Rempah di Balik Ritual Pengobatan Tradisional di Sulawesi Selatan

Rempah di Balik Ritual Pengobatan Tradisional di Sulawesi Selatan
info gambar utama

Menilik kehadiran rempah dalam praktik pengobatan tradisional tentu hal yang menarik. Karena secara umum rempah yang digunakan merupakan bahan yang biasa dipakai untuk kebutuhan dapur.

Di sisi lain, rempah mempunyai fungsi lain sebagai campuran bahan ramuan pengobatan. Pemanfaatan ini bukan hal baru, karena sejak zaman dahulu rempah telah lama digunakan untuk pengobatan.

Salah satu catatannya adalah temuan arkeolog di situs Mesopotamia mendapati jambangan berisi cengkih yang disinyalir sudah ada sejak tahun 1721 Masehi. Ritus pengobatan tradisional ini juga masih terjaga di wilayah Indonesia.

Pengobatan tradisional dengan merujuk praktik di luar pengobatan medis modern masih berlangsung hingga kini dan banyak dijumpai di pedesaan. Salah satunya bisa ditemukan di Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Sanro, merupakan sebutan bagi pelaku pengobat tradisional yang menjadi tempat untuk warga mencari pengobatan. Sebutan sanro ini sangat umum walau memiliki spesifikasi pengobatan berbeda.

Sebagai contoh sanro pammana (menangani persalinan) atau sanro pangnguru (melakukan pengobatan dengan pengurutan). Penamaan tersebut berdasarkan keahlian pengobatan yang dijalankan.

Mi Arang, Boga Khas Aceh yang Harum Lagi Nikmat

“Meski demikian, tidak semua sanro memakai media pengobatan yang mengandung unsur rempah,” tulis F Daus AR dalam Rempah dalam Praktik Pengobatan Tradisional Sulawesi Selatan: Tuturan Dua Sanro di Pangkajene dan Kepulauan.

Daus dalam penelitiannya menemukan dua sanro yakni Rosdiana atau akrab disapa Daeng Caddi (58 tahun) dan Hj, Badaria (73 tahun) yang masih menggunakan sejumlah rempah dalam media pengobatannya.

Menurutnya kedua sanro ini memiliki spesifikasi pengobatan penyakit dalam, namun uniknya medianya berbeda. Hal yang sama dari keduanya adalah ilmu pengobatan ini didapatkan dari warisan leluhur.

Daus berpendapat, bila ditelusuri memang terjadi kesamaan legitimasi pewarisan pengobatan tradisi yang dialami para sanro. Pertama pewarisan terjadi karena kekerabatan keluarga, kedua legitimasi sosial, ketiga terjadi peristiwa mistik yang dialami.

“Lambat laun, pengalaman tersebut disadari oleh keduanya bahwa itu adalah pilihan untuk mengabdikan diri di masyarakat dalam membantu proses penyembuhan,” tulisnya.

Rempah di balik minyak urut

Ditemukan oleh Daus dalam menjalankan praktik pengobatannya, Daeng Caddi selalu membuat ramuan minyak urutnya sendiri. Hal ini dilakukannya setelah warisan minyak dari neneknya sudah habis.

Daeng mengaku awalnya tidak mengetahui bahan-bahan rempah yang digunakan untuk minyak itu. Karena itu, dirinya berani memecahkan botol dan mengamati sisa ramuan yang ada, beruntung rempah yang terfermentasi tidak hancur sehingga bisa mengenalinya.

Dari hasil amatannya, dirinya mulai mengolah minyak urut. Bahan rempah yang dipakai berupa merica, bawang merah, cengkih, biji pala, dan kayu manis. Bahan lainnya ialah akar rumput gajah.

Setelahnya rempah ini digoreng dengan tingkat kematangan tertentu agar nantinya terfermentasi dengan baik, ketika dicampur dengan minyak zaitun, minyak kelapa, dan minyak kayu putih.

“Minyak urut itulah yang digunakan Daeng Caddi dalam melakukan praktik pengobatan di rumahnya. Pasien datang dari warga sekitar dan dari luar kampung,” bebernya.

Jalur Rempah Nusantara Ada di Pulau Seram

Sedangkan Hj Badaria meski spesifikasi pengobatan yang dijalankan sama, dirinya menggunakan media pengobatan berupa bedak basah dan ramuan minuman untuk pasien yang mengalami bingkasa.

Namun, dirinya menyebut tidak semua pasien harus diobati dengan dua media tersebut. Ada kalanya, kata Badaria, hanya bedak basah saja yang digunakan, karena kondisi bingkasa pada pasien belumlah parah.

Paket media pengobatan bedak basah dengan ramuan minuman hanya untuk pasien yang mengalami bingkasa sudah parah. Pasien akan dibekali bedak basah yang harus dibalurkan ke sekujur tubuh, dianjurkan dilakukan di pagi dan sore hari.

Sedangkan ramuan minuman dianjurkan diminum pada pagi hari atau jika pasien merasa kondisi tubuhnya sangat lemah, maka ramuan minuman itu bisa disiapkan sebanyak yang dibutuhkan dan dijadikan pengganti air minum.

Dicatat Daus, pembuatan bedak basah masih menggunakan sejumlah rempah, seperti biji pala, merica, wijen, kunyit, bawang merah, bawang putih, dan panili (vanili). Sedangkan ramuan minuman terdapat komposisi kayu sepan, kayu manis, akar serai, dan jintan hitam.

“Proses menemukan rempah-rempah tersebut didapatkan dengan membeli di pasar. Namun, ada juga rempah yang tergolong sulit ditemukan seperti kayu sepan sehingga perlu memesan melalui jaringan keluarga yang memiliki akses mendapatkannya kayu tersebut,” jelas Daus.

Kemuliaan rempah dalam ritual pengobatan

Daeng menunjukan tempat membeli rempah yang tak jauh dari rumahnya. Bila di toko kelontong dekat rumahnya itu kehabisan stok, barulah dirinya datang ke pasar. Selanjutnya di tangannya rempah itu menjadi senyawa yang menghubungkan pijatannya ke pasien.

Daus mengaku sekali waktu pernah membawa anaknya yang berusia tiga tahun karena mengeluh perutnya sakit. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, Daeng mengungkapkan jika anaknya mengalami pergeseran organ di balik tembuni.

“Dalam istilah Makassar disebut simula jaji,” tuturnya.

Karena itulah, Daeng melakukan pengurutan di bagian perut dan mengembalikan posisi isi organ yang bergeser ke tempat semulanya. Dia mensinyalir kalau anak-anak lazim mengalami hal demikian dikarenakan aktif bergerak dalam bermain.

Dari pengalamannya ini, Daus menyebut pengobatan tradisional merupakan suatu wujud pencapaian kebudayaan yang tumbuh dalam masyarakat. Akan terjalin kesakralan yang tak terpisahkan sebagai sugesti penyembuhan yang dihadirkan sanro untuk pasien.

Daus yang mengutip Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin menemukan bahwa tabib rakyat di Asia Tenggara mengobati penyakit pada jiwa sebanyak mengobati penyakit pada tubuh.

Kaya Akan Rempah Sejak Dulu, Indonesia Jadi Produsen Kayu Manis Terbesar di Dunia

Dalam penelitian panjang Reid, disimpulkan bahwa masyarakat Asia Tenggara bila menjaga kesehatan berhubungan dengan daya hidup manusia. Sehingga pengobatan yang dilakukan bersifat magis.

Daus menyebut beberapa perilaku ritus yang dimaksud untuk memperkuat daya hidup atau untuk melindunginya dari bahaya atau gangguan roh-roh yang kuat. Boleh jadi, lanjutnya, menyertai setiap tindakan pengobatan, termasuk untuk retak kecil pada tulang.

“Dalam hal gangguan jiwa atau wabah, keseluruhan penyembuhan menjadi upacara ritus,” paparnya.

Karena itulah ritus penyembuhan ini masih diterapkan oleh Hj Badaria. Di awal prosesnya dia sudah menyampaikan ke pasien mengenai syarat khusus yang harus dipenuhi oleh pasien, setelah sembuh juga dianjurkan kembali menyampaikan ke sanro.

Proses akhir dari pengobatan ini, Hj Badaria akan membuat penganan tradisi berupa sokko dan palopo yang kemudian didoakan oleh pemuka agama setempat. Sedangkan Daeng Caddi hanya menganjurkan pasiennya membawa pisang untuk dilakukan hal serupa.

Proses ini diutarakan keduanya harus dilakukan, karena bila tidak, sanro yang akan mengalami gangguan eksternal seperti peristiwa magis sampai mengalami sakit. Komposisi rempah yang digunakan juga harus lengkap, bila tidak ritual akan ditunda.

Bagi Hj Badaria, keseluruhan komposisi rempah dalam proses pengobatan tidak bisa digantikan. Karena itulah praktik pengobatan tradisi mengandung pula aspek pencapaian peradaban dalam menyembuhkan dan merawat kesehatan umat manusia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini