Jengkol, Si Bau Asli Indonesia yang Kaya Akan Manfaat

Jengkol, Si Bau Asli Indonesia yang Kaya Akan Manfaat
info gambar utama

Jengkol (Archidendron pauciflorum atau Archidendron jiringa) merupakan tumbuhan asli Indonesia yang cukup digemari. Tumbuhan ini memiliki buah yang berwarna cokelat tua dengan bau khas.

Jengkol digemari karena rasanya yang menggugah selera makan. Bila pintar mengolah, baunya yang menyengat bisa diminimalisir. Biasanya jengkol diolah menjadi masakan sedap dan nikmat seperti rendang, gulai, semur, maupun sambal balado.

Menukil dari Rimba Kita, Minggu (12/6/2022) tidak ada sumber yang jelas mengenai asal mula pohon jengkol. Namun para ilmuwan sepakat bahwa tanaman beraroma khas ini berasal dari negara-negara tropis, seperti Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Tumbuhan ini memang tersebar di berbagai kawasan Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand. Di tiap-tiap negara, manfaat tanaman ini juga berbeda-beda.

Masyarakat Indonesia menyebut tanaman ini dengan istilah jengkol, sementara di Malaysia tanaman ini dikenal dengan nama jering, di Myanmar disebut da nyin thee, serta di Thailand jengkol disebut luk nieng atau luk neang.

Identik dengan Bau yang Khas, Produksi dan Konsumsi Jengkol Kian Meningkat

Tidak hanya di negara lain, di Indonesia sendiri jengkol memiliki nama yang berbeda di setiap daerah. Di masyarakat Sunda orang menyebutnya kicaang, di Sumatra menyebutnya jaring atau jariang, sementara di Sulawesi Utara menyebutnya lubi.

Jengkol memang telah menjadi bagian dari masyarakat, salah satunya dalam buku Sejarah Keraton Yogyakarta (2009) karya Ki Sabdacarakatama yang mengutip buku babad Giyanti tulisan Yosodipuro.

Dia menyebut, pohon jering atau jengkol pernah digunakan sebagai patok cikal bakal calon kota Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono I, usai perjanjian Giyanti. Namun demikian, makanan ini memang kurang populer bagi masyarakat Jawa.

Jengkol lebih populer di kalangan masyarakat Betawi, Pasundan atau Sunda dan Sumatra. Namun bagi orang Sumatra makanan berbahan jengkol cenderung dianggap sebagai makanan murahan.

Penyebabnya, biji jengkol bisa menimbulkan bau tak sedap pada nafas dan sisa pencernaan. Pemakan jengkol bahkan sering menjadi ejekkan orang sekelilingnya. Tetapi uniknya, masih banyak orang-orang yang makan jengkol.

Selain rasanya yang menggugah selera. Ternyata tanaman jengkol memiliki berbagai manfaat. Berdasarkan penelitian, jengkol mampu menurunkan kadar gula darah setelah makan dan beragam manfaat lainnya.

Si bau dengan berbagai manfaat

Shukri Radhia dan kawan-kawan dalam penelitian menunjukan bahwa jengkol mampu menurunkan kadar gula darah setelah makan. Tidak hanya itu, para ahli berpendapat jengkol baik untuk mencegah penyakit diabetes dan mengendalikan gula darah.

Pada penelitian itu, para peneliti melihat kelompok tikus yang makan jengkol memiliki kelenjar langerhans lebih aktif. Kelenjar ini menghasilkan hormon insulin dan berbagai hormon lainnya yang mengatur gula darah di dalam tubuh.

“Studi ini mengevaluasi efek menguntungkan dan toksik dari diet jering pada jaringan dan organ pada tikus normal dan diabetes.” tulis para peneliti yang dimuat di Mongabay Indonesia.

Dikutip dari Halosehat.com, tanaman ini juga dapat mencegah penyakit maag, mengurangi peradangan, mencegah amnesia, hingga menjaga kesehatan ibu hamil, sebab jengkol mengandung fosfor, yaitu nutrisi yang baik untuk pembentukan tulang pada ibu hamil.

Fosfor sangat berguna bagi pembekuan darah, fungsi ginjal, perbaikan jaringan dan sel, kontraksi otot dan irama jantung yang normal. Namun mengkonsumsi makanan ini harus dilakukan dengan porsi yang cukup/proporsional.

Dalam Jurnal Biosains, Indah Sinaga, Roslina, dan Riyanto menunjukkan bahwa jengkol memiliki sejumlah senyawa kimia yang khas. Salah satunya adalah asam jengkolat. Senyawa ini merupakan asam amino alifatik yang mengandung sulfur dan bersifat toksik.

Diekspor ke Jepang Sebanyak 4 Ton, Petai dan Jengkol Indonesia Makin Moncer

Selain itu, pada tanaman jengkol juga terdapat glikosida, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A dan B1, minyak atsiri, saponin, alkaloid, terpenoid, flavonoid, serta tannin yang berpotensi sebagai insektisida, larvasida, dan zat toksik terhadap wereng cokelat

Dari ekstrak etanol kulit jengkol juga memiliki manfaat sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans dan Escherichia coli. Senyawa aktif ini terdapat dalam tumbuhan jengkol pada dosis tinggi.

“Oleh karena itu, perlu dilakukan uji toksisitas untuk mengetahui efek toksik dan ambang batas penggunaannya sebagai obat,” ucap mahasiswa dari Fakultas Biologi Universitas Medan ini.

Dalam sejarah, penggunaan jengkol dalam dunia medis sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Hal ini diungkapkan oleh ahli botani asal Inggris, Isaac Henry Burkill (1935) melalui buku catatannya.

Dalam bukunya yang berjudul, Dictionary of The Economic Product of The Malay Peninsula, jengkol selain dipakai sebagai lauk pauk, juga dipakai untuk obat diare dalam dunia medis, bahan keramas rambut dan bahan penambah karbohidrat.

Segala lapis suka

Hendra Gunawan dalam Buku 100 Spesies Pohon Nusantara Target Konservasi Ex-Situ Taman Keanekaragaman Hayati (2019) menyebut pohon jengkol tumbuh dengan mudah, hidup pada beberapa tipe tanah mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 mdpl.

Tinggi pohon jengkol bisa mencapai sekitar 25 meter dengan diameter batang sekitar 40 sentimeter. Batangnya tegak lurus, tidak berbanir, mempunyai cabang lebih dari 3 meter dari permukaan laut.

Daunnya majemuk, anak daun berbentuk jorong melebar. Daun yang masih muda lebih lemas dan berwarna merah keunguan. Buahnya berbentuk polong pipih dan membelit. Buah masak, polongnya akan membesar dan tempat biji membulat, tiap polong berisi 5-7 buah.

Sementara itu, bunga jengkol mempunyai warna ungu, sedangkan mahkota bunga yang dimiliki berbentuk lonjong dan berwarna putih kekuningan dan putiknya berbentuk silindris dengan warna yang serupa.

Selain bunga, pohon ini juga menghasilkan buah dan biji. Bagian inilah yang paling digemari oleh masyarakat Asia Tenggara. Buah jengkol berwarna coklat kehitaman dengan bentuk pipih. Di dalam buah ini terdapat biji yang merupakan jenis biji berkeping dua.

Pohon jengkol memiliki musim bunga setiap tahun, terutama pada Juli dan Agustus. Berkembang secara generatif melalui biji, namun juga bisa melalui vegetatif, yaitu melalui cangkok, okulasi dan sambungan.

Tak Banyak yang Pernah Melihat, Inilah Wujud Pohon Jengkol

Pohon jengkol merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah beradaptasi dan dapat tumbuh secara liar. Belum ada data dari IUCN maupun CITES yang mengkategorikan jengkol dengan status langka maupun terancam punah.

Di Sumatra, pohon jengkol tumbuh di lereng-lereng pegunungan Bukit Barisan, pekarangan dan ladang-ladang penduduk. Orang Sumatra memang belum terbiasa membudidayakan tanaman jengkol.

Begitu juga di Jakarta, konon orang-orang Betawi banyak yang menanam pohon ini di pekarangan-pekarangan rumah. Misalnya di wilayah Pondok Gede dan Lubang Buaya. Sekarang dua daerah tersebut terkenal karena semur jengkolnya.

Jengkol agaknya sudah ada sepanjang umur peradaban manusia di Nusantara. Seperti yang dikatakan Sejarawan Jakarta JJ Rizal, jengkol ini bukan hanya dikenal di Jakarta, tetapi juga di daerah lain di Indonesia.

“Tidak ada catatan resmi. Tetapi jengkol sepertinya identik dengan makanan rakyat miskin, rakyat pinggiran. Makanan ini kan baunya tidak sedap, dianggap makanan sampah. Dahulu mungkin orang kota tidak terlalu peduli, tetapi sekarang sepertinya banyak orang suka,” terangnya yang dimuat Merdeka.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini