Kesunyian Banyusumurup, Kisah Makam Para Pendosa Kerajaan Mataram Islam

Kesunyian Banyusumurup, Kisah Makam Para Pendosa Kerajaan Mataram Islam
info gambar utama

Kompleks makam Banyusumurup terletak di wilayah Kelurahan Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta. Kompleks makam ini terdapat di sebuah lembah yang dikelilingi tiga gunung.

Makam yang terletak di lembang terpencil ini menjadi pemakaman bagi orang-orang yang dianggap musuh negara oleh Amangkurat I. Di kompleks pemakaman ini menyimpan saksi bisu intrik dengan latar belakang perebutan kekuasaan dan asmara.

Dalam babad karya Prawirawinarsa dan Jayengpranata disebutkan bahwa semua yang dimakamkan di pasareyan mirunggan (permakaman khusus) itu merupakan orang-orang yang telah berbuat dosa terhadap raja.

Namun, tidak ada penjelasan lebih detail mulai kapan Banyusumurup menjadi tempat pemakaman para pendosa Mataram tersebut. Pembangunannya pun tidak diberitakan seperti layaknya makam-makam Raja-raja Imogiri atau Permakaman Giriloyo.

Tokoh utama yang dimakamkan di Banyusumurup adalah Pangeran Pekik, selain itu terdapat makam-makam para Pangeran Lamongan, Rara Oyi dan 49 malam lain yang kemungkinan merupakan makam-makam kerabat Pangeran Pekik.

Kompleks makam Banyusumurup terdiri atas dua halaman yang masing-masing dikelilingi tembok bata dan berdenah empat persegi panjang. Halaman pertama disebut bale panyerenan yaitu tempat meletakkan jenazah sebelum dimakamkan di halaman kedua.

Sunan Giri, Sosok 'Paus Islam' yang Mengesahkan Sultan di Tanah Jawa

Kini halaman pertama digunakan sebagai tempat menunggu bagi para peziarah dengan sebuah bangsal pada sisi utara. Sedangkan makam-makam yang terdapat di komplek ini terletak di halaman kedua.

Pada halaman kedua sisi utara, yaitu di tempat yang dahulunya dinaungi cungkuh, terdapat 21 buah makam. Dua di antaranya terletak paling utara, yaitu merupakan makam Pangeran Pekik dan Pangeran Lamongan.

Sedangkan makam-lainnya antara lain adalah makam Rara Oyi dan Putra Timur, yaitu putra Pangeran Pekik yang terbunuh ketika masih kecil. Selain 21 makam itu, ada juga 31 makam lainnya yang dikatakan sebagai kerabat dan pengikut Pangeran Pekik.

Makam-makam di atas sebagian besar dibuat dari batu andesit kecuali makam Pangeran Pekik dan Pangeran Lamongan yang dibuat dari batu kapur. Khusus makam Pangeran Pekik, jirat dan nisannya merupakan kesatuan yang dibuat dari satu batu.

Sebagian besar nisan-nisan tersebut polos, dan beberapa di antaranya mempunyai hiasan dengan motif tumpal, pinggir awan, bintang, dan bulan sabit. Dua di antara makam-makam ini mempunyai tulisan alam huruf Jawa tengahan pada nisan-nisannya.

Saksi para penentang raja

Makam Banyusumurup menjadi spesial karena riwayat sejarah tentang peruntukannya. Makam ini menjadi lokasi penguburan orang-orang yang dianggap membangkang atau melawan raja berkuasa, khususnya Amangkurat Tegalwangi (I).

Dengan demikian, Banyusumurup menjadi semacam monumen pengingat kebencian-kebencian penguasa Mataram, dan penerusnya, terhadap siapa saja yang menjadi musuh bagi kalangan istana.

“Di sisi lain, pasareyan Banyusumurup sekaligus juga sebagai penanda kekejaman-kekejaman penguasa Mataram, berikut penerusnya,” tulis Kuncoro Hadi, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dimuat di Beritagar.

HJ de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram menyebut satu nama yang kerap disebut dimakamkan di Banyusumurup adalah Raden Mas Sasmitro Sastro yang merupakan putra Panembahan Juru Kiting.

Sasmitro yang dianggap cikal bakal juru kunci Imogiri, terlempar ke Banyusumurup karena terseret kasus kerabatnya, Adipati Manduroreja dan Tumenggung Uposonto yang keduanya dihukum mati saat pasukan Mataram gagal merebut benteng Batavia.

Malam Selawe, Tradisi Malam Terakhir Ramadan di Makam Sunan Giri

Kisah kerabat keraton Mataram yang paling tragis adalah kisah pembantaian keluarga Pangeran Pekik. Dirinya merupakan adik ipar Sultan Agung dan juga mertua Susuhunan Amangkurat Agung, sekaligus kakek Adipati Anom atau Amangkurat II.

Posisi yang penting di keraton Mataram tak menjamin keselamatan jiwanya berikut keluarganya. Dari beberapa sumber diketahui bahwa Pangeran Pekik bersama keluarga, dan pengikutnya dibunuh atas perintah Sunan Amangkurat I.

Hal ini karena Pangeran Pekik membawa Rara Oyi – yang akan diperistri Amangkurat I – untuk diberikan kepada cucunya, Amangkurat II. Mengetahui hal ini Amangkurat I menuduh Pangeran Pekik berniat untuk memberontak.

Selain itu muncul pendapat lain bahwa Pangeran Pekik mempunyai niat untuk memberontak terhadap Mataram dengan berusaha bekerja sama dengan Belanda. Karena itu, Pangeran Pekik, kerabatnya, dan pengikutnya dibunuh kemudian dimakamkan di Banyusumurup.

Kemudian ada juga kisah cinta terlarang Raden Ayu Lembah, putri Pangeran Puger – kelak Pakubuwono I – bersama Raden Sukro, putra Adipati Sindurejo. Lembah sendiri adalah istri dari Susuhunan Amangkurat III.

Hubungan mereka dianggap sebagai aib yang sangat memalukan kalangan istana Kartasura, sehingga kematian mereka menjadi keputusan yang dianggap benar. Tubuh Raden Ayu Lembah kemudian dimakamkan di Banyusumurup.

“Itulah satu tempat di mana priyayi-priyayi Mataram, hingga penerusnya di Yogyakarta dan Surakarta, tak pernah sudi dimakamkan di sana,” bebernya.

Kesunyian di lembah makam

Makam Banyusumurup yang berada di lembah kecil perbukitan Imogiri ini memang terasa sunyi syahdu. Cericit suara burung dan gemericik air sungai jadi pewarna suasana hari-hari di sebuah kompleks makam kuno berbenteng kokoh.

Makam ini pada hari-hari biasa dijaga abdi dalem Keraton Yogyakarta dan Sukarta secara bergantian. Bersama Makam Pajimatan, Giriloyo, dan Kotagede, kompleks Makam Banyusumurup memang dikelola secara bersama.

Ada 10 abdi dalem dari dua keraton, masing-masing dari Yogyakarta dan 4 dari Surakarta. Mereka bertugas bergantian empat hari dalam satu shift. Dari 10 abdi dalem itu, hanya satu orang yang tinggal di Dusun Banyusumurup.

Mugi Wihargo, merupakan jujugan para pengunjung baik yang hendak berziarah maupun sekadar jalan-jalan. Kunci makam ini memang disimpan di rumah Mugi yang berada di selatan Masjid Dusun Banyusumurup.

“Kalau ada yang datang biasanya ke saya dahulu karena yang tinggal paling dekat dengan makam ya saya,” kata Mugi yang dimuat di Tribun Jogja.

Bukti Cinta di Balik Kemegahan Mausoleum OG Khouw Petamburan

Mugi mengaku pada hari-hari khusus, seperti Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, area pemakaman ini akan ramai peziarah. Di Banyusumurup, selain pasareyan Pangeran Pekik, ada situs penting lain yaitu Masjid Kagungan Dalem.

Warga Dusun Banyusumurup, Kardi (78) mengingat cerita legenda pendirian masjid yang erat dengan berdirinya serta penamaan dusun ini. Konon, suatu hari Sultan Agung dan pengikutnya sedang mencari lokasi makam raja.

Sesampainya di suatu perbukitan, mereka istirahat karena ada yang haus dan juga hendak salat. Namun karena tidak ada air di sekitar, mereka mengadu kepada Sultan Agung. Lantas raja ini berkata, tak lama lagi mereka akan melihat air (sumurup banyu).

Sultan Agung kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah, dan mengucurlah air yang mengalir ke lembah. Tempat itu akhirnya dinamakan Banyusumurup. Sebuah masjid pun didirikan tak jauh dari mata air tersebut.

Namun fungsi lembah ini akhirnya berlainan dengan magis namanya. Banyusumurup yang memiliki arti “air yang bercahaya”. Kini malah menjadi tempat bagi jasad-jasad yang mengalami nasib yang suram dan menyedihkan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini