Permasalahan Stunting Bisa Dicegah dengan Teknologi Nuklir, Bagaimana Caranya?

Permasalahan Stunting Bisa Dicegah dengan Teknologi Nuklir, Bagaimana Caranya?
info gambar utama

Tak hanya bergelut dengan penyakit-penyakit yang rentan dialami orang dewasa dan lansia, nyatanya Indonesia juga masih harus memerangi stunting pada bayi. Seperti yang kita ketahui bahwa stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Umumnya, penderita stunting juga rentan terhadap penyakit dan memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah.

Rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi sejak janin hingga usia dua tahun merupakan penyebab stunting. Ditambah lagi dengan buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan.

Tingginya prevalensi stuntingjangka panjang akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan yang juga dapat berkontribusi pada kerugian ekonomi bagi Indonesia. Untuk itu, menuju Indonesia Emas pada tahun 2045, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi kasus stunting.

Pemerintah melibatkan berbagai pihak untuk mengidentifikasi penyebab stunting, pendampingan aktif untuk masyarakat kurang mampu, melakukan edukasi dan konseling kepada masyarakat, meningkatkan daya beli masyarakat, mempermudah akses layanan kesehatan, melakukan intervensi nutrisi, menjamin ketersediaan pangan, menjaga dan meningkatkan kesehatan lingkungan dan sanitasi.

Baru-baru ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Deteksi Radiasi dan Analisis Nuklir (PRTDRAN) menjelaskan tentang teknologi nuklir yang dapat digunakan untuk mencegah stunting. Bagaimana caranya?

Menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat, Apa Itu Penyakit Cacar Monyet?

Stunting di Indonesia

Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tahun 2022 ini angka stunting di Indonesia mencapai 24,4 persen. Angka ini masih berada di atas standar yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO yakni 20 persen. Pemerintah Indonesia menargetkan angka stunting turun hingga 14 persen pada 2024.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan bahwa kasus stunting dapat menyebabkan kerugian Indonesia hingga lebih dari Rp300 triliun setiap tahunnya. Berdasarkan kajian Bank Dunia, kerugian ekonomi akibat stunting dan kekurangan gizi mencapai 2-3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

Penurunan kasus stunting terus diupayakan demi menciptakan generasi bangsa yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Adapun beberapa pencegahan yang dapat dilakukan antara lain memenuhi kebutuhan gizi bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan kemudian dilanjutkan dengan MPASI, membawa balita secara rutin ke Posyandu, memenuhi kebutuhan air bersih, meningkatkan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir melalui teknik analisis nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kandungan nutrisi makanan. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengetahui terjadinya malnutrisi pada anak dan menjadi salah upaya dalam pencegahan stunting di Indonesia.

Peneliti Ahli Utama PRTDRAN Muhayatun menjelaskan penyebab malnutrisi yang dialami oleh anak-anak tak hanya kekurangan nutrsi, tapi bisa juga kelebihan asupan nutrisi. Untuk penyebab malnutrisi sendiri bisa dari kurangnya variasi makanan, pola makan kurang baik, lingkungan tidak sehat, juga permasalahan poverty dan equality di Indonesia.

Pada webinar “Peran Nuclear Analytical Technique dalam Kontribusi Pencegahan Stunting di Indonesia” yang digelar BRIN melalui PRTDRAN, dijelaskan bagaimana stunting menjadi prioritas nasional dan teknologi nuklir mempunyai peran penting dalam mengatasi masalah stunting.

Nuclear analytical technique atau teknik analisis nuklir di sini adalah bagaimana kita mampu mendeteksi secara baik terkait dengan multi elemen yang ada di dalam sampel yang akan kita deteksi, yang dilakukan di analisis nuklir adalah kita mengedepankan teknologi berbasis nuklir khususnya yang berbasis gamma ray yaitu metode Neutron Activation Analysis , X-ray yaitu metode X-ray Fluorescence, gabungan antara gamma ray dan X-ray yaitu Accelerator Based Ion Beam Technique maupun dengan metode yang lebih kompleks yaitu Synchrotron Radiation Technique,” jelas Muhayatun.

Muhayatun menerangkan lima kelebihan teknik analisis menggunakan teknologi nuklir, yaitu simultan, tidak merusak, selektif-sensitif, tidak perlu sampel yang banyak, dan efektif dari segi waktu.

“Teknis analisis nuklir ini memberikan hasil yang memuaskan dalam penentuan komposisi zat gizi khususnya mineral mikro dan makro, di mana data riset ini akan digunakan sebagai informasi atau evaluasi status gizi pada bahan pangan dan asupan pada anak sekolah, batita atau batuta sebagai langkah awal asesmen kecukupan gizi,” tambahnya.

Dari sampling berbagai bahan makanan yang dikonsumsi oleh anak balita di Pulau Jawa, yaitu Bandung Barat, Lebak, dan Lamongan, ditemukan bahwa masih banyak anak-anak kekurangan gizi karena jumlah mikronutrien yang dikonsumsinya di bawah angka kecukupan gizi.

Pada studi kasus di daerah sentra industri juga ditemukan bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada mikronutrien dalam makanan dalam suatu daerah. Sehingga jika membahas soal permasalahan gizi bukan hanyadari pemenuhan gizi saja, tetapi juga dikaitkan dengan lingkungan sekitar karena keduanya saling melengkapi.

Berpotensi Menjadi Pandemi, Apa Itu Virus Hendra dan Bagaimana Penularannya?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini