Kisah Jaya Pelabuhan Kalimas, Titik Mula Perkembangan Kota Surabaya

Kisah Jaya Pelabuhan Kalimas, Titik Mula Perkembangan Kota Surabaya
info gambar utama

Terik matahari pada siang hari tidak mengurangi denyut perekonomian di kawasan Kalimas Utara, Surabaya. Para pekerja masih terlihat sibuk melakukan bongkar muat barang di pergudangan.

Kesibukan sangat terlihat di Pelabuhan Kalimas yang kini menjadi pelayaran rakyat. Kapal kayu masih sering bersandar untuk bongkar muat karena tak mungkin bisa masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Pada masa silam, Pelabuhan Rakyat Kalimas yang telah berdiri pada abad ke 14 ini menjadi jantung perdagangan kota Surabaya. Ahmad, pemilik warung makan di sekitar Sungai Kalimas masih ingat cerita dari kakeknya mengenai pelabuhan ini.

Ahmad sering mendengar betapa sibuknya Sungai Kalimas. Sampan dan perahu bermuatan penuh barang sampai ikan hilir mudik dari Jembatan Merah hingga Kayoon di tengah kota. Dokar dan pedati menyusuri jalan.

“Saya tidak pernah melihat langsung, hanya bisa membayangkan betapa ramai suasana saat itu,” ucapnya yang dimuat Liputan6, Jumat (10/6/2022).

Bali dan Surabaya di Antara New Ports of Call Oleh Oceania Cruises'

Namun kini sudah tidak ada lagi perahu penuh muatan menyusuri Kalimas hingga ke selatan Surabaya, atau kapal-kapal pinisi berjajar rapi di pinggir dermaga, Buruh angkat dan awak kapal sibuk hilir mudik mengurusi proses bongkar muat.

Walau begitu, pelabuhan Kalimas yang berada di ujung utara Surabaya ini telah menjadi warisan sejarah maritim. Salah satu bagian penting bagi jalur perdagangan rempah Nusantara dan juga awal mula kota Surabaya.

Kalimas awal mula kota

Setelah diserahkan oleh Mataram akibat perjanjian kompeni yang membantu penaklukan Surabaya. Sejak 1743, Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) mulai mencengkram Surabaya sebagai wilayah kekuasaannya.

Sejak saat itu, Surabaya diputuskan sebagai pelabuhan utama dari rangkaian kegiatan pengumpulan hasil produksi pertanian dan perkebunan di Jatim, menggeser peran Gresik dan Tuban yang sebelumnya merupakan kota pelabuhan penting.

Mereka kemudian membangun benteng di tepi Sungai Kalimas, selain memperkuat pertahanan, juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan. Lokasi di tepi sungai menjamin ketersediaan air minum sekaligus penghubung daerah pedalaman.

“Karena VOC punya kepentingan berdagang, otomatis mereka butuh sarana untuk mengangkut barang dagangannya ke luar negeri,” ujar Purnawan Basundoro, Guru Besar Ilmu Sejarah Kota Universitas Airlangga.

Setelah posisinya semakin kuat, kompeni lantas bergerak menata kota. Misalnya di sekitar Jembatan Merah banyak dibangun gedung-gedung perusahaan swasta, perbankan sampai gudang untuk penyimpanan.

Termasuk di dekatnya berkembang jadi sentra perdagangan yang didominasi oleh pedagang Tionghoa. Menurut Purnawan, di kiri dan kanan Kalimas banyak dibangun gedung yang berfungsi sebagai gudang menghadap arah sungai.

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho menyebut kompeni membangun Pelabuhan Kalimas sebagai tempat pertemuan berbagai komoditas yang diperdagangkan. Di sisi utara sampai ke timur Kalimas dibangun loji-loji yang berfungsi sebagai gudang.

Menyambut Pelabuhan Sibolga yang Lebih Luas

Beberapa infrastruktur pun dibenahi oleh kompeni agar kapal semakin mudah melintas. Misalnya mereka membuat Jembatan lipat otomatis di atas Sungai Kalimas. Jadi saat kapal lewat, jembatan ini bisa dilipat.

Kini jembatan ini dinamakan jembatan “petekan” yang artinya dipencet atau ditekan. Pasalnya, jembatan ini bisa dibuka dan ditutup ketika ada kapal berukuran besar yang lewat dari laut Jawa menuju Jembatan Merah hingga Mojokerto.

Menara Syahbandar juga menjadi salah satu jejak kejayaan pelabuhan ini. Bangunan ini menandakan peran pelabuhan yang begitu penting pada masa lalu. Dengan ketinggian 10 meter, keberadaan menara ini menjadi eksistensi Syahbandar.

“Sekaligus menunjukkan betapa pentingnya pelabuhan ini bagi penguasa lantaran menjadi pusat pertemuan banyak budaya yang dibawa para pedagang,” tulis Endi Aulia Garadian dalam Pelabuhan Tua Kalimas Surabaya, Kisah Menarik Si Pelabuhan Rakyat.

Menurut Endi, pelabuhan utama tersebut menjadi jantung perdagangan kota Surabaya. Dekat dengan pelabuhan tersebut ada sebuah jalan bernama Heerenstraat yang merupakan sentral bisnis bongkar muat.

Kompeni kemudian membagi peruntukan wilayah, sisi barat Kalimas jadi perkantoran perusahaan swasta sampai pemerintah. Sementara sisi timur mulai kawasan Pecinan sampai Ampel jadi sentra perdagangan dengan pembatas Jembatan Merah.

Gedung berarsitektur kolonial kini masih bisa terlihat di sekitar Jalan Rajawali dan sekitarnya. Termasuk di kawasan perdagangan sekarang yakni di Kembang Jepun, Jalan Panggung, Pabean Cantikan, Kapasan.

Kalimas yang tergeser

Pelabuhan Kalimas menjadi titik kumpul berbagai komoditas perkebunan yang dipanen dari pedalaman Jatim. Melalui jalur itu pula, Surabaya masyhur sebagai kota pelabuhan dan perdagangan modern di Hindia Belanda pada masa itu.

Dalam Oud Soerabaia (1931) G.H Von Faber menuliskan melalui Pelabuhan Surabaya pada 1851 nilai ekspor mencapai 10,9 juta gulden sedangkan nilai impor sebesar 4,2 juta gulden. Pada 1856 nilai ekspor naik menjadi 20,9 juta gulden dan nilai impor sebesar 6,5 juta gulden.

Howard Dick dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History: 1900-2000 menuliskan aktivitas perekonomian dan posisi Surabaya pada awal abad 20, setara Singapura, Kalkuta di India, Shanghai di China dan kota besar lainnya di Asia.

“Surabaya menjadi pelopor industrialisasi di Hindia Belanda saat kota besar lain seperti Batavia dan Semarang belum berkembang menjadi kota industri besar,” jelas Purnawan.

Pelabuhan Internasional Kijing, Pintu Perdagangan Baru di Wilayah Timur

Namun melihat kegiatan perekonomian ini, Pelabuhan Kalimas dinilai tak mampu lagi menampung aktivitas pelabuhan, terutama bila kapal besar hendak merapat. Karena itulah dibangun Pelabuhan Tanjung Perak pada di sebelah barat.

Selain mendukung perekonomian, pembangunan pelabuhan baru juga demi kepentingan pertahanan militer Belanda. Ini menjadi penanda dari meredupnya Pelabuhan Sungai Kalimas karena tidak lagi menjadi pelabuhan utama.

Namun paling tidak, sekarang pelabuhan ini sudah punya luas sebesar 5,2 hektare. Setiap harinya ada 50-60 armada keluar masuk pelabuhan. Kapal-kapal ini umumnya datang dari berbagai belahan Indonesia, terutama bagian timur.

“Hal ini memang tidak bisa dilepaskan dari posisi Surabaya yang menjadi penghubung antara Indonesia Barat dengan Indonesia Tengah dan Timur,” jelas Endi.

Pelabuhan Kalimas juga istimewa karena menjadi wadah alternatif bagi nelayan-nelayan dengan kapal kecil yang tersingkir dari Pelabuhan Tanjung Perak. Tak heran pelabuhan ini lebih dikenal sebagai pelabuhan rakyat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini