Mooi Indie: Keindahan Alam Hindia Belanda yang Menjadi Aliran Seni Lukis

Mooi Indie: Keindahan Alam Hindia Belanda yang Menjadi Aliran Seni Lukis
info gambar utama

Mooi Indie merupakan aliran seni lukis yang berkembang pada abad 19 hingga awal abad 20 di Hindia Belanda. Saat itu, para seniman Belanda dan Eropa hanya melukis lukisan yang menggambarkan keindahan alam Hindia Belanda.

Mooi Indie dalam bahasa Indonesia berarti Hindia Elok, Hindia Jelita, atau Hindia Molek. Lahirnya aliran lukisan ini berawal dari para orang Eropa khususnya Belanda datang ke tanah jajahan dengan aliran lukisan Romantisme.

Disadur dari Sudut Kantin, kemunculan Mooi Indie merupakan imbas dari kolonialisme di Hindia Belanda saat itu. Pihak kolonial membawa pelukis-pelukis Eropa untuk ditugaskan melukis kehidupan bumiputra.

“Bentang alam serta kegiatan masyarakat sehari-hari adalah idiom favorit mereka,” tulis Ahmad Sulton dalam Perjalanan Mooi Indie dari Berbagai Generasi dan Subversinya Masa Kini.

Menurut Ahmad, kebiasaan memilih subjek lukisan sedemikian rupa itu kemudian membantu penelitian pihak kolonial untuk mengetahui lebih dalam kehidupan sebuah bangsa yang ditengah dijajahnya.

Melihat Sisi Soekarno yang Mencintai Dunia Lukisan

Ekonomi liberal yang dijalankan oleh kolonialisme juga turut mendorong popularitas aliran tersebut. Ketika itu kaum liberal menuntut pemerintah kolonial menyerahkan kuasa ekonomi ke tangan-tangan swasta.

Agar menarik minat para pemodal Eropa untuk menanam saham, maupun sekadar rekreasi di Hindia Belanda. Maka pihak swasta ini membutuhkan media promosi. Dalam kepentingan seperti itulah lukisan Mooi Indie turut bekerja sebagai media propaganda

Lukisan Mooi Indie pada masa itu, selain sebagai kepentingan estetika, dijelaskan oleh Ahmad juga digunakan sebagai media promosi paling mutakhir. Hal ini karena aliran ini mengusung naturalisme dengan gaya realistik.

Lukisan ini memudahkan pesan eksotis kepada masyarakat Eropa. Sehingga kemudian merayu mereka untuk bertandang ke alam Hindia Belanda, ataupun hanya sekadar mengoleksi karya lukis Mooi Indie.

Ahmad berpendapat kondisi sosial-ekonomi di Hindia Belanda seperti itulah yang mengakibatkan lukisan Mooi Indie mendapatkan banyak peminatnya. Gaya lukisan ini juga menandai kelahiran lukisan modern di Indonesia.

Tetapi pada masa selanjutnya, aliran lukisan ini mulai dipinggirkan dalam kancah budaya Indonesia. Hal ini karena para seniman menilai aliran ini tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang berusaha mencabut panji kolonialisme.

“Perang dan kelaparan sebagai realitas masyarakat Indonesia begitu kontras dengan Mooi Indie yang penuh keindahan alam tanpa bopeng,” sindirnya.

Awal mula Mooi Indie

Aliran lukis Romantisme masuk ke Hindia Belanda melalui seorang pelukis dan juga pembuat litografi bernama Antoine Auguste Joseph Payen. Dia merupakan pelukis lulusan arsitek B. Renard di Doomik Belgia.

Dirinya datang ke Hindia Belanda pada tahun 1817, dan tinggal di Bogor. Di setiap kawasan yang dikunjunginya, Payen selalu menghasilkan lukisan yang mengabadikan tempat-tempat atau peristiwa yang dianggapnya indah dan menarik.

“Payen kemudian memegang peran penting dalam kelahiran Mooi Indie, sebuah lukisan alam yang bersuasana teduh, tenang, indah dan jauh dari gejolak. Penggambaran keindahan Hindia yang molek,” tulis Arif Abdurahman yang berjudul Dari Romantisme Terbit Mooi Indie yang dimuat Medium.

Menurutnya pelukis yang beraliran Mooi Indie dapat terbagi menjadi empat kelompok besar, yakni yang pertama adalah orang asing yang datang dari luar negeri dan jatuh cinta pada keindahan Hindia Belanda, seperti F..J du Chattel, Manus Bauer, atau Carel Dake.

Kemudian ada juga orang Belanda kelahiran Hindia Belanda, misalnya Henry van Velthuijzen, Charles Sayers, atau Ernest Dezente. Ada juga orang pribumi yang berbakat melukis seperti, Raden Saleh, Basuki Abdullah.

Selanjutnya adalah orang Tionghoa yang mulai muncul pada dasawarsa ketiga abad ke 20, khususnya Lee Man Fong, Oei Tiang Oen dan Biau Tik Kwie. Para pelukis ini terus menguasai gaya aliran lukisan hingga dasawarsa abad ke 20.

Banyaknya narasi bentang alam yang terekam dalam visual Mooi Indie pada masa lampau memberikan hal baru. Gambaran riil atas kondisi alam Indonesia di masa silam mampu memberikan perbandingan dengan keadaan alam Indonesia pada saat ini.

Museum Seni Rupa dan Keramik dengan Wajah Barunya

Berfungsinya lukisan Mooi Indie dalam hal tersebut disebabkan sifatnya seperti fotografi, seperti dalam lukisan Basuki Abdullah berjudul Gunung Merapi dan Kali Opak (1935-1933). Lukisan ini menampilkan Gunung Merapi sekaligus alam sekitarnya pada masa silam.

Di masa Mooi Indie, lukisan yang diproduksi juga tidak selalu tentang bentang alam, melainkan gambaran kehidupan masyarakat. Ambil contoh lukisan Raden Saleh berjudul Potret Pasangan Jawa (1857).

Lukisan tersebut menampilkan ciri manusia Jawa di masa lampau. Di dalamnya terlihat bagaimana cara berpakaian, juga pakaian seperti apa yang dikenakan oleh masyarakat pada masa itu.

Kehadiran Mooi Indie, memang mengandung pengetahuan masa kini, walau tak pernah disadari. Namun berbagai pergerakan sejarah membuatnya pernah absen dalam ruang aliran seni lukis Indonesia.

Dikritik tetapi disayang

Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portofolio di Amsterdam tahun 1930.

Namun istilah Mooi Indie itu kemudian menjadi populer di Hindia Belanda semenjak S Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939.

“Sudjojono mengkritisi soal lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, padahal itu tak menggambarkan realitas yang sebenarnya,” jelas Arif.

Kemunculan aliran Realisme Jiwa Ketok pada 1930 yang dipelopori Sudjojono memperkuat pengecaman terhadap Mooi Indie beserta para seniman yang masih menggunakan gaya melukis tersebut.

Kredo tersebut menekankan realisme sejati adalah kebenaran yang dilandasi dengan jiwa. Sebab tanpa itu, realisme hanya akan menjadi material tanpa kebatinan. Karena itu, bagi Sudjojono, Mooi Indie hanya berperan sebagai katalis ekonomi liberal.

Bagi Sudjojono, kesenian atau lebih khususnya seni lukis seharusnya tidak terpisah dari realitas kehidupan masyarakat sekitarnya. Karena itu sebagai bentuk perlawanan, Sudjojono mendirikan Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1937.

Lukisan Raden Saleh Ini Berharga Ratusan Milyar

Dia tetap memegang pandangan realisme ini setelah Persagi bubar, serta kemudian saat dirinya terlibat dalam Perkumpulan Seniman Indonesia Muda dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Namun setelah mengucapkan selamat tinggal pada dunia politik, Sudjojono rupanya meninggalkan pula realisme. Setidaknya, dirinya tidak lagi menganggapnya sebagai satu-satunya aliran seni yang dianutnya.

Sejarawan Onghokham dalam Hindia yang Dibekukan: Mooi Indie dalam Seni Rupa dan Ilmu Sosial yang dimuat Historia menyebut Sudjojono akhirnya juga melukis Mooi Indie karena ternyata mazhab ini sangat kuat berakar di masyarakat.

Kedekatan Mooi Indie dengan kehidupan masyarakat Indonesia, membuatnya sangat kuat berakar di dalam masyarakat dan masih dihidupi hingga saat ini. Dan boleh jadi, objek lukisan Mooi Indie kali ini adalah gedung, aspal, dan hamparan sawah beton.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini