Memahami Makna Galungan dan Kuningan yang Diperingati Umat Hindu

Memahami Makna Galungan dan Kuningan yang Diperingati Umat Hindu
info gambar utama

Pada Rabu, 8 Juni 2022, umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan untuk memperingati terciptanya alam semesta beserta seluruh isinya. Sebagai bentuk ucapan syukur, biasanya umat Hindu akan memberikan persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara.

Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu kembali merayakan Hari Raya Kuningan. Tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni mendatang. Kuningan menjadi hari di mana umat Hindu akan merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Hari raya umat Hindu ini terdiri dari beberapa rangkaian seperti penyucian diri, menghaturkan sesajen, memasang penjor, dan ritual sembahyang. Berikut penjelasan mengenai perbedaan Galungan dan Kuningan, rangkaian kegiatan selama perayaan, dan makna di balik hari raya tersebut:

Raja Naga Basuki, Dewa Penyeimbang Alam Semesta Kepercayaan Orang Hindu Bali

Galungan

Galungan | Wikimedia Commons
info gambar

Hari raya Galungan dirayakan setiap 6 bulan Bali (210 hari) yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan atau Rabu Kliwon wuku Dungulan. Wuku adalah kalender Bali yang perhitungannya 1 wuku sama dengan 7 hari dan 1 tahun kalender wuku terdapat 420 hari. Pada hari Galungan, umat akan bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Dalam Lontar Sundarigama dijelaskan makna Galungan yaitu Budha kliwon dungulan ngaran Galungan paitis kang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep. Artinya Rabu kliwon dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Inti dari Galungan ialah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang merupakan wujud dharma atau kebaikan dalam diri. Sedangkan kekacauan pikiran itu adalah wujud adharma yaitu keburukan atau kejahatan.

Rangkaian Galungan akan dimulai 25 hari sebelumnya yaitu dengan melaksanakan Tumpak Wariga. Masyarakat akan merayakan dengan mempersembahkan banten atau sesaji berupa bubur sumsum berwarna dan mencipratkan air suci ke semua pepohonan dan memohon agar pohon-pohon tersebut dapat segera berbuah.

Kemudian dilanjutkan dengan upacara Sugihan Jawa yang berarti hari penyucian segala segala sesuatu yang berada di luar diri manusia (Bhuana Agung).

Umat juga akan melaksanakan upacara Mererebon untuk menetralisir sesuatu yang negatif yang berada pada Bhuana Agung yang disimbolkan dengan membersihkan merajan (tempat suci) dan rumah. Dalam upacara ini, masyarakat juga akan menghaturkan banten di lingkungan Sanggah Gede, Panti, Dadya, hingga Pura Kahyangan Tiga.

Kemudian ada upacara penyucian diri sendiri (Bhuana Alit) yang disebut Sugihan Bali pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang. Umat akan mandi, membersihkan diri, dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih sebagai simbol penyucian jiwa raga jelang Galungan.

Lalu ada Hari Penyekaban yang bermakna mengekang diri dari hal-hal yang tidak dibenarkan agama. Dilanjutkan dengan Penyajan, di mana umat memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan.

Setelah itu, ada Hari Penampahan yang dilaksanakan tepat sehari sebelum Galungan. Hari ini, umat akan sibuk dengan membuat serta memasang penjor sebagai ungkapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Penjor merupakan batang bambu melengkung yang dihias sedemikian rupa. Penjor adalah simbol dari Naga Basuki yang memiliki makna kesejahteraan dan kemakmuran. Bagi umat Hindi di Bali, penjor juga merupakan simbol gunung yang dianggap suci.

Memasuki Hari Raya Galungan, umat akan memulai hari dengan bersembahyang di rumah masing-masing hingga ke pura di sekitar lingkungan. Galungan juga biasa diwarnai momen pulang kampung, di mana perantau akan menyempatkan diri untuk sembahyang di tanah kelahirannya.

Memahami Rangkaian Upacara Nyepi di Bali dan Makna di Baliknya

Kuningan

Ilustrasi Kuningan | Wikimedia Commons
info gambar

Pada hari Kuningan, umat Hindu akan melakukan pemujaan kepada para Dewa untuk memohon eselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-batin. Diyakini pada hari Kuningan para Dewa, Bhatara, dan Pitara akan turun ke bumi sampai setengah hari. Maka dari itu, upacara dan sembahyang di Hari Kuningan pun dilakukan setengah hari saja sebelum pukul 12.

Umat juga akan memasang tamian, kolam, dan endong. Tamiang adalah simbol senjata Dewa Wisnu, sedangkan kolem merupakan simbol senjata Dewa Mahadewa, dan endong adalah simbol kantong perbekalan yang dipakai oleh Para Dewata dan leluhur saat berperang melawan adharma.

Ada beberapa sesajen yang dihaturkan pada hari Kuningan, yaitu tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi. Sesajen ini terdiri dari nasi selangi, nasi kuning, lauk-pauk, daging bebek, telur dadar, wayang-wayangan dari bahan pepaya, dan ketupat. Nasi kuning biasanya wajib dibuat sebagai lambang kemakmuran dan ungkapan rasa terima kasih sebagai manusia yang telah menerima anugerah dari Sang Hyang Widhi.

Kemudian ada Sesayut Prayascita Luwih yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih, kelilingi dengan 11 nasi kecil-kecil, 11 tulung kecil, peras kecil, pesucian, panyeneng, 11 ketupat kukur, ketupat gelatik, panyeneng, buah kelapa gading yang muda, lis bebuu, sampian nagasari, dan canang burat wangi yang berisi aneka kue dan buah.

Selain menghaturkan sesajen, umat akan melakukan persembahyangan pada pukul 12 malam sampai 12 siang, waktu ketika Ida Sanghyang Widhi Wasa memberkahi dunia dan umat manusia. Waktu tersebut juga dinilai paling tepat untuk memohon perlindungan, juga karena energi alam semesta bangkit dari pagi hingga mencapai klimaksnya pada tengah hari.

Tradisi Hindu, dan Kilas Balik Kedatangan Migran Bali ke Pulau Lombok

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini