Ditetapkan Jadi Kota Kreatif Gastronomi, Apa Saja yang Menarik di Salatiga?

Ditetapkan Jadi Kota Kreatif Gastronomi, Apa Saja yang Menarik di Salatiga?
info gambar utama

Salatiga merupakan kota di Jawa Tengah yang berada di antara Semarang dan Solo. Kota ini dikenal dengan udaranya yang sejuk dan memiliki panorama indah karena berada di kaki Gunung Merbabu. Salatiga juga dilewati jalan tol Trans Jawa sehingga membuat kota ini mudah diakses.

Keindahan Salatiga memang bukan sesuatu yang baru, bahkan telah diakui sejak zaman penjajahan Hindia-Belanda. Pada masa itu, Salatiga mendapat julukan De Schoonste Stad van Midderi-Java atau kota terindah di Jawa Tengah.

Salatiga juga merupakan salah satu kota tertua di Indonesia dan kini telah berusia lebih dari 1.200 tahun. Kota ini juga beberapa kali dinobatkan sebagai Kota Paling Toleran se-Indonesia, Kota Ramah Anak, Kota Ramah HAM, dan yang terbaru adalah Kota Kreatif.

Pada tahun 2021, Salatiga ditetapkan sebagai Kota Kreatif Indonesia dan mewakili Indonesia dalam nominasi Creative City of Gastronomy UNESCO Creative City Network (UCCN). Meski termasuk kota kecil di Tanah Air, Salatiga nyatanya punya segudang potensi di bidang pariwisata. Keindahan alam, kuliner, budaya, dan kehidupan masyarakat di kota ini memiliki keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Berikut beberapa tempat wisata yang dapat dikunjungi di Salatiga:

Wisata Halal Indonesia Terbaik Kedua di Dunia dalam Global Travel Muslim Index 2022

Wisata gastronomi

 Tumpang koyor : @Rani Restu Irianti | Shutterstock
info gambar

Berbeda dengan istilah kuliner, gastronomi merujuk pada ilmu yang membahas tentang kebiasaan makan yang baik dan dapat dikaitkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan makanan dan minuman. Namun, lebih dari sekadar hidangan yang disajikan, gastronomi juga mempelajari seluk-beluk makanan tersebut, mulai dari sejarah, asal bahan pangan, pengolahan, dan bagaimana hidangan tersebut dimakan.

“Gastronomi adalah kebiasaan makan yang baik yang berasal dari suatu wilayah atau daerah yang berkaitan dengan budaya setempat dan pangan lokalnya. Misalnya di daerah pesisir, masyarakat di sana kebanyakan memakan hidangan laut atau seafood. Artinya, gastronomi juga berkaitan erat dengan letak geografis suatu daerah, budaya dan tentu saja kearifan lokal masyarakatnya,” kata Vita Datau, Founder dari Indonesia Gastronomy Network.

Pemilihan Salatiga sebagai Kota Kreatif Gastronomi karena dianggap ideal dari segi lokasi yang strategis, telah lama menjadi rumah dari beragam etnis, dan memang punya kekuatan di bidang kuliner. Beberapa menu khas Salatiga yang tersohor antara lain sate sapi suruh, opor bebek, soto esto, gecok kambing, ronde sekoteng, enting-enting gepuk, dan tumpang koyor.

Salah satu kuliner ikonik Salatiga yaitu tumpang koyor telah ada sejak tahun 1814 dan tertera dalam naskah Serat Centhini. Resep-resep makanan telah turun-temurun dari generasi ke generasi dan menjadikan Salatiga sebagai Kota Kreatif Gastronomi merupakan bentuk dari upaya pelestarian warisan Nusantara.

Agenda Sport Tourism Paling Ditunggu-Tunggu di Indonesia Sepanjang 2022

Kampung Singkong Argowiyoto Salatiga

Kampung Singkong Argowiyoto Salatiga | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Nama Kampung Singkong Argowiyoto Salatiga dikenal pengusaha setempat bernama Hardadi menciptakan varietas singkong D9. Jika awalnya singkong sempat dipandang sebelah mata, Hardadi berhasil menjadikan singkong sebagai kuliner khas dan ikon kuliner Salatiga dan Jawa Tengah.

“Hardadi ini pengusaha sukses yang menginspirasi para pelaku UMKM lainnya. Sehingga menciptakan lapangan kerja yang jumlahnya mencapai ratusan orang dan petani singkong terberdayakan. Ini juga menjadi subtitusi dari terigu yang masih impor,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno

Di Kampung Singkong Argowiyoto Salatiga, wisatawan yang berkunjung dapat menikmati berbagai makanan olahan singkong seperti enting-enting gepuk, keripik paru, gelek, onde-onde, keripik ceker, singkong keju, dan masih banyak lagi.

“Singkong ini bisa diolah menjadi bahan-bahan pangan lainnya seperti mi, obah-obah jenggot, dan banyak lagi produk turunannya yang mencapai 140 olahan makanan yang bisa memiliki kualitas ekspor,” tambah Sandiaga.

Menyusuri Sungai-Sungai dengan Pemandangan Eksotis di Indonesia

Kelenteng Hok Tiek Bio

Kelenteng Hok Tiek Bio | Wikimedia Commons
info gambar

Kelenteng Hok Tiek Bio di Jalan Letjen Sukowati merupakan rumah ibadah penganut Tri Dharma atau tiga ajaran yaitu Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme. Keberadaan kelenteng ini menandakan masuknya pengaruh Tionghoa ke Salatiga dan diprediksi terjadi seiring pergerakan Tionghoa ke Surakarta (Solo) pada tahun 1740-1741.

Menurut Hamdi Chan, juru kunci Kelenteng Hok Tiek Bio, kelenteng ini dibangun sekitar tahun 1872. Bangunan yang didominasi warna merah dan kuning keemasan ini didirikan dari sumbangan umat yang namanya tertuang dalam prasasti di tembok sebelah timur ruang utama dengan tulisan China.

Di kelenteng ini, pengunjung dapat melihat bagaimana bangunan kelenteng di Salatiga. Di sana juga ada sebuah tampa bulat dari bambu yang menggantung di langit-langit ruang penyembahan Dewa Bumi. Menurut penjelasan Hamdi, tampa yang kini berwarna hitam terkena kepulan asap lilin dan hio swa tersebut merupakan peringatan agar tidak bersumpah di dalam kelenteng, kecuali atas perintah pengadilan.

Jelajah Wisata Kabupaten Poso dari Danau Terbesar Hingga Situs Megalitik

Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan | Wikimedia Commons
info gambar

Prasasti Plumpungan merupakan situs arkeologi batu tulis yang berada di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidu, Kecamatan Siderejo. Prasati itu tertulis dalam batu andesit besar dengan panjang 170cm, lebar 160cm, dan garis lingkar 5 meter.

Prasasti yang sudah ada sejak tahun 750 Masehi tersebut berisi ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swatantra bagi suatu daerah Hampra, yang kini dikenal dengan nama Salatiga. Dari prasasti tersebut, hari jadi Salatiga dibakukan yaitu pada tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi.

Prasasti Plumpungan ditulis oleh seorang citraleka atau pujangga yang dibantu pendeta. Menurut perkiraan sejarawan, masyarakat Hampra telah berjasa kepada Raja Bhanu yang berkuasa di sekitar Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Kabupaten Boyolali. Adanya penetapan dalam prasasti tersebut menjadi titik tolak berdirinya daerah Hampra.

Berikut keterangan dalam prasasti yang telah diartikan dalam Bahasa Indonesia:

  1. Semoga bahagia! Selamatlah rakyat sekalian! Tahun šaka telah berjalan 672/4/31/ pada hari Jumat.
  2. Tengah hari
  3. Dari Beliau, demi agama sebagai dharama bakti kepada Yang Maha Tinggi, telah menganugerahkan sebidang tanah atau tanam , agar memberikan kebahagiaan kepada mereka.
  4. Yaitu Desa Hampra yang terletak di wilayah trigrãmyãma dengan restu dari Sang Dewi yang Sempurna berupa daerah bebas pajak atau perdikan, dan
  5. Ditetapkan dengan tulisan aksara atau prasasti yang ditulis menggunakan ujung mempelam.
  6. Dari Beliau yang bernama Bhanu, dengan bangunan suci tau candi ini selalu menemukan hidup abadi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini