Selain Pulau dan Pantai, Ini 5 Destinasi Wisata Unik yang Ada di Batam

Selain Pulau dan Pantai, Ini 5 Destinasi Wisata Unik yang Ada di Batam
info gambar utama

Batam merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau yang terletak di antara Selat Malaka dan Singapura. Pada awalnya, wilayah Batam hanyalah pulau kosong berupa hutan belantara yang dihuni beberapa kelompok penduduk. Namun, setelah pemerintah mengembangkan Batam, barulah dibangun berbagai infrastruktur modern yang berstandar internasional karena diharapkan dapat bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Pada dekade 1970-an, pengembangan Batam adalah dijadikan sebagai Singapuranya Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, kegiatan industri, perdagangan, alih kapal, dan pariwisata pun marak di Batam. Kini, Batam menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia yang diminati turis lokal dan mancanegara.

Meski dikenal dengan wisata alam berupa pulau dan pantai nan indah, sebenarnya potensi pariwisata Batam lebih luas lagi. Dari desa wisata, jembatan ikonik, hingga kampung pengungsian, berikut lima destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Batam:

Ditetapkan Jadi Kota Kreatif Gastronomi, Apa Saja yang Menarik di Salatiga?

Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip

Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip | jadesta.kemenparekraf.go.id
info gambar

Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip ini memiliki potensi yang besar dengan keberadaan ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu, ditambah dengan produk ekonomi kreatif dari kerang, eceng gondok, dan kuliner khas yaitu gonggong. Lokasinya juga terbilang strategis karena cukup dekat dari Bandara Internasional Hang Nadim.

Menurut keterangan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Buralimar, Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip telah hadir di Kota Batam sejak awal tahun 2019. Desa dengan luas tujuh hektare ini memiliki potensi wisata alam, keragaman flora dan fauna, konservasi bakau, edukasi, dan wisata pantai pasir putih di tengah hutan bakau.

“Desa ini memiliki ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu yang memiliki destinasi pantai pasir putih yang begitu elok. View-nya juga cukup bagus, karena menghadap langsung ke negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia,” jelasnya.

Dijelaskan Gery selaku perwakilan pengelola desa wisata, awalnya kawasan ini merupakan tempat pembuangan sampah. Kemudian dimaksimalkan menjadi desa wisata dengan pendekatan ekowisata pada tahun 2018. Konsep yang diusung desa wisata ini juga dinilai sejalan dengan upaya pengembangan pariwisata nasional pascapandemi COVID-19 yang berkelanjutan lingkungan dan berbasis komunitas.

"Pariwisata kita ke depan adalah pariwisata yang berbasis kualitas dan berkelanjutan. Jadi ini sesuai dengan apa yang akan kami sampaikan di rangkaian kegiatan G20 bahwa pariwisata Indonesia adalah pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, berbasis komunitas," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno.

Agenda Sport Tourism Paling Ditunggu-Tunggu di Indonesia Sepanjang 2022

Panbil Nature Reserve

Panbil Nature Reserve | Dok Kemenparekraf
info gambar

Panbil Nature Reserve merupakan destinasi wisata alam yang berada di dalam Taman Wisata Alam Muka Kuning. Menempati lahan seluas 200 hektare, tempat wisata ini menyediakan atraksi berbagai jenis burung dan rusa sambar. Di Panbil Nature Reserve juga tengah dibangun beberapa sarana pelengkap seperti glamping dan peternakan kuda.

Menurut Sandiaga, kehadiran destinasi dapat menjadi suatu inovasi bagi pariwisata Batam yang selama ini didominasi oleh pusat perbelanjaan dan juga pantai. "Ini adalah taman wisata alam edukasi dan rekreasi yang diarahkan untuk (wisatawan) internasional termasuk Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan. Menariknya, taman ini menyuguhkan keanekaragaman flora dan fauna, hiburan, petualangan, dan ilmu pengetahuan jadi ada edukasi dan wisatanya juga," jelasnya.

Menyusuri Sungai-Sungai dengan Pemandangan Eksotis di Indonesia

Kampung Vietnam

Camp Vietnam di Batam | Wikimedia Commons
info gambar

Pulau Galang dulunya merupakan tempat penampungan para pengungsi warga Vietnam. Sebuah area perkampungan dibangun oleh PBB di atas lahan seluas 80 hektare dan kini menjadi salah satu lokasi wisata sejarah di Batam.

Pada tahun 1989, kampung tersebut dijadikan tempat pengungsian oleh ratusan ribu warga Vietnam akibat perang saudara di negaranya. Saat itu, warga Vietnam yang sedang mengalami perang harus mengarungi lautan demi menyelamatkan diri hingga akhirnya terdampar di Pulau Galang.

Berdasarkan persetujuan dari pemerintah Indonesia, ratusan ribu pengungsi pun diizinkan menetap di Pulau Galang. Namun, mulai tahun 1996, sedikit demi sedikit warga Vietnam kembali ke negara asalnya dan kampung ini menjadi kosong kembali.

Dulunya di kampung tersebut memiliki fasilitas lengkap untuk sebuah hunian sementara, dari barak pengungsi, rumah sakit, rumah ibadah, sekolah, musala, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, hingga komplek pemakaman. Di sana juga terdapat penjara untuk pengungsi yang melakukan tindak kejahatan. Di dekat pintu masuk, pengunjung bisa menemukan Humanity Statue atau Patung Kemanusiaan yang dibuat untuk mengenang kisah tragis dan memilukan seorang perempuan bernama Tinhn Han Loai yang tewas bunuh diri.

Jelajah Wisata Kabupaten Poso dari Danau Terbesar Hingga Situs Megalitik

Sea Forest Adventure

Sea Forest Adventure adalah tempat wisata yang cocok bagi Anda yang menyukai petualangan dan permainan. Berlokasi di Jalan Hang Lekiu, Sambau, Nongsa, Sea Forest Adventure memiliki konsep nature, adventure, dan survival science. Menempati lahan seluas 10 hektare dan masih satu kawasan dengan Palm Spring Golf & Resort Batam, ada beberapa fasilitas yang dapat menunjang kegiatan wisata seperti Gathering Facility, Camping Ground, Land Adventure, hingga Sea Adventure.

Beberapa wahana yang dapat dinikmati di sana antara lain Donat Boat, Rabbit House, dan Dino Adventure Track. Di Sea Forest Adventure sangat cocok untuk liburan keluarga bersama anak karena semua usia bisa menikmati permainan sambil menambah pengetahuan.

Jembatan Barelang

Jembatan Barelang | Wikimedia Commons
info gambar

Jembatan Barelang bisa dibilang sebagai ikon Batam. Jembatan yang namanya singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang ini merupakan sekumpulan jembatan yang menjadi penghubung pulau-pulau yaitu ulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.

Tak hanya satu, sebenarnya jembatan ini terdiri dari enam jembatan dengan nama Jembatan Tengku Fisabilillah, Jembatan Nara Singa, Jembatan Raja Ali Haji, Jembatan Sultan Zainal Abidin, Jembatan Tuanku Tambusai, dan Jembatan Raja Kecik.

Namun, nama-nama raja tak begitu populer bagi penduduk setempat sehingga penyebutan secara keseluruhan tetap Barelang. Ada pula yang menyebutnya sebagai Jembatan Habibie sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam mengembangkan Batam. Dibangun dari tahun 1992 sampai 1998, jembatan ini akhirnya diresmikan oleh BJ Habibie yang menjadi presiden ketiga Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini