Death Adder, Urutan ke-4 Ular Paling Berbisa Dunia yang Ada di Indonesia

Death Adder, Urutan ke-4 Ular Paling Berbisa Dunia yang Ada di Indonesia
info gambar utama

Ular selama ini dikenal sebagai salah satu hewan paling berbahaya yang ada di dunia. Baik berbisa atau tidak, gigitan ular dipastikan dapat menyebabkan kondisi cedera parah, beberapa bahkan dapat berakhir dengan kematian.

Faktanya, diketahui jika Indonesia menjadi rumah bagi 10 persen dari sekitar 3.600 jenis ular di seluruh dunia. Beberapa di antaranya bersifat endemik, namun ada juga yang memang menyebar secara luas dari negara lain.

Pakar herpetologi LIPI yakni Dr. Amir Hamidy memaparkan, jika di Indonesia ada tiga jenis ular berbisa yang sering menggigit manusia. Pertama ular kobra yang dibagi lagi menjadi dua sub-jenis berbeda yakni kobra biasa dan king kobra, kedua ular weling, dan ketiga ular welang yang masih berkerabat dekat dengan weling.

Di samping itu, terdapat fakta mengenai eksistensi spesies ular paling berbahaya dunia yang ada di Indonesia, yakni ular death adder yang oleh masyarakat lokal sering disamakan dengan ular beludak. Tak main-main, karena nyatanya spesies ular ini pernah menelan korban yang sempat menghebohkan di kalangan pemerhati lingkungan.

Ular Langka Asli Indonesia ini Kembali Muncul Setelah 80 tahun

Mengenal death adder

Memiliki nama ilmiah Acanthopis spp. Death adder merupakan salah satu jenis ular berbisa paling mematikan di dunia. Dari banyaknya spesies ular mematikan, spesies death adder disebut menduduki peringkat ke-4.

Jika dilihat dari bentuk fisik, ular ini sebenarnya memiliki tubuh yang terbilang pendek, panjangnya hanya sekitar 40-100 sentimeter. Dari segi morfologi, tubuhnya memang berciri pendek dan gemuk. Memiliki kepala berbentuk kapak (segitiga), sisik-sisik di atas kepala berukuran kecil, mata dengan pupil vertikal dan taring yang berukuran cukup panjang.

Mereka dikenal sebagai makhluk soliter, nokturnal, dan pandai berkamuflase. Hal tersebut lantaran kulitnya memiliki warna dan corak yang menyerupai habitat permukaan tanah di hutan. Ular ini biasa bersembunyi di bawah serasah atau guguran daun dan puing-puing hutan, semak belukar, dan padang rumput.

Death adder sebenarnya dikenal berasal dari daratan Australia. Namun penyebarannya juga ditemui di sejumlah wilayah Indonesia terutama Papua bagian selatan, termasuk Kabupaten Mimika. Ular ini juga kerap ditemui di beberapa wilayah pulau kecil sekitaran Papua seperti Maluku dan sekitarnya.

Yang perlu diwaspadai, di Papua keberadaan ular ini banyak ditemui tidak hanya di hutan atau sungai, namun juga di jalanan hingga memasuki kawasan pemukiman, bahkan rumah manusia.

Pulau di Bima ini Penuh Dengan Ular Berbisa

Telan korban di tahun 2019

Pada tahun 2019, spesies death adder pernah mencuri perhatian setelah disebut menjadi penyebab kematian dari anggota Brimob bernama Desri Sahrondi, yang sedang bertugas di Papua. Bripka tersebut diketahui meninggal dua hari setelah digigit, saat sedang beraktivitas di kawasan Kali Iwaka yang berada di Kabupaten Mimika, tepatnya di kawasan sekitar Kuala Kencana.

Tidak langsung ambruk, korban yang digigit bahkan disebut sempat menangkap ular tersebut dan memasukkannya ke dalam botol.

Ahli biologi asal Australia yang mempelajari death adder yakni Christina Zdenek, menuliskan jika ular ini punya bisa dengan racun yang menyerang sistem saraf (neurotoksin). Orang yang digigit akan mengalami gejala seperti kelumpuhan otot mata, rasa sakit di otot perut, pusing, mengantuk, dan pembesaran kelenjar getah bening.

Korban yang digigit akan mengalami kehilangan kontrol ototnya dan dapat menyebabkan kegagalan pernapasan. Karena itu tak jarang, kematian bisa langsung terjadi bila korban tak segera diberi bantuan pernapasan.

Di habitat aslinya sendiri yakni Australia, death adder dikenal memiliki reputasi buruk karena 50 persen korban yang digigit oleh ular ini sudah pasti mati.

Tri Maharani selaku pakar toksinologi sekaligus Presiden Toxinology Society of Indonesia menyebut, jika penanganan pertama dari korban gigitan ular ini adalah immobilisasi atau memperkecil gerakan bagian tubuh yang terkena gigitan.

Penanganan yang salah seperti memijit bagian tubuh yang tergigit dengan tujuan mengeluarkan bisa dipastikan hanya akan memperparah keadaan.

Menurutnya, penanganan yang salah terhadap orang yang pertama kali digigit ular death adder dapat menyebabkan korban masuk ke fase yang membuat organ tubuh rusak, dan membutuhkan antivenom.

Sementara itu di lain sisi, meski tersebar dengan cukup banyak di Mimika, nyatanya penawar atau antivenom dari bisa death adderbelum tersedia atau dibuat di Indonesia, melainkan baru diproduksi di Australia. Lebih dari itu, harganya sendiri terbilang tinggi yakni sekitar Rp80 juta untuk dosis satu vial.

Merawat Ular-Ular Eksotis oleh Komunitas Pencinta Reptil

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini