Rumah Bosscha, Hunian ala Belanda Milik Raja Teh Priangan

Rumah Bosscha, Hunian ala Belanda Milik Raja Teh Priangan
info gambar utama

Nama Bosscha sering diidentikan dengan observatorium yang berada di Lembang, Bandung Barat. Faktanya, pria yang memiliki nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha ini dikenal sebagai Raja Teh Priangan.

Bosscha pada masa silam memang dikenal sebagai pendiri sekaligus pemilik dari Perkebunan Teh Malabar Pangalengan. Perkebunan teh itu berdiri di atas lahan seluas lebih dari 2.000 hektare.

Kini jejak peninggalannya masih bisa ditemukan di berbagai sudut wilayah Bandung, salah satunya Rumah Bosscha. Tempat ini terletak di tengah perkebunan teh yang secara administratif berada di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Pemilik tanah di mana bangunan ini berada adalah PTPN VIII, yang dikelola oleh PT Agrowisata N8. Menurut Alam Buchori Muslim, rumah tersebut dibangun tepat ketika Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar pada 1896.

Luas bangunannya sekitar 550 meter persegi. Meneer Belanda ini menempati rumah tersebut hingga akhir hayatnya, yakni pada 26 November 1928. Bosscha lantas dimakamkan di sekitar perkebunan tersebut.

“Karena kecintaannya pada Malabar, dia meminta agar jasadnya disemayamkan di antara pepohonan teh di Perkebunan Teh Malabar yang tidak jauh dari rumahnya yang sekarang dikenal dengan Rumah Bosscha,” ucap Alam yang dilansir dari Liputan6, Jumat (27/5/2022).

Sejarah Hari Ini (7 Juni 1928) - Teleskop Zeiss Observatorium Bosscha Siap Dicoba

Bosscha memang telah mencintai Priangan sejak menginjakan kaki pertama kalinya pada tahun 1887. Pemuda 22 tahun itu awalnya bekerja untuk pamannya Edward Julius Kerkhoven, di Sukabumi, Jawa Barat.

Hanya butuh waktu kurang dari sembilan tahun, pria kelahiran 15 Mei 1865 itu bisa mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dia kemudian sukses mendirikan dua pabrik teh yang menjadikan hasil perkebunannya bersaing di luar negeri.

Dari hasil perkebunan inilah saudagar asal Belanda itu turut menyumbang ke berbagai yayasan, termasuk mendanai pembangunan Technische Hogeschool Bandung (ITB), Societeit Concordia (Gedung Merdeka), Sekolah Luar Biasa Cicendo dan yang paling dikenal luas, Observatorium Peneropongan Bintang Bosscha.

Bosscha tidak cuma mengedepankan bisnis semata ketika pertama kali membuka perkebunan teh ini. Selain sukses mengembangkan Malabar jadi penghasil teh nomor satu di dunia, dia juga memberikan banyak bantuan kepada warga Priangan.

Hal inilah yang membuat nama Bosscha terkenal sebagai sosok tuan teh dermawan yang baik bagi banyak warga pribumi. Sehingga jejak Bosscha masih banyak terekam, salah satunya dari rumahnya.

Jelajah rumah Bosscha

Rumah peristirahatan itu mengadopsi arsitektur Eropa yang ditandai oleh cerobong asap dari tungku kayu bakar di ruang tengah. Rumah itu terdiri dari beberapa kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, bar, dapur, dan ruang bawah tanah.

Bangunan ini didominasi dengan material kayu dan batu alam berwarna hitam yang bisa terlihat di dinding luar. Sementara itu rumah dikelilingi tanaman besar dan kecil yang menambah keasrian bangunan berbentuk persegi itu.

Di dalam rumah ini juga masih terpampang foto hitam-putih yang berada di atas dinding menuju ruang tengah, pada foto itu terdapat seorang pria bertubuh gemuk, berkumis dengan senyum simpul, dialah Bosscha.

Pengelola rumah sangat memperhatikan isi ruangan. Sejumlah properti dari abad 18 dan 19 masih terawat dengan baik. Mulai dari sofa antik, meja makan, kursi kayu, serta lampu yang selaras dengan suasana zaman dahulu.

Tentunya yang tidak kalah penting, adalah piano Zeitter & Winkelmann buatan 1837. Piano itu masih nyaring bergema ke seluruh ruangan, walau nadanya agak sumbang. Maklum, piano ini memang sudah tua.

“Peralatan dan furniture di sana masih asli dan kita bisa melihat perjalanan hidup Bosscha sampai meninggal dunia. Makamnya pun tidak jauh dari Rumah Bosscha masih ada dan masih terjaga hingga sekarang,” imbuh Alam.

Mengenang Petualangan Sherina: Bosscha Lebih Dalam

Meski berdekatan dengan makam, Alam memastikan bahwa kawasan tersebut tidak seseram yang dibayangkan. Bahkan, jelasnya, pengunjung akan dimanjakan dengan suasana Eropa masa silam yang kental dan udara sejuk di tengah perkebunan teh.

Ujang, salah seorang staf keamanan Rumah Bosscha menuturkan, atap rumah tersebut pernah roboh karena kejadian gempa beberapa tahun lalu. Meski begitu, bagian bangunan tidak mengalami kerusakan berarti.

Bangunan satu lantai dan beratap rendah ini juga memiliki satu bagian yang teramat penting, yakni ruang bawah tanah. Namun, fungsinya saat ini hanya digunakan untuk menyimpan barang.

“Dulunya masih berfungsi sebagai tempat evakuasi gempa. Sekarang tempatnya dipakai menyimpan beberapa barang yang sudah tak terpakai,” kata Ujang yang dinukil dari Liputan6.

Kini tepat di belakang rumah terdapat Wisma Malabar (The Malabar Cottage) yang dikelola oleh PTPN VIII. Tempat ini memang telah menjadi lokasi wisata, bagi masyarakat yang ingin menikmati udara sejuk, sekaligus belajar sejarah.

Menjadi tempat wisata

Rumah Bosscha dinyatakan sebagai cagar budaya tingkat Provinsi Jabar dan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Cagar Budaya dan terdaftar pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jabar.

Rumah itu kini difungsikan sebagai salah satu objek wisata dalam paket Bosscha Heritage yang mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1990 an. Dengan paket tersebut, wisatawan bisa mengunjungi rumah, makam Bosscha, serta Gunung Nini.

Gunung Nini sebenarnya adalah bukit. Menurut Ujang, Bosscha sangat menyukai tempat itu untuk mengamati kegiatan perkebunannya. Bila kabut tidak menghalangi, dirinya bisa memantau segala aktivitas di kebunnya yang luas itu.

Biasanya pada akhir pekan, banyak wisatawan yang menginap terutama dari luar kota. Bahkan ada juga wisatawan asing. khususnya dari Belanda dan Belgia yang kerap berziarah ke tempat itu mengenang jasa Bosscha atau sekadar minum teh.

Semasa kejayaan Perkebunan Teh Malabar, memang ada salah satu produk unggulan yang dihasilkankan yakni jenis teh hitam. Produk ini melalui proses oksidasi sempurna, sehingga menghasilkan rasa dan warna yang khas.

Beberapa produk teh yang dihasilkan Pabrik Teh Malabar kini memang dapat dijumpai di beberapa negara Eropa. Namun, bila berkunjung ke Malabar, ada juga produk teh hitam yang bisa dibeli langsung, yakni cap Goalpara dan Gunung Mas.

Destinasi wisata sejarah yang dikelola oleh Agrowisata N8 ini juga kerap menerima pejabat pemerintah. Namun terdapat dua buah kamar khusus Bosscha yang tidak disewakan untuk umum, hanya untuk tamu khusus seperti pejabat, menteri, dan lain-lain.

GNFInsights: Observatorium Bosscha

Pengunjung memang bisa menginap di sekitar objek wisata tersebut. Hal ini karena terdapat dua unit wisma/villa, tujuh unit rumah kayu, dan sembilan kamar standar yang bisa dipilih oleh pada wisatawan.

Sewanya mulai dari Rp325 ribu (awal hingga tengah pekan) dan Rp475 ribu (pada akhir pekan). Di kawasan itu juga tersedia lapangan yang bisa digunakan untuk aktivitas luar ruang bagi wisatawan.

Tentunya karena masih dalam suasana pandemi, pihak pengelola akan menerapkan protokol kesehatan dengan baik di semua lokasi wisata. Tentu ini akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini