Jejak Arkeologis Candi Borobudur, Bisakah Bertahan 1.000 Tahun?

Jejak Arkeologis Candi Borobudur, Bisakah Bertahan 1.000 Tahun?
info gambar utama

Pemerintah sempat berencana untuk menaikkan harga tiket untuk menaiki Candi Borobudur yakni berkisar Rp750 ribu per orang. Hal ini sempat mendapat sorotan publik dikarenakan kenaikan itu dinilai sangat tinggi dan tidak bersahabat bagi masyarakat umum.

Kendati demikian, kenaikan tersebut diputuskan oleh Pemerintah sebagai langkah pembatasan pengunjung. Hal ini untuk melindungi bangunan Candi Borobudur atau konservasi demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah.

Candi Borobudur memang sudah berusia lebih dari seribu tahun karena diperkirakan dibangun mulai abad ke 8 Masehi. Namun, candi Buddha terbesar di dunia ini terlantar selama beberapa abad sebelum ditemukan kembali pada 1814.

Suatu hari pada 1814, Hermanus Christiaan Cornelius diperintahkan oleh Letnan Gubernur Inggris Sir Thomas Stamford Raffles, berangkat menuju sebuah hutan di Karesidenan Kedu, Jawa Tengah.

Juru survei muda itu mendapat tugas penting untuk memeriksa sebuah bangunan besar yang tersembunyi di suatu wilayah bernama Bumisegoro, tempat ini tak jauh dari pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo.

Ketika tiba di hutan yang dirinya tuju, Cornelius menemukan bangunan batu raksasa yang tertutup oleh pohon, semak belukar, dan abu vulkanik gunung api. Agar bisa melihat wujud jelas monumen batu itu, dirinya mengerahkan sekitar 200 penduduk setempat.

Dilema Kunjungan Candi Borobudur, Antara Konservasi dan Kebutuhan Edukasi

Mereka dipaksa kerja rodi selama 45 hari menebang pohon, membabat dan membakar belukar, serta mengelupas tanah yang sudah menyelimuti candi. Dan Borobudur kemudian terjaga dari tidurnya yang pulas selama 9 abad lamanya.

Tim Hannigan dalam bukunya yang berjudul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa (2015) yang dimuat Kompas, menuturkan setelah upaya pembersihan rampung, Cornelius akhirnya bisa melihat kemegahan bangunan tersebut dengan lebih jelas.

“Ketika pekerjaan bersih-bersih selesai, Cornelius kiranya bisa memandangi suatu karya arsitektur yang luar biasa, satu setengah juta potongan batu andesit menjulang di antara tumpukan besar batang pohon yang digergaji dan tumbuhan rambat yang ditebas,” tulis Hannigan dengan kalimat sedikit berbunga.

Setelah ekspedisi selesai, Raffles menuliskan Candi Borobudur ke dalam bukunya yang terkenal, The History Of Java. Dalam buku yang terbit tahun 1817, Raffles menyebut adanya sebuah candi bernama Boro Bodo yang tak lain Candi Borobudur.

Berkat publikasinya itu, Raffles kemudian dianggap sebagai sosok yang menemukan kembali Candi Borobudur. Walau Hannigan menilai, Raffles sebenarnya tak bisa disebut sebagai penemu candi tersebut.

Bertahan 1.000 tahun

Sebelum ditemukan Raffles beserta anak buahnya pada abad 19, ingatan mengenai Candi Borobudur sebenarnya tak pernah hilang. Sebab keberadaannya disebut dalam naskah Jawa Kuno, misalnya Negarakertagama, Babad Tanah Jawi, dan Babad Mataram.

Catatan Eropa pertama tentang Candi Borobudur datang dari seorang bernama Frederik Coyett yang mencuri sejumlah patung di candi tersebut pada tahun 1733. Catatan Coyett itu jauh lebih dahulu dibandingkan penemuan Borobudur oleh Raffles.

Namun, harus diakui, karena publikasi The History of Java, Borobudur mendapat perhatian lebih luas. Sesudah buku itu terbit, Candi Borobudur sempat beberapa kali dibersihkan, misalnya tahun 1834 dan 1844.

Borobudur, A Walk To Remember

Proses pemugaran baru mendapat perhatian lebih baik saat dipimpin oleh Theodoor van Erp pada tahun 1907-1911. Sebelum itu, tempat itu hanya gundukan tanah dengan batu-batu candi yang berserakan dan sama sekali tidak tertata.

“Setelah dilakukan pemugaran oleh van Erp, candi ini sudah dapat dikunjungi oleh wisatawan dan dinikmati bentuknya,” kata mantan Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Dukut Santoso dalam buku 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur: Trilogi I (2011).

Akan tetapi, sesudah pemugaran yang dipimpin van Erp selesai, Borobudur masih mengalami sejumlah persoalan, baik secara struktural maupun material. Contoh kerusakan struktural adalah kondisi dinding tingkat I dan II ternyata masih miring dan melesak.

Masalah lain adalah sejumlah pagar langkan yang masih kosong dan tak ada susunan batunya. Selain itu tak semua arca Buddha di Borobudur yang langsung dikembalikan ke relung aslinya.

Kerusakan struktur itu, kata Dukut menyebabkan kerusakan material di Candi Borobudur. Wujudnya itu adalah adanya batu-batu yang retak dan pecah. Selain itu, ada beberapa blok batu di Borobudur bahkan sudah hancur sehingga tak bisa direkonstruksi lagi.

Pemerintah sebenarnya pernah melakukan upaya penyelamatan sejak tahun 1960. Pada Maret 1965, sempat dilakukan upacara sebagai tanda dimulainya pemugaran Candi Borobudur, namun upaya berhenti setelah peristiwa 1965.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah melakukan komunikasi dengan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk melakukan pemugaran yang dilakukan pada tahun 1973-1983.

Berkat pemugaran kedua itu, Candi Borobudur menjadi lebih kokoh dan diyakini bisa bertahan hingga 1.000 tahun lagi. Beberapa tahun setelah pemugaran, tahun 1991 Candi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia.

Bisakah bertahan?

Sejak 1814 upaya pemugaran, penelitian, dan konservasi telah dilakukan dengan melibatkan ribuan orang dan menghabiskan anggaran jutaan dollar AS. Namun, hingga kini, upaya merangkai kembali jejak arkeologis Borobudur belum sepenuhnya selesai.

Masih ada berbagai tindakan yang perlu dilakukan agar tidak mempercepat kerusakan dari Candi yang telah dibangun zaman Mataram Kuno ini. Juga bagaimana merawat peninggalan sejarah ini dari tangan-tangan jahil.

Salah satu yang menjadi ancaman bagi benda-benda purbakala ini adalah iklim dan kondisi geografis. Dr Soekmono, staf ahli pada Panitia Pemugaran Candi Borobudur menyebut ada 3 alasan mengapa Borobudur sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Pertama karena Borobudur dibangun di atas sebuah bukit. Ini diperkuat lagi dengan adanya tanah urukan yang ditimbun di atas bukit, di mana tiap lapis tanah urukan itu mempunyai daya dukung yang berbeda karena sifatnya berlainan.

Menaikkan Tarif Demi Merawat Candi Borobudur, Perlukah?

“Maka tanah itu mempengaruhi “angka aman” dari monumen budaya itu,” jelasnya yang dimuat di buku Sejarah Panjang Restorasi Candi Borobudur terbitan Litbang Tempo.

Alasan kedua adalah batu Candi Borobudur termasuk jenis yang lunak dibandingkan dengan batu Candi Prambanan sehingga lebih cepat terkikis air hujan. Kemudian bobot bangunan yang menghabiskan 55 ribu meter kubik batu jelas mengurangi daya dukung tanah.

Bukan hanya air hujan, menurut Soekmono, cuaca pun ikut-ikutan merusak Borobudur dan candi-candi lainnya. Bermacam spora yang dihembuskan angin menempel di batu tumbuh menjadi tanaman perusak candi.

Namun Soekmono meyakini setelah restorasi, kerusakan sebagaimana setelah restorasi van Erp tidak akan terjadi. Pasalnya akan ada biaya konservasi dan reservasi. Langkah penting lagi tindakan preventif dan represif agar bisa menjaga peninggalan budaya masa lalu ini.

Sebab saksi bisu sejarah ini menderita bukan oleh kedahsyatan alam saja, tetapi juga oleh perilaku manusia. Misalnya di saat ahli-ahli Belanda sibuk merancang restorasi pertama, rekan sebangsanya malah menghadiahkan bergerobak onderdil candi untuk Raja Siam.

Residen Kedu ketika itu menghadiahkan Sang Raja Siam 8 gerobak batu-batu Candi Borobudur, dan 50 relief. Tidak hanya itu, Sang Raja juga diberi oleh-oleh 5 patung Sang Buddha sendiri, 2 patung singa penjaga candi, dan lain-lain.

Hampir saja penggerogotan elemen-elemen Borobudur makin menjadi, ketika para ahli di Negeri Belanda mengusulkan agar relief-reliefnya dipindahkan saja ke Museum Leiden. Untunglah gagasan itu banyak penentangnya dari kalangan sendiri.

Selain rongrongan dari bangsa asing, Borobudur juga tidak luput dari pertikaian-pertikaian di kalangan bangsa sendiri. Misalnya, adanya sejumlah patung Buddha yang dikabarkan kepalanya dipenggal oleh masyarakat.

Tentunya melihat tantangan ini, upaya restorasi bukan menjadi titik akhir dari upaya penyelamatan candi yang merupakan ikon Indonesia ini. Namun juga menanamkan kebanggaan dan rasa memiliki kepada masyarakat itu sendiri.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini