Stasiun Gambir dan Kisah Mengantar Perjalanan Selama Lebih 1,5 Abad

Stasiun Gambir dan Kisah Mengantar Perjalanan Selama Lebih 1,5 Abad
info gambar utama

Akhir-akhir ini beredar kabar mengenai Stasiun Gambir Jakarta yang akan ditutup. Kabar mengenai Stasiun Gambir yang akan dihentikan operasinya ini banyak dibicarakan oleh pengguna internet.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati mengatakan bahwa saat ini Stasiun Gambir masih beroperasi seperti biasa, tidak pensiun. Dia juga menambahkan, saat ini Stasiun Gambir masih melayani KA jarak jauh.

“(Sampai saat ini) masih melayani jarak jauh,” ujar Adita yang dimuat dari Kompas, Selasa (7/6/2022).

Isu ini muncul setelah adanya master plan pembangunan Stasiun Manggarai untuk program Double Double Track (DDT). Nantinya Stasiun Gambir tidak lagi melayani kereta api rute jarak jauh dan dialihfungsikan untuk melayani KRL Commuter Line.

Mengutip laman resmi heritage PT KAI, Stasiun Gambir merupakan stasiun kelas besar yang terletak di Gambir, Jakarta Pusat. Letaknya persis di sebelah timur Tugu Monas terletak di Ketinggian kurang lebih 16 meter di bawah Daerah Operasional 1 DKI Jakarta.

Inovasi PT KAI di Tengah Menurunnya Penumpang Kereta Api Imbas Pandemi Covid-19

Daerah Gambir awalnya adalah tanah rawa dengan pemilik tanah bernama Anthony Paviljoen. Kemudian tahun 1697 tanah ini dibeli oleh Cornelis Chastelein dan membangun sebuah rumah dengan dilengkapi dua kincir sebagai penggiling tebu.

Cornelis diperkirakan memberikan nama tempat ini dengan sebutan Weltevreden yang berarti sangat puas. Kemudian tahun 1871 silam Weltevreden menjadi sebuah halte Koningsplein atau berarti halte lapangan raja.

Halte ini dikelola oleh Nederlands-Indische Spoorweg sampai tahun 1884 dengan bangunan kecil dan sangat sederhana. Hal ini kemudian digantikan menjadi stasiun Weltevreden yang dibuka pada 4 Oktober 1884 di tempat di mana Stasiun Gambir kini berada.

Gagasan pembangunan Stasiun Weltevreden ini dicetuskan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, J,J Rochussen pada tahun 1846. Kala itu dia mengusulkan pemerintah untuk membangun jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) menuju Buitenzorg (Bogor).

“Stasiun Weltevreden memudahkan akses menuju Buitenzorg (Bogor) dan Meester Cornelis (Jatinegara),” tulis surat kabar Java-bode yang dimuat Alinea.

Stasiun bersejarah

Christopher Silver dalam buku Planning the Megacity: Jakarta in Twentieth Century (2007) menyebut Koningsplein yang kini dikenal sebagai Lapangan Merdeka hingga abad ke 19 adalah tempat pelatihan pasukan.

Lalu, paruh pertama abad ke 20, berubah menjadi ruang rekreasi dan seremonial gereja, hotel terkemuka, pertunjukan teater, dan pacuan kuda. Maka, Stasiun Weltevreden semakin ramai, terutama menjadi tempat persinggahan tamu asing.

Pada edisi 3 Agustus 1929, Bataviaasch Nieuwsblad menulis raja dan ratu Siam (Thailand) disambut kavaleri dan garnisun infanteri yang tersebar dari pintu masuk utara Stasiun Weltevreden hingga pintu masuk timur istana di Koningsplein.

“Di Stasiun Weltevreden, raja dan ratu Siam disambut meriah korps musik terkemuka yang memainkan lagu kebangsaan mereka. Perjalanan raja dan ratu Siam ke Buitenzorg dengan menggunakan kereta ekstra hanya berlangsung dua puluh menit saja,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad, 3 Agustus 1929.

Kurun tahun 1925-1930 dilakukan elektrifikasi di Jakarta, tak terkecuali di Weltevreden. Rencana ini mulai dicetuskan sekitar tahun 1915 dan pekerjaan ini dimulai sejak tahun 1921. Pada 1937, nama stasiun Weltevreden diganti menjadi Stasiun Batavia Koningsplein.

Asal Mula Stasiun Duri, Stasiun Dekat Kali Anyar

Stasiun ini juga melayani perjalanan ke Surabaya. Pada 1933, terdapat informasi di Bataviaasch Nieuwsblad edisi 7 Maret 1933 yang menjelaskan perubahan jadwal kereta karena pemangkasan durasi perjalanan dari Weltevreden ke Surabaya juga sebaliknya.

Saat itu juga stasiun ini sudah menjadi stasiun tersibuk di Hindia Belanda. Hampir seluruh kereta jarak jauh utama dan semua kereta ke Bogor singgah di stasiun ini. Masyarakat juga mulai menyebut Stasiun Batavia Koningsplein dengan Stasiun Gambir.

Alwi Shahab dalam bukunya Betawi: Queen of the East (2002) menulis meski nama stasiun di dekat Monumen Nasional itu acap kali berganti, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Stasiun Gambir.

Terkait penamaan Gambir belum diketahui kapan pastinya, diduga sekitar tahun 1922. Saat itu masyarakat menyebut lapangan Koningsplein dengan lapangan Gambir, karena di lapangan tersebut tumbuh pohon gambir.

Renovasi Stasiun Gambir

Uka Tjandrasasmita dalam Sejarah Perkembangan Kota Jakarta (2000) menyebut setelah diambil alih oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS) pada 1928, stasiun ini diperbesar. Setahun kemudian, mengalami renovasi besar-besaran.

Stasiun ini pun mengalami renovasi kembali pada 1955. Surat kabar de Preangerbode edisi 12 Maret 1955 melaporkan, menjelang Konferensi Asia Afrika pada 1955, berbagai fasilitas Stasiun Gambir diperbaiki.

“Perawatan juga diberikan untuk penerangan gedung stasiun. Lampu neon dipasang di berbagai tempat di stasiun,” tulis de Preangerbode, 12 Maret 1955.

Mingguan Djaja pada edisi 15 Februari 1964 juga menulis Gubernur DKI Jakarta Soemarno Sostroatmodjo merencanakan membangun jalur kereta api bawah tanah di dalam kota, dan jalur kereta api di permukaan tanah pinggiran kota.

Hal ini dilakukan agar kereta api tak menimbulkan gangguan lalu lintas di jalan raya. Akan tetapi, ada konsekuensi yang diambil, yakni jalur kereta antara Manggarai-Gambir-Jakarta Kota dan Jatinegara-Senen-Jakarta Kota akan ditenggelamkan ke bawah tanah.

Kemudian menghilangkan Stasiun Gambir dan Senen. Selanjutnya, menentukan tiga stasiun sebagai stasiun pusat, yakni Stasiun Jakarta Kota, Manggarai, dan Cakung. Namun rencana ini tidak terealisasi karena tampuk kekuasaan berganti dari Soekarno ke Soeharto.

Pada tahun 1976, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan Gubernur Jawa Barat Solihin GP melaksanakan kerja sama pembangunan kawasan Jabodetabek. Untuk menarik minat penduduk agar menetap di kawasan ini, pemerintah meningkatkan layanan transportasi.

Kerja sama itu adalah membangun “Sistem Kereta Api Modern” guna menumbuhkan peran kereta api di wilayah Jabodetabek. Salah satunya adalah proyek pembangunan jalur layang kereta api Jakarta Manggarai.

Fungsi Angka Pada Papan Nama Stasiun Kereta Api

Sebagai tempat perhentian di jalur layang, dibangun pula stasiun baru termasuk Stasiun Gambir. Pembangunan ditandai dengan pemancangan tiang pertama di segmen B, tepatnya di sebelah selatan Stasiun Gambir yang lama pada 17 Desember 1986.

Stasiun Gambir baru dibuka untuk umum bersamaan dengan peresmian jalur pada Jumat 6 Juni 1992, Presiden Soeharto meresmikannya dengan ditandai dioperasikannya Kereta Api Listrik (KRL).

Stasiun baru ini memiliki tiga lantai, lantai pertama untuk loket penjualan tiket, lantai kedua sebagai ruang tunggu penumpang yang dilengkapi toilet, pertokoan serta restoran dan beberapa kantor pegawai, sedang lantai merupakan peron bagi para penumpang.

Arsitektur bangunan atas terlihat sederhana dengan atap bersusun dengan sentuhan tradisional, joglo. Tak kalah menarik, bangunan stasiun baru di jalur layang masing-masing memiliki warna yang berbeda.

Stasiun Gambir berwarna dominan hijau lantainya pun dipasang porselen mengkilap dengan warna hijau. Selain Monas dan Istiqlal, bangunan Stasiun Gambir menjadi bangunan yang muda dikenali di jantung kota Jakarta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini