Menengok Taman Sriwedari, Tiruan Taman Surga yang Tinggal Kenangan

Menengok Taman Sriwedari, Tiruan Taman Surga yang Tinggal Kenangan
info gambar utama

Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Solo menyimpan banyak sekali unsur sejarah, kebudayaan, dan kesenian. Apalagi dengan keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran yang menjadi identitasnya.

Di samping itu, Solo juga memiliki sebuah Taman Hiburan Rakyat (THR) yang menjadi kebanggannya, yakni Sriwedari. Taman ini dibangun sebagai tempat di mana warga Solo seringkali menghabiskan waktunya.

Taman hiburan ini juga berperan dalam penyebaran seni dan budaya Solo kepada anak muda. Banyak pula masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dengan bekerja di tempat ini.

Tetapi sengketa lahan yang tak berkesudahan membuat kegiatan di Taman Sriwedari terganggu. Hingga kini taman yang telah puluhan tahun menjadi lambang kota Solo ini tutup permanen dan hanya tinggal kenangan.

Dikutip dari Kompas, Jumat (10/6/2022) Taman Sriwedari sejak dahulu dikenal sebagai Taman Raja karena dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, yaitu Sinuhun Pakubuwono X pada 1899, sebagai tempat hiburan rakyat, abdi dalem dan semua sentana dalem keraton.

Taman Sriwedari ini dibangun karena terinspirasi dari keberadaan taman di surga. Taman ini diresmikan pada Januari 1901 dan mulai dijadikan kawasan rekreasi. Taman ini dibangun di atas lahan yang dibeli PB IX dan diberikan kepada putra mahkotanya PB X.

Lokasi tanah yang kini menjadi Taman Sriwedari mulanya milik seorang Belanda bernama Johannes Busselaar. Pembelian tanah tercatat dalam akta notaris dengan nomor 10 tanggal 13 Juli 1877 seharga 65.000 Gulden.

Menikmati Semangkuk Tengkleng, Semangat Bertahan Hidup Masyarakat Solo

Pada periode tahun 1905 sampai 1917, Taman Sriwedari mengalami pemugaran dan pengubahan fungsi. Penambahan bangunan dilakukan pada periode tersebut, hingga taman ini memiliki kebun binatang, bioskop, pentas pagelaran wayang orang dan wayang kulit.

Dimuat dalam Majalah Kejawen terbitan Balai Pustaka edisi 28 Maret 1928, disebutkan bahwa istilah Sriwedari sendiri berasal dari Serat Arjunasasra. Dalam serat itu disebutkan bahwa Taman Sriwedari merupakan taman buatan yang keindahannya layaknya taman di surga.

Keindahan taman milik Prabu Arjunasasra ini mampu menandingi taman surga karena diciptakan oleh Sri Batara Wisnu. Ketika itu Prabu Arjunasasra pun begitu gembira karena taman buatan itu sangat mirip dengan yang ada di kahyangan.

Popularitas Taman Sriwedari

Taman Sriwedari memang telah mengesankan sejak masa lampau. Hal itu bisa disaksikan lewat sebuah buletin De Locomotief edisi 31 Mei 1935. Kolom ini berjudul Solo Stadstuin: de Sriwedari Centrum van Vermaak voor geheele Bevolking (1935).

Ditulis oleh seorang koresponden yang tidak disebutkan namanya. Pewarta itu menyebut bahwa sejak akhir Mei 1935, Taman Sriwedari sedang gencar melakukan pemasaran melalui media massa.

Pemasaran itu melambungkan nama Sriwedari yang tak hanya dikunjungi oleh para wisatawan lokal, namun juga mancanegara. Tidak heran, hal itu bisa dilihat dari besarnya antusias wisatawan Eropa untuk datang ke sana.

“Taman kota Sriwedari akhir-akhir ini menjadi pusat hiburan, tidak hanya bagi orang pribumi, tetapi juga bagi orang Eropa,” catat koresponden itu yang dinukil dari National Geographic.

De Locomotief melalui redaksi beriklannya menyebut Taman Sriwedari memiliki jalan setapak yang indah, pepohonan yang rindang dan akan mengundang para pengunjung untuk berjalan-jalan.

Sejarah Hari Ini (21 Desember 1957) - Kantor Telepon Otomat Solo Dibuka Kembali

Digambarkan juga bahwa anak-anak bisa memanjakan diri di sana. Pasalnya terdapat permainan seperti jungkat-jungkit, ayunan, kuda Bima dan dua gajah bernama Sultan dan Sahat yang menjadi atraksi menarik bagi anak-anak.

Selain itu, kehadiran Stadion Sriwedari juga memantik antusias pengunjung. Stadion megah ini yang mengawali perjalanan sepak bola di Hindia Belanda. Khalayak penggemar sepak bola tentunya akan menikmati pertandingan-pertandingan bergengsi di stadion ini.

“Stadion ini adalah salah satu lapangan sepak bola paling indah di Hindia Belanda yang sebagian besar telah diterangi oleh pencahayaan lampu yang cemerlang,” terusnya.

Selain fasilitas lapangan hijau, ada pula bioskop yang menyajikan film-film box office di zamannya. Menurut penulis, tayangan bioskop selalu ramai bagai tak terdampak dari krisis malaise yang mengguncang dunia.

Di Taman Sriwedari ada pula teater yang sohor bernama Wayang Orang Sriwedari. De Locomotief menyebutnya sebagai seni teatrikal terbaik yang ada di Jawa dan bahkan menarik perhatian orang-orang Eropa.

Belum habis di situ, terdapat juga kebun binatang yang menjanjikan tontonan yang tidak biasa. Hewan-hewan di kebun binatang itu sangat terawat dengan baik, memiliki banyak jenis, dan terus dikembangkan.

Pada akhir beritanya, De Locomotief juga menawarkan museum antik tempat ditampilkannya topeng-topeng Jawa klasik yang unik. Selain itu ada juga senjata dan temuan bersejarah (artefak) dari zaman Hindu Kuno.

Tinggal kenangan

Selain sebagai tempat rekreasi, Taman Sriwedari juga menyimpan banyak kisah sejarah. Salah satunya adalah penyelenggaran PON pada tahun 1948. Terpilihnya Solo karena adanya Stadion Sriwedari dan fasilitas kolam renang.

Taman ini juga selalu menjadi tempat penyelenggaraan tradisi hiburan Malam Selikuran di Solo sejak masa Pakubuwono X. Namun banyaknya sejarah yang tercipta tidak membuat taman ini terhindar dari masalah.

Dilansir dari Tempo, sengketa perebutan hak milik taman ini terjadi antara pihak keluarga ahli waris RMT Wirjodiningrat selalu penggugat dan Pemerintah Kota Solo selaku tergugat. Sengketa ini memiliki akar masalah yang cukup panjang.

RMT Wirjodiningrat sendiri merupakan perantara dalam proses pembelian lahan yang transaksinya tertanggal Juli 1877. Pada tahun 1970, sebanyak 11 trah RMT Wirjodiningrat mendaftarkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Solo.

Dari gugatan itu diputuskan lahan Sriwedari seluas 9,9 hektare menjadi milik ahli waris RMT Wirjodiningrat. Namun Pemkot Solo tidak tinggal diam, segala upaya hukum terus dilakukan untuk mendapatkan kembali hak atas tanah Taman Sriwedari.

Sejarah Hari Ini (11 November 1953) - Bung Karno Resmikan Patung Ronggowarsito di Solo

Terhitung setidaknya telah 15 kali Pemkot Solo kalah dalam gugatan melawan ahli waris lahan Taman Sriwedari. Meski begitu, Wali Kota, Gibran Rakabuming Raka bertekad untuk terus memperjuangkan Taman Sriwedari agar tetap menjadi milik Pemkot dan warga Solo.

“Kita kan bekerja sekeras mungkin untuk mempertahankan Sriwedari ini. Ini aset terbesar kita,” ujar Gibran yang mengutip Merdeka.

Hakim Pengadilan Negeri menolak gugatan secara derden verzet atau melalui pihak ketiga yang dilakukan Pemkot Solo pada sidang yang digelar Rabu, 8 Juni 2021 lalu. Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPP) sebagai pihak ketiga menyatakan tidak akan menyerah.

Akibat konflik sengketa antara Pemkot Solo dengan ahli waris lahan tersebut, saat ini beberapa bangunan di Taman Sriwedari kurang terawat, salah satunya adalah Gedung Wayang Orang (GWO).

Hal ini ditambah antusias masyarakat yang sudah mulai berkurang untuk menonton pertunjukan wayang orang. Selain itu penyewa gedung juga lebih memilih menyewa gedung lain untuk mengadakan acara tersebut.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini