Kebun Raya Itera, Pusat Konservasi Tumbuhan Pamah Sumatra

Kebun Raya Itera, Pusat Konservasi Tumbuhan Pamah Sumatra
info gambar utama

Institut Teknologi Sumatera baru saja meresmikan Kebun Raya Itera pada Rabu, 8 Juni 2022. Kebun raya yang dikelola oleh perguruan tinggi tersebut disahkan oleh Rektor Itera Prof. Dr. Ing. Drs. Ir. Mitra Djamal, IPU., perwakilan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)

Kebun raya yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, ini telah dirintis sejak tahun 2016. Mengusung tema “Konservasi Tumbuhan Pamah Sumatera”, kehadiran kebun raya ini diharapkan dapat menjadi kawasan konservasi ex situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan tertata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, tematik atau bioregion untuk tujuan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Dalam pembangunannya, kebun raya ini didukung oleh BRIN untuk perkebunrayaan dan pengadaan tanaman koleksi, serta Kementerian PUPR dalam pembangunan infrastruktur sejak tahun 2018.

"Memory Card" Raksasa Bawah Laut di Perairan Bangka dan Belitung

Kebun raya sebagai sarana konservasi keanekaragaman hayati

Kebun Raya Itera | kebunraya.itera.ac.id
info gambar

Kebun Raya Itera merupakan kebun raya yang didirikan di bawah naungan perguruan tinggi, selain Kebun Raya Universitas Haluoleo dan Kebun Raya Universitas Palangkaraya.

Dijelaskan Rektor Itera bahwa pihak kampus menerima hibah lahan seluas 275 hektare dari Provinsi Lampung dan hal ini yang kemudian memunculkan gagasan untuk membangun kebun raya di sebagian lahan, yaitu seluas 75,5 hektare.

Pendirian Kebun Raya Itera memiliki tujuan untuk pemeliharaan koleksi tumbuhan, meningkatkan kuantitas dan koleksi tumbuhan, terutama jenis-jenis lokal, endemik, langka dan berpotensi dari hutan pamah Sumatera.

Menyediakan sarana dan prasarana penelitian di bidang konservasi, domestikasi, reintroduksi tumbuhan langka dan rehabilitasi lahan, serta sarana wisata yang sehat, nyaman, dan bernilai edukatif.

Plt. Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovsi BRIN, R. Hendrian mengatakan bahwa peresmian kebun raya ini akan menjadi momen awal dalam pengelolaan kebun raya yang merupakan satu pekerjaan jangka panjang.

Keberadaan kebun raya sendiri manfaatnya tidak dapat dirasakan secara instan. Untuk itu, diperlukan visi dan komitmen kuat, konsistensi, serta stamina luar biasa dari pengelola dan seluruh pemangku kepentingan.

“Pembangunan kebun raya sangat selaras dengan spirit green economy yang tengah digaungkan. Perannya tidak hanya sekedar untuk melestarikan keanekaragaman tumbuhan, tetapi juga mendorong riset untuk pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan secara berkelanjutan. Perhatian pada aspek utilization perlu lebih ditingkatkan, khususnya untuk memberi kontribusi yang lebih signifikan pada pembangunan nasional,” jelasnya.

Menurut Hendrian, aktivitas konservasi yang progresif yang dilakukan kebun raya dapat menjadi solusi dalam menanggulangi masalah kehilangan keanekaragaman hayati yang selama ini masih dialami di Indonesia.

Hutan Donoloyo, Tempat Kayu Jati Penyangga Istana Kerajaan di Tanah Jawa

Koleksi Kebun Raya Itera

 Kebun Raya Itera | itera.ac.id
info gambar

Dijelaskan Kepala UPT Konservasi Flora Sumatera Dr. Adi Pancoro, saat ini Kebun Raya Itera memiliki lebih dari 2.000 spesimen tumbuhan atau koleksi, 225 jenis tanaman anggrek khas Lampung dan Sumatra, serta 300 spesies tumbuhan non anggrek.

Koleksi Kebun Raya Itera berasal dari sumbangan tanaman koleksi dari Kebun Raya Bogor yang diambil dari berbagai pulau di Indonesia dan Asia, koleksi yang diambil dari Gunung Betung yang didukung BRIN, dan dari Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) yang menyumbang dari Gunung Rajabasa. Pihak pengelola kebun raya pun masih terus mengumpulkan dan mengembangkan tanaman koleksi serta terus melakukan konservasi.

Salah satu koleksi khas kebun raya ini adalah tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis) yang merupakan khas Lampung dan Sumatra. Di kebun raya ini pun telah dibangun Gaharu Center sebagai pusat riset tanaman gaharu di Sumatra dan Indonesia.

Kebun Raya Itera memiliki empat zona fasilitas, yaitu zona penerimaan, zona wisata, zona pengelola, dan zona koleksi. Pada zona penerimaan meliputi gerbang, plaza penerimaan, tanaman pengarah penerima, dan petunjuk akses. Zona wisata merupakan kawasan bebas dan terbuka untuk masyarakat seperti taman labirin, taman estetika, dan taman air mancur., dan ke depannya masih akan dibangun zona tanaman hias, taman tematik aromatik, taman tematik obat, dan lainnya.

Kemudian pada zona pengelola ada kantor pembibitan, rumah kaca pembibitan, dan tujuh paranet yang memiliki fungsi-fungsi khusus. Selanjutnya di zona koleksi merupakan area yang hanya bisa diakses untuk kepentingan penelitian.

Menurut keterangan Pengelola UPT Konservasi Flora Sumatera/Kebun Raya Itera, Alawiyah, keunikan dari kebun raya ini adalah keberadaan tanaman koleksi yang memiliki identitas jelas yang mampu membedakan kebun raya ini dengan yang lain, seperti adanya taman labirin dan embung dengan bentuk siger dan pulau Sumatra di bagian tengahnya.

“Masih banyak fasilitas yang akan disiapkan untuk mengisi Kebun Raya Itera nantinya seperti museum etnobotani, herbarium, restoran, visitor information center, klinik herbal, lawn atau padang rumput, hingga rumah adat dari daerah-daerah di Sumatra,” ungkap Alawiyah.

Kebun Raya Itera memiliki konsep arsitektur dan struktur bangunan yang mengacu pada gagasan smart building dan green campus technology yang dipadukan dengan kearifan lokal Sumatra. Pengaplikasian konsep smart building dapat dilihat dari penerapan pendekatan yang ramah lingkungan, mengutamakan efisiensi energi, air, serta perintisan penggunaan sumber daya yang bersih dan terbarukan.

Sementara itu, untuk nilai-nilai arsitektur tradisional akan diimplementasikan pada konsep zonasi, tata ruang, hingga detail-detail eksterior bangunan. Perpaduan secara keseluruhan akan mencerminkan kearifan lokal dari berbagai penjuru Sumatra.

Migrasi Burung, Tamu Tahunan dari Utara yang Ditunggu Para Petani

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini