Gelar Pameran Tunggal, Agus Suwage Sentil Dunia Sosial dan Politik

Gelar Pameran Tunggal, Agus Suwage Sentil Dunia Sosial dan Politik
info gambar utama

Museum MACAN kembali menyapa pecinta karya seni dalam waktu dengan. Kali ini, galeri seni ini akan berkolaborasi dengan perupa kondang bernama Agus Suwage. Pameran survei berfokus pada perjalanan artistik Agus selama lebih dari 30 tahun.

Lebih dari 80 karya seni mulai dari karya seni instalasi, patung, lukisan, dan gambar dipamerkan. Agus menyebut karya-karya dalam pameran terbaru ini terasa seperti nostalgia bagi sosok kelahiran Yogyakarta tersebut.

Pada konferensi pers Agus Suwage: The Theater of Me pada, Kamis (2/6/2022), dan bertempat di Museum MACAN, Direktur Museum MACAN, Aaron Seeto mengatakan terpilihnya Agus Suwage karena pengaruhnya di dunia seni Tanah Air.

“Pengaruhnya sebagai seorang perupa dapat terlihat dalam keterampilan teknis dan kemampuan melukisnya, serta bagaimana dia dapat menyampaikan harapan dan ketakutan dari generasi yang terseret arus momentum perubahan politik dan sosial menjelang Reformasi,” kata Aaron di Museum MACAN, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Pameran tunggal Agus Suwage: The Theater of Me adalah upaya penting dari Museum MACAN untuk memastikan bahwa perupa terkemuka Indonesia memiliki kesempatan karyanya pada masyarakat umum.

Ketika Kertas Karbon Masuk ke Ruang Kreasi Seni

Aaron menyebut pendekatan Museum MACAN memang dirancang untuk menjamin perupa penting, seperti Agus bisa lebih dikenal oleh generasi yang lebih muda, dan agar lebih menghargai peran seni terhadap sejarah dan masyarakat.

Agus menuturkan pameran tunggal yang disiapkannya sejak dua tahun lalu memang sempat tertunda akibat terkena imbas pandemi. Ketika eksibisi segera dibuka akhir pekan ini, dirinya pun bersyukur akhirnya dibuka untuk umum.

“Sejak awal ditawari oleh Museum MACAN, saya fokus pada pameran tunggal The Theater of Me dan menyiapkan karya-karya yang ada di studio pribadi. Ada yang perlu diperbaiki sampai dibuat ulang, ada juga yang harus dipoles. Sepanjang dua tahun, saya hanya ikut tiga pameran karena fokus di eksibisi ini,” katanya.

Pameran yang juga dikuratori oleh Aaron Seeto ini menampilkan sejumlah karya penting bersejarah yang dibuat pada pertengahan hingga akhir tahun 1990 an di Jakarta, pada masa perubahan politik dan sosial secara besar-besaran.

Ada seri potret diri atau self portrait yang menjadi rekaman sejarah pencapaiannya sebagai seorang pelukis. Serta karya-karya instalasi penting yang jarang dipamerkan untuk publik umum. Pameran ini akan dibuka pada 4 Juni hingga 15 Oktober 2022 di Museum Macan.

Pameran memorable

Agus mengisahkan lebih lanjut perihal karyanya yang sempat tertunda dipamerkan selama pandemi tersebut. Karya-karya dalam pameran terbaru Agus ini, agaknya terasa seperti nostalgia bagi sosok kelahiran Yogyakarta tersebut.

“Pameran ini semacam perjalanan, album, arsip karena sebagian besar adalah karya yang sudah tidak saya lihat. Merupakan pengalaman berharga bagi saya bertemu lagi dengan karya lama,” katanya.

Selain ada karya lama, ada pula karya baru yang dibuat oleh Agus untuk pameran ini. Karya itu berjudul Potret Diri dan Panggung Sandiwara (2019). Para pengunjung akan menemukan eksplorasi terhadap memori, ketakutan, keterasingan, mimpi, identitas manusia, dan humor.

Agus lahir di Purworejo, Yogyakarta, pada tahun 1959. Dirinya mempelajari seni lukis secara otodidak saat mengenyam pendidikan desain grafis di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hingga 1999, saat Orde Baru tumbang dan berganti Reformasi, dirinya tinggal di Jakarta.

Pameran "Sekarang Seterusnya" di Museum MACAN Tampilkan Pemaknaan Kondisi Pandemi

Uniknya, Agus semula adalah desainer grafis yang punya passion di bidang seni rupa. Setelah lulus, dia kemudian bekerja sebagai desainer grafis. Karena itulah, Jakarta adalah pilihan tepat untuknya.

“Walau jadi desainer grafis, saya masih menjalankan panggilan jiwa. Setelah beberapa kali ikut pameran, lambat laun memutuskan pindah ke Jogjakarta dan pindah jadi full time artist, tidak tergantung sama situasi yang tidak kondusif,” katanya.

Dia melihat langsung pergolakan politik dan sosial menjelang kerusuhan Mei 1998. Pengalaman ini menjadi sangat penting dalam perkembangannya sebagai seorang perupa yang terkenal.

Pengaruhnya sebagai seorang perupa terlihat dalam keterampilan teknis dan kemampuan melukisnya, serta bagaimana dia dapat menyampaikan harapan dan ketakutan dari generasi yang terseret arus momentum perubahan politik dan sosial menjelang Reformasi.

Karya Agus disebut lebih komplek melalui interogasi diri yang terus menerus, menyelidiki mitos dan simbol yang membingkai kerumitan hubungan manusia dan kekuasaan politik nasional, serta menguraikan pandangan ideal dan korupsi yang menyengsarakan.

“Isunya masih dapat dirasakan saat ini, masih relevan hingga hari ini,” tambah Aaron dalam sesi tanya jawab.

Inspirasi dalam karya

Seperti disampaikan sebelumnya, karya Agus banyak terinspirasi dari dunia sosial, politik, dan humanisme yang dilihatnya. Salah satu karya yang pernah dia ciptakan dan familiar bagi masyarakat adalah Dia Seperti Sedang Menuliskan Sesuatu.

Dalam karyanya itu, dia menggambarkan humor gelap dan satir, serta memunculkan filosofi pribadinya mengenai kritik diri sendiri. Bahwasannya, seseorang harus bisa mengkritik dirinya sendiri sebelum orang lain.

Di sudut lain, terdapat juga Monumen yang Menjaga Hankamnas. Dibuat dari seribu lebih botol bir, karya ini jadi parodi kekuasaan, kejayaan, dan eksistensi posisi individu yang terperangkap dalam mekanisme kekuasaan.

Museum Macan Tampilkan The Lost Jungle untuk Ruang Seni Anak Kenali Alam

Agus mengamati bagaimana toleransi, baik sebagai konsep dan praktik masih harus diperjuangkan meskipun sistem pemerintahan, baik sosial dan politik telah direformasi sejak tahun 1998.

Dalam pameran Agus ini juga terbuka untuk anak. Terdapat berbagai program publik dan pendidikan yang terintegrasi dengan aktivitas untuk anak. Tujuannya adalah agar seni dapat diakses oleh publik secara lebih luas.

Hal ini juga mendukung anak agar terlibat lebih jauh dengan karya seni yang dipamerkan. Museum MACAN berharap aktivitas ini dapat dilakukan di museum dan juga di rumah sehingga karya ini lebih dekat dengan anak-anak.

Program pendidikan akan mencakup aktivitas Melirik Lirik Orkes Tunggal, sebuah proyek menulis lirik, di mana anak-anak dari segala usia diajak untuk menulis lirik untuk lagu atau melodi yang diciptakan oleh Agus Suwage.

Aktivitas lain untuk anak-anak dirancang agar mereka bisa membuat dan menghias mainan dari material yang ada di rumah, Melalui sebuah panduan yang diinspirasi seri utama karya Agus Suwage berjudul Toys “S” US.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini