Melestarikan Keragaman Bangsa, Mencintai Keagungan Tuhan

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Melestarikan Keragaman Bangsa, Mencintai Keagungan Tuhan
info gambar utama

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui”. (Al Quran surat Ar Rum ayat 22)

Substansi dari firman Allah SWT diatas adalah bahwa keragamaan yang ada dimuka bumi ini adalah tanda-tanda keagungan dan kekuasaan Allah.

Almarhum Prof. Nurcholis Madjid pernah mengatakan bahwa mencintai dan mengagungkan Allah itu bisa lewat mencintai keagungan ciptaan Allah salah satunya bahasa dan warna kulit semua bangsa-bangsa di dunia ini.

Bagi kita di Indonesia, keagungan ciptaan Allah yang beragam itu dengan kasat mata kita saksikan dan kita alami sehari-hari selain beragamnya sumber daya alam kita, pun juga bahasa.

Masyarakat dunia mengetahui bahwa Indonesia ini memiliki ratusan suku dan ratusan bahasa daerah selain bahasa nasional Indonesia. Dan sangat mengagumkan keragaman bahasa daerah karena dalam wilayah yang berdekatan saja kita saksikan keragaman.

Contohnya banyak sekali yang ada di berbagai daerah dan suku kita, namun di tulisan ini saya ambil contoh daerah saya Jawa Timur saja.

Saya asli Surabaya yang berbahasa daerah “straight forward”, langsung tanpa ada nya social hierarchy atau tingkatan sosial, ketika kita menuju tetangga dekatnya Sidoarjo yang hanya berjarak 25 km, karakter bahasanya sama tapi ada istilah yang berbeda.

Terus menuju keselatan ke wilayah Malang dan sekitarnya bahasa daerahnya sama dengan yang di Surabaya tapi intonasinya sudah berbeda, di Malang kita saksikan ada tambahan huruf “a” dibelakang suatu kata tanya misalnya “Iyo” (= Ya) menjadi “Iyoaa”.

Menjuju daeah selatan barat yaitu daerah Mataraman kita saksikan pemakaian bahasa daerah yang lebih halus; bahkan di daerah Mataraman ini kita bisa melihat perbedaan bahasa, misalkan di beberapa kabupaten di daerah ini orang mengatakan “Durung” (= belum) itu dengan kata “Gung”.

Di daerah Madura, di Kabupaten yang bertetangga orang mengatakan “Tidak” itu dengan kata “Tak” sementara tetangga daerahnya mengatakan “Lok”.

Di atas itu tentang bahasa yang beragam, kita juga meyaksikan kekayaan jenis makanan yang sama tapi berbeda-beda disatu tempat dan tempat lainnya. Misalkan sama-sama makanan Pecel, namun ada Pecel Madiun, Pecel Blitar, Pecel Ponorogo, Pecel Kediri.

Makanan khas Surabaya Rawon juga berbeda di beberapa kota diluar Surabaya. Sementara soto Madura hanya kita temui di kota Surabaya dan tidak di pulau Madura sendiri.

Itu semua contohnya di daerah Jawa Timur saja, di tetangga propinsi Jatim yaitu Jawa Tengah kita jumpai perbedaan bahasa daerah. Meskipun sama-sama bahasa Jawa yang halus namun istilah dan intonasinya beraga, bahasa Jawa Solo intonasinya berbeda dengan bahasa Jawa Yogyakarta.

Demikian juga soal keragaman makanannya. Belum lagi provinsi-provinsi lain di Nusantara ini kita temui kekayaan keragaman bangsa ini baik dari segi biodiversitas, bahasa, maupun makanannya.

Di luar negeri pun kita juga menyaksikan ciptaan Allah berupa keragaman bahasa itu, misalkan sesama bahasa Inggris pun diucapkan berbeda-beda, seperti di Inggris, Amerika, Kanada, Australia, Afika Selatan, Singapura, Malaysia, dsb.

Bahkan di Inggris pun sangat mencolok perbedaan itu. Di London ada aksen yang disebut Cockney, lalu pindah ke wilayah lain kita jumpai bahasa Inggris khas Wales, Skotlandia, dan Irlandia.

Kalau kita menyitir pendapat Prof. Nurcholis Madjid di atas, maka itu bermakna bahwa apabila kita ingin mencintai Allah maka kita harus mencintai keagungan ciptaan-Nya, antara lain keragamaan yang ada di tanah air ini, sehingga mencintai tanah air dan melestarikan keragamannya itu juga berarti kita mencintai Tuhan Yang Maha Esa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini