Gua Semar, Tempat Pertapaan Soeharto Cari Wangsit untuk Jadi Pemimpin

Gua Semar, Tempat Pertapaan Soeharto Cari Wangsit untuk Jadi Pemimpin
info gambar utama

Dijuluki sebagai tempat berkumpulnya para dewa, Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang indah. Namun juga menyimpan kisah sejarah, legenda hingga mitos-mitos leluhur.

Salah satu tempat yang menarik perhatian adalah situs tersembunyinya yakni, Gua Semar. Gua ini merupakan salah satu situs dalam kompleks Pertapaan Mandalasari di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Lokasinya tidak jauh dari Telaga Warna yang berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Dimuat dari Solopos, gua ini memiliki ruang yang luasnya sekitar 4 meter persegi dan sering digunakan sebagai tempat bertapa.

Gua Semar atau Gua Mandala Sari, yaitu Istana Begawan Sampoerna Djati (Semar), berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Letaknya di antara kawasan pariwisata.

Cerita Soeharto Memimpin Malam Gema Takbir di Lapangan Monas

Kawasan ini mudah dijangkau, hanya satu jam perjalanan dari alun-alun Wonosobo, namun tidak mudah memasukinya, rantai izin begitu panjang, pertama minta izin kepada juru kunci, lalu juru kunci harus minta izin kepada sesepuh sakti di perkampungan setempat.

Rantai izin yang panjang ini bukan tanpa alasan, Gua Semar telah terkenal sebagai tempat yang sakral bagi sebagian masyarakat Jawa. Bagi para pelaku mistik atau kebatinan, tempat ini selalu menjadi tujuan untuk bersemedi.

Tempat sakral ini konon dijaga oleh Eyang Semar sehingga dinamakan Gua Semar. Mereka yang melakukan pertapaan di gua ini adalah para raja Jawa hingga pejabat politik pada era modern, salah satunya adalah Presiden Republik Indonesia, Soeharto.

“Gua Semar ini konon dijaga Eyang Semar. Gua ini pernah menjadi tempat bertapa para raja Jawa dan mantan presiden ke 2 Soeharto,” tulis keterangan di depan Gua Semar.

Soeharto memang terkenal dengan laku spiritual yang telah dilakukan sejak masa muda hingga membekas dan dirawatnya hingga dewasa. Kebiasaan mendalami dunia mistik membuatnya sangat akrab dengan tempat-tempat tersebut, salah satunya adalah di Dieng.

Soeharto sebelum menjadi presiden merupakan nama yang akrab bagi penduduk kawasan Dieng. Dia sering bersemedi di Gua Semar dan dari sanalah konon wangsit menjadi pemimpin turun.

Selain Soeharto, konon beberapa presiden lain juga pernah berkunjung dan bertapa di Gua Semar ini, seperti proklamator kemerdekaan, Ir Soekarno dan Presiden ke 4, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Wangsit dari Gua Semar

Sebelum menjadi Presiden RI ke-2, nama Soeharto sudah dikenal penduduk Pegunungan Dieng. Sebab di sanalah, Soeharto pernah bersemedi, tepatnya di Gua Semar. Di sinilah konon Soeharto mendapat wangsit menjadi pemimpin.

Juru Kunci Gua Semar, Rusmanto menyebut Soeharto telah melakukan serangkaian pertapaan: di Gua Jambe Lima dan Gua Jambe: Pitu, lalu Gua Suci Rahayu di kawasan Gunung Selok, Cilacap, Jawa Tengah.

“Di Suci Rahayu itulah Soeharto melakukan penyucian awal,” tutur Rusmanto yang dimuat dari Tempo.

Langkah selanjutnya, Soeharto melakukan pertapaan di Gunung Srandil, masih di Cilacap, Gunung di tepi pantai itu dikenal sebagai tempat khusus untuk ziarah. Di sanalah dimakamkan para leluhur tanah Jawa.

Setelah melakukan pertapaan di Gunung Srandil, Soeharto melakukan tapa di Gunung Lawu, tempat menghilangnya raga Raja Brawijaya V. Di sini dirinya melakukan empat tahap pertapaan, di Argo Dalem, Argo Tumila, Argo Puruso, dan Argo Tiling.

Setelah itu, dia bertapa lagi di sebuah gunung kecil di Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah. Selain bertapa, di gunung tersebut juga ada acara nyekar di makam Syekh Jamu Karang.

“Barulah setelah itu, lokasi terakhir pertapaan dilakukan di kawasan Dieng,” ucap Rusmanto.

Rusmanto menyebut saat Soeharto datang, kondisi Dieng belum sebagus sekarang. Jalannya masih berbatu, menanjak dan berlubang. Salah satu tempat utama yang dituju oleh Soeharto adalah Gua Semar.

Menurut Rusmanto, Gua Semar adalah istana terakhir Mandala Sari alias Semar. Di gua itulah Eyang Semar bersemedi abadi setelah pertapaan di berbagai tempat. Bagi penganut kebatinan, urut-urutan pertapaan di tanah Jawa akan selalu berakhir di kawasan Dieng.

Rusmanto mengaku tidak langsung mengantar Soeharto bertapa. Dia mendapat cerita yang lengkap mengenai perjalanan Soeharto bertapa dari pamannya, Darmaji, yang ketika menjadi juru kunci.

Kisah Kasih BBM, Berganti-ganti Presiden Harganya Tetap Naik Juga

Ketika bertapa, Soeharto hanya ditemani oleh Darmaji. Para pengawalnya menunggu pada jarak yang agak jauh. Sebelum bertapa, Soeharto harus melakukan bimokular, atau mandi lulur untuk menghilangkan nafsu angkara murka.

Dari Gua Semar, Soeharto mandi di Telaga Warna, telaga yang melambangkan empat nafsu yang harus dikendalikan, yakni lawamah, amarah, sufiyah, dan mutmainah. Dan pengendalian nafsu itu dilakukan di Gua Jaran, yang terletak di utara Gua Semar.

Disebut jaran (kuda) karena gua itu dipercaya menurut cerita leluhur di Dieng. Awalnya adalah jaran milik Resi Kendali Seto yang bertujuan mengendalikan nafsu manusia yang ada di aliran hitam dan putih.

Soeharto melanjutkan pertapaan di Gua Sumur. Sedikit lebih lebar dari Gua Semar, dan memiliki sumber air yang tingginya stabil. Musim hujan atau kemarau, volume airnya tetap. Sumber air di gua tersebut juga disebut air kehidupan.

Dari penghuni Gua Sumur, Soeharto kemudian mendapat petunjuk: Jangan ragu untuk pasrah kepada Sang Kuwasa (Yang Kuasa), agar selalu dilindungi atau disembuhkan dari berbagai penyakit

Soeharto menutup perjalanan tapanya di Kawah Si Kijang, simbol hewan yang bisa dijadikan contoh bagi manusia atas kepintaran dan rasa rendah hatinya. Sebelumnya dia juga melakukan pertapaan di Kawah Sileri.

“Kawah ini, mengajarkan agar orang hidup untuk tidak melanggar empat weweler (aturan) yakni aturan keluarga, masyarakat, negara, dan Tuhan.”

Tempat yang sakral

Di bawah bangunan semacam pendapa, Rusmanto duduk bersimpuh menjaga gua yang cukup sakral di kalangan masyarakat setempat. Karena tak jarang wisatawan datang dari luar kota untuk sekadar berdoa atau menenangkan diri di gua ini.

Namun mengingat tempat wisata ini adalah kawasan pertapaan sehingga aura mistis dan sakral sangat kentara. Maka dari itu pengunjung harus menjaga tingkah laku, pikiran dan perkataan saat berada di lokasi pertapaan.

Wisatawan yang ingin masuk gua akan disuguhkan dengan ukiran ornamen batik Jawa yang menambah kesan mistik tempat tersebut. Dengan menyusuri beberapa anak tangga dengan lorong yang gelap dan sempit, wisatawan bisa langsung menuju ke ujung gua.

Film Janur Kuning, Pencitraan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Bau dupa begitu menyengat di hidung saat kaki mulai melangkah di mulut gua. Dengan sedikit tetesan air di dinding, wisatawan yang ingin masuk lebih dalam harus merangkak karena sempitnya dinding gua.

Dari dinding sempit itu terlihat cahaya lilin, dari sebuah bejana lengkap dengan dupa di tengahnya. Di tempat itulah para wisatawan yang ingin melakukan doa maupun menenangkan diri singgah.

Di Kompleks Telaga Warna juga terdapat gua lain seperti Gua Sumur dan Gua Pengantin.
Tak hanya umat Hindu yang berdoa di tempat tersebut, umat dari agama lain juga kerap berdoa di tempat itu untuk mencari ketenangan dalam berdoa kepada Tuhannya.

“Kadang juga ada orang yang meminta pesugihan di tempat ini, tetapi bukan di Gua Semar, karena Gua Semar untuk berdoa supaya lebih dekat dengan Tuhan, bukan untuk pesugihan,” jelasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini