaan, lho.

Ada beberapa efek negatif akibat sikap perfeksionis di dunia kerja, seperti yang berikut ini.

  1. Tidak Pernah Merasa Cukup / Menyalahkan Diri Sendiri
Ilustrasi | Foto: Freepik
info gambar

Tanpa sadar sisi perfeksionisme seseorang akan berkembang menjadi inner critic yang selalu menghakimi diri sendiri jika suatu pekerjaan dirasa belum cukup sempurna.

Sulit menerima hasil akhir pekerjaan yang masih selalu dianggap “kurang”, tentu berdampak pada kepercayaan diri yang kerap memandang rendah segala pencapaian diri sendiri. Ini bisa menjadi penyebab stress terbesar kamu yang bisa mengganggu kesehatan mental lho, Goodmates.

  1. Sulit Berdamai dengan Kesalahan
Ilustrasi | Foto: Freepik
info gambar

Dengan standar pekerjaan yang tinggi dan terus berusaha melakukan segala hal dengan sempurna, membuat seorang perfeksionis sulit menerima kegagalan. Maka jika ia melakukan kesalahan sedikit saja, ini sudah bisa menjadi awal masalah yang sulit untuk dilupakan bahkan berat untuk berdamai dengan diri sendiri.

Padahal meski kegagalan bukanlah hal yang menyenangkan, tapi ia bisa dijadikan pengalaman berharga untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

  1. Insecure Berlebih Terhadap Pekerjaan
Ilustrasi | Foto: Freepik
info gambar

Rasa insecure yang tinggi juga menjadi teman akrab bagi para kaum perfeksionis. Mereka akan sangat sulit mengambil waktu rehat dan terus memaksa melakukan tugasnya hingga sempurna.

Padahal, dengan menyisihkan waktu istirahat seperti me time atau sharing dengan rekan kerja bisa me-refresh otak kamu untuk kembali memunculkan ide-ide segar.

  1. Menguras Energi, Bikin Capek
Ilustrasi | Foto: Freepik
info gambar

Tanpa sadar, sikap perfeksionis akan menuntut kita untuk selalu menghasilkan pekerjaan di atas rata-rata orang kebanyakan. Hal inilah yang lama-kelamaan bisa membuat kita lepas kontrol atau burn out. Bukannya hasil pekerjaan berakhir sempurna, yang ada hanya akan menguras energi secara fisik dan emosi.

Terus berkonsentrasi di depan komputer atau laptop-mu justru akan berdampak buruk untuk kesehatan fisik, mental, dan pikiranmu lho, Goodmates.

  1. Susah Menikmati Pencapaian Diri
Ilustrasi | Foto: Freepik
info gambar

Takut gagal justru mengurung kita dalam zona nyaman dan memaksa kita untuk menghindari hal-hal beresiko yang bisa menjadi pembelajaran untuk ke depannya. Kegagalan malah akan membawa kita menikmati segala proses usaha yang dikerjakan hingga benar-benar meraih keberhasilan sesuai yang diinginkan.

Namun untuk kaum perfeksionis, penetapan standar yang tinggi dalam setiap pekerjaan akan terus menuntutnya tanpa bisa menikmati pencapaian diri sendiri. Sebaiknya, belajar untuk menerima setiap pencapaian diri kamu ya, Goodmates.

Bagaimana Goodmates? Ternyata punya karakter perfeksionis tak melulu bisa dianggap baik, kan. Jika tidak mengelola sesuai porsinya, sifat tersebut justru akan mengganggu rekan-rekan kerjamu di kantor, atau bahkan bisa merugikan perkembangan karirmu loh, Goodmates. So, hati-hati ya.

 

Referensi: Finansialku

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini