Menguak Klaim Salakanagara sebagai Kerajaan Tertua di Nusantara

Menguak Klaim Salakanagara sebagai Kerajaan Tertua di Nusantara
info gambar utama

Salakanagara diyakini sebagian masyarakat merupakan kerajaan tertua dan pertama di Nusantara. Bila dilihat dari dugaan waktu berdirinya, Salakanagara yang sudah eksis sejak abad ke 2 M, jelas lebih tua ketimbang Kutai yang baru muncul pada abad ke 4 M.

Walau begitu, kerajaan ini cukup misterius karena terbatasnya sumber sejarah. Munculnya nama Salakanagara berdasarkan adanya bukti beberapa arca dan naskah Wangsakerta, sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari Cirebon.

Selain itu Claudius Ptolemaeus melalui bukunya yang dipublikasikan sekitar tahun 150, Geographia menggambarkan adanya kawasan yang berada sangat jauh timur dari Yunani. Dirinya menyebut kawasan itu sebagai Argyre, atau negeri besi.

Dalam buku itu, Argyre tidak jauh dari semenanjung Malaya dan kawasan yang bernama Barus di Sumatra. Banyak dari para sejarawan mencari tahu keberadaan negeri yang dimaksud, dan menemukan kerajaan tertua di Nusantara: Salakanagara.

Ahmad Darsa, peneliti peninggalan kuno dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Undang menulis makalah Kropak 406; Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan tahun 2014.

“Ptolemeus bisa jadi sempat mengunjungi Salakanagara,” tulisnya di Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga yang dimuat National Geographic.

Kisah Celengan dari Kerajaan Majapahit

Tertulis dalam naskah Wangsakerta, Salakanagara memiliki raja pertama Dewawarman yang berasal dari India dan menjadi duta India di Pulau Jawa. Dia kemudian menikahi Pwahaci Larasati, putri kepala daerah setempat, Aki Tirem atau Sang Aki Luhurmulya.

“Ternyata, Aki Tirem leluhurnya berasal dari “seberang”, yaitu Suwarnabhumi (Sumatra), sedangkan nenek moyangnya berasal dari India,” tulis arkeolog Universitas Indonesia, Ayatrohaedi

Setelah menjadi menantu Aki Tirem, Dewawarman memiliki nama penopatan Dharmalikapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Dari pernikahan dengan Pwahaci Larasit lahir beberapa anak salah satunya Dewawarman II.

Dewawarman I ini berkuasa selama 38 tahun (130-168 M) selanjutnya pada masa kekuasaan Dewawarman VIII berkuasa pada 340-363 Masehi. Di masa pemerintahan ini keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa.

Tetapi setelah masa pemerintahannya Kerajaan Salakanagara akhirnya tamat karena dikuasai oleh Kerajaan Tarumanegara. Pusat kekuasaannya pun pindah ke Jayasinghapura yang sudah menjadi kota besar.

Nenek moyang Sunda dan Betawi?

Lokasi yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Salakanagara juga masih belum pasti. Ada tiga versi terkait perkiraan di mana pemerintah Salakanagara dijalankan, yakni di Pandeglang (Banten), Condet (Jakarta), atau di lereng Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat.

Dimuat di Tirto, versi pertama, ibukota Salakanagara berada di Teluk Lada, Pandeglang, Banten, versi ini diambil dari naskah Wangsakerta yang menyebut pusat Kerajaan Salakanagara bernama Rajatpura yang diyakini merupakan kota paling tua di Pulau Jawa.

Rajatpura menjadi pusat pemerintahan Raja Dewawarman I hingga era Raja Dewawarman VIII, hingga menjadi bawahan dari Tarumanegara. Menariknya, Salakanagara pernah dua kali dipimpin oleh ratu.

Namun ada yang meragukan atas kebenaran versi pertama ini, yakni Pandeglang tidak memiliki pelabuhan besar yang menjadi bandar dagang, melainkan hanya memiliki pelabuhan nelayan biasa.

Sedangkan salah simbol kejayaan Salakanagara adalah dari sektor ekonomi dengan bukti, misalnya, kerajaan ini telah menjalin relasi dagang dengan Dinasti Han di China. Hal yang diklaim terdapat dalam naskah-naskah pedagang Tionghoa

Dari situlah kemudian muncul versi kedua yang menyakini bahwa ibukota Salakanagara bukan berada di Pandeglang, melainkan di suatu tempat bernama Ciondet (Condet) yang kini terletak di wilayah Jakarta Timur.

Ciondet alias Condet yang berada tidak jauh dari bandar niaga besar bernama Sunda Kelapa, hanya sekitar 30 kilometer ke arah utara. Pelabuhan ini pada masanya dikenal sebagai pusat perdagangan paling ramai di Nusantara.

Mengenal Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Di kawasan ini juga mengalir Sungai Tiram yang kemudian menjadi salah satu dasar untuk meyakini bahwa Salakanagara bukan berada di Banten, melainkan di Jakarta. “Tiram” dipercaya berasal dari Aki Tirem yang tidak lain mertua Dewawarman.

Adapun menurut versi ketiga, Salakanagara dibangun di lereng Gunung Salak, Bogor. Disebutkan, di suatu bagian di kaki Gunung Salak sering terlihat keperak-perakkan ketika diterpa sinar matahari.

Dari situlah lalu dikait-kaitkan dengan arti Salakanagara, yakni “Negara Perak”. Ditambah lagi, penyebutan “Salaka” dengan “Salak” hampir mirip. Selain itu, pada perkembangan nanti lereng Gunung Salak juga menjadi tempat berdirinya kerajaan-kerajaan Sunda lainnya.

Dengan cangkupan wilayahnya, penduduk mayoritas Salakanagara adalah mereka yang kemudian dikenal sebagai orang Sunda. Bila mengacu pada versi kedua, orang-orang yang datang ke Sunda Kelapa kemudian beranak-pinak akhirnya menurunkan kaum Betawi.

Masih kontroversi

Pangeran Wangsakerta dari Kesultanan Cirebon menyusun naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dalam 26 jilid pada sekitar 1677 dan 1698. Dalam naskah itu menyebut Kudungga dan Aswawarman sebagai raja Kutai pada masa lalu.

Aswawarman yang namanya berunsur bahasa Sansekerta disebutkan berasal dari Salakanagara. Naskah itu juga menyebut beberapa nama kerajaan sebelum Tarumanegara, seperti Salakanagara, Jayasinghapura, Agrabinta, dan Hujungkulwan.

Ayatrohaedi memperkirakan beberapa nama pada lokasi sekarang, seperti Agrabinta adalah kerajaan kecil di Cianjur Selatan yang terdapat nama daerah serupa, dan Jayasinghapura adalah Jasinga di Kabupaten Bogor.

Terdapat berbagai titik temu antara naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dengan ragam prasasti peninggalan Tarumanegara. Prasasti Tugu memuat banyak informasi nama dan gelar raja-raja Tarumanegara awal, meski tak bertanggal.

Para ahli memperkirakan prasasti itu berasal dari abad ke 5, yang juga tidak bertentangan dengan penanggalan naskah. Dan bila naskah itu dipercaya. banyak sejarah masa lampau di Indonesia yang perlu dirombak.

“Karena berita naskah itu berbeda dengan pandangan tafsiran kita selama ini,” ucapnya.

Kisah Sedekah 1.000 Ekor Sapi Raja Purnawarman untuk Cegah Banjir

Namun yang menjadi persoalan, naskah Wangsakerta sendiri masih menjadi kontroversi. Naskah yang digarap oleh semacam panitia riset dari Kesultanan Cirebon ini konon disusun selama 21 tahun dan selesai pada 1698.

Panitia ini terdiri dari lima penasehat agama Islam, dari Arab, Siwa dari India, Wisnu dari Jawa Timur, Buddha dari Jawa Tengah, dan Konghucu dari Semarang. Ada pula para pelaksana di bawah mereka yang terdiri tujuh orang jaksa pepitu, Cirebon.

Para panitia ini berhasil memustakaan 1.700 naskah, lengkap dengan semua jilidnya, seperti Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dan salinan kitab-kitab hukum Majapahit yang paling banyak adalah rangkaian carita, katha, dan itihasa dengan 286 jilid.

Meskipun penemuan naskah ini sangat disyukuri karena terbilang lengkap, tetapi tidak sedikit kalangan sejarawan yang meragukan keasliannya. Lantaran isinya yang begitu detail dan rinci menceritakan sejarah Nusantara, dari peradaban purba hingga Kerajaan Islam.

Tetapi terlepas berbagai kontroversi dan perdebatan itu, jejak-jejak Kerajaan Salakanagara sudah bisa sedikit diungkap. Meskipun label kerajaan pertama di Nusantara masih belum menyakinkan semua kalangan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini