Wajib Nonton, Ini 4 Rekomendasi Film Indonesia Bertema Lingkungan Hidup

Wajib Nonton, Ini 4 Rekomendasi Film Indonesia Bertema Lingkungan Hidup
info gambar utama

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya dan merupakan perayaan 50 Konferensi Stockholm. Konferensi Stockholm tahun 1972 adalah konferensi tingkat dunia pertama yang membahas isu lingkungan.

Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia kembali diperingati dengan tema yang sama seperti 50 tahun lalu, yaitu “Only One Earth” atau “Satu Bumi untuk Masa Depan.” Pemilihan tema tersebut sekaligus mengajak seluruh masyarakat di dunia agar senantiasa hidup berkelanjutan dan harmonis dengan alam.

Selain berpartisipasi dalam berbagai kegiatan untuk pelestarian alam, Anda juga bisa memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan menonton film-film bertema lingkungan untuk menambah pengetahuan soal kondisi lingkungan di sekitar dan mempelajari isu-isu lingkungan dengan cara yang menyenangkan.

Berikut 4 rekomendasi film Indonesia yang bertemakan lingkungan hidup:

Semes7a (2020)

Film "Semes7a" merupakan karya rumah produksi Tanakhir Films yang diproduseri oleh Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin. Film ini mengisahkan tujuh orang dari tujuh provinsi di Indonesia yang tergerak untuk membuat perubahan bagi lingkungan, mengurangi dampak perubahan iklim, dan menjaga keseimbangan alam sesuai latar belakang agama dan kebudayaan dari tempat mereka berasal.

Tujuh sosok yang diangkat dalam film ini antara lain Tjokorda Raka Kerthyasa (Bali), Romo Marselus Hasan (Nusa Tenggara Timur), Muhammad Yusuf (Aceh), Agustinus Pius Inam (Kalimantan Barat), Almina Kacili (Papua Barat), dan Soraya Cassandra (Jakarta).

Menurut keterangan Nicholas, "Semes7a" mengangkat tujuh sosok yang merepresentasikan agama dan kepercayaan di Tanah Air yang bekerja sama dalam merawat lingkungan. Meski tujuh sosok dibuat terpisah-pisah, film ini memiliki pendekatan agama yang menjadi benang merah.

Kata Nicholas, mayoritas masyarakat Indonesia sangat religius sehingga ia berharap dengan pendekatan agama dapat membuat film ini bisa menggerakan orang-orang untuk berbuat sesuatu untuk alam. Dengan konsep film dokumenter yang dipilih pun, ia ingin memperlihatkan kepada masyarakat tentang kondisi yang sesungguhnya.

Sementara itu Chairun Nissa sebagai sutradara film ini mengatakan bahwa jika manusia berperilaku baik terhadap alam, maka alam akan terjaga dan manusia pun akan hidup dengan baik. "Baiknya alam baiknya manusia, buruknya alam buruknya manusia," ungkapnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, mengungapkan bahwa film ini memiliki pesan yang relevan, sangat bagus, dan kuat secara konteks budaya dan agama dalam kaitannya pada upaya penanggulangan perubahan iklim berdasarkan cara hidup masyarakat Indonesia.

"Para tokoh inspiratif ini bergerak beraktualisasi dalam pengendalian perubahan iklim, menjaga lingkungan dan sumber daya alam serta hidup harmonis damai atas dorongan agama , kepercayaan dan budaya masing-masing", ujar Menteri Siti.

Nandong, Mitigasi Bencana Tsunami dengan Kearifan Lokal Masyarakat Simeulue

Pulau Plastik (2021)

Film dokumenter "Pulau Plastik" merupakan karya Visinema Pictures, Kopernik, Akarumput, dan Watchdoc yang menggabungkan jurnalisme investigasi dan budaya populer. Film ini menampilkan perjalanan tiga sosok beda profesi, yaitu vokalis band Navicula Gede Robi, ahli biologi dan penjaga sungai asal Jawa Barat Prigi Arisandi, serta pengacara Tiza Mafira. Meski memiliki latar belakang berbeda, ketiganya sama-sama peduli dengan lingkungan dan kehidupan.

Film berdurasi 100 menit ini disutradarai oleh Dandhy D. Laksono dan Rahung Nasution dengan menyoroti isu persoalan polusi sampah plastik yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. "Pulau Plastik" juga merupakan kampanye kolaboratif dalam menangani isu plastik sekali pakai di Bali dan sekitarnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya plastik sekali pakai, serta mengubah perilaku masyarakat, dan mengadvokasi perubahan yang berkelanjutan.

"Pulau Plastik bukan hanya kolaborasi para produser, film maker, dan karakternya. Tetapi juga kombinasi antara ilmu pengetahuan, aktivisme jalanan, dan seni," tutur Dandhy.

Film ini juga akan membawa penonton melihat sejauh mana jejak sampah plastik menyusup ke rantai makanan, dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis polusi plastik.

Selain itu juga menggambarkan kondisi laut Indonesia. Meski di satu sisi Indonesia memiliki potensi sumber kekayaan laut, tetapi juga tak dapat dimungkiri termasuk negara kedua terbesar penghasil sampah plastik ke laut setelah China. Sejak tanggal 2 Juni 2022, film dokumenter ini bisa dinikmati di Netflix.

Peran Kearifan Lokal Bantu Suku Laut Menghadapi Krisis Iklim

Our Mothers' Land (2020)

Film "Our Mothers' Land" menceritakan tentang perjuangan para perempuan penjaga bumi demi keseimbangan alam dan keadilan. Mereka adalah Sukinah, Aleta Baun, Eva Bande, dan Farwiza yang berasal dari Aceh, Jawa, sampai wilayah timur Indonesia.

Febriana Firdaus, seorang jurnalis yang menulis skenario film ini menyoroti bagaimana kehidupan para perempuan di berbagai daerah yang bertahan melawan korporasi yang ingin mengeruk sumber daya alam di Indonesia. Para perempuan dalam film ini adalah mereka yang begitu berani melawan aparat dan preman, bahkan sampai dipenjara, mengorbankan penghasilan dan jiwanya.

Diceritakan dalam film ini sosok Eva Bande, aktivis perempuan dari Banggai yang sempat dibui, Mama Aleta dari Molo yang mempertahankan tanah Molo dari rencana penambangan. Juga ada Yu Sukinah dari Kendeng yang berjuang melawan Pabrik Semen dan Fawriza Farhan, penjaga hutan Leuser.

"Mereka adalah para pejuang, pelindung lingkungannya. Mereka terhubung satu sama lain sebagai perempuan, ibu rumah tangga, dan isu lingkungan. Itu benang merahnya," ujar Febriana.

3 Aktivitas Sederhana yang Bisa Dilakukan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Tenggelam Dalam Diam (2021)

Film "Tenggelam Dalam Diam" menceritakan berbagai persoalan iklim, mulai dari polusi, penggundulan hutan, suhu bumi meningkat, es di kutub mencair, air laut naik, abrasi, hingga pusat populasi tenggalam. Film ini juga menyoroti dampak krisis iklim yang mengancam daerah pesisir seperti yang terjadi di Pulau Jawa, termasuk pesisir Jakarta, Bekasi, Pekalongan, Semarang, hingga Gresik.

Dandhy Dwi Laksono selaku pendiri WatchdoC mengatakan bahwa gagasan mereka memvisualkan pesisir utara pulau Jawa dalam film “Tenggelam Dalam Diam” ini karena wilayah-wilayah tersebut memang rentan abrasi. Film ini juga menggambarkan tentang masyarakat yang dipaksa untuk beradaptasi karena tidak ada pilihan.

“Mereka tidak punya pilihan properti untuk pindah, mereka tidak punya pilihan ruang untuk melakukan migrasi begitu ya, mereka terpaksa meninggikan rumah ketika, ketika air naik begitu ya, dan mereka kehilangan semua memori kolektifnya tentang makam, tentang sekolah yang tenggelam begitu ya, belum lagi semua skala usaha dari mulai kecil sampe, sampe industri tekstil, industri batik di Pekalongan juga semua terendam gitu ya, terdampak gitu ya,” jelasnya.

Film ini juga menjadi semacam pengingat bahwa pantai-pantai di Indonesia dirusak perlahan. “Kita sebenarnya paling malang, kepulauan, tiga perempat laut tapi malah begitu semangat mengeksploitasi batubara, menebang hutan. Semangat mengambil nikel untuk listrik, kita paling semangat eksploitasi air dan kegiatan merusak lingkungan lain," tambah Dandy.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini