Cafe Dangdut Menggoyang New York dengan Kopi Lokal dan Musik Indonesia

Cafe Dangdut Menggoyang New York dengan Kopi Lokal dan Musik Indonesia
info gambar utama

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Dengan luas perkebunan kopi mencapai 1,2 juta hektare, total produksi kopi Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 berjumlah 742 ribu ton. Selain varietas robusta, Indonesia juga dikenal memiliki sejumlah kopi khas, seperti kopi luwak, kopi Mandailing, dan arabika dari Gayo, Kintamani, Toraja, hingga Flores Bajawa.

Tak hanya menghasilkan biji kopi terbaik, Indonesia juga memiliki beberapa kedai kopi lokal yang punya sajian istimewa. Tidak terbatas di dalam negeri, banyak pula kedai kopi milik orang Indonesia yang buka di negara lain, tentunya dengan sajian kopi khas Nusantara. Salah satunya adalah Cafe Dangdut yang ada di New York, Amerika Serikat. Kafe tersebut merupakan milik penyanyi dangdut Fitri Carlina beserta rekannya yaitu Dina Fatimah dan Roy Sembiring.

"Kita lihat peluang banyak sekali di Amerika dan New York juga, termasuk importir terbesar di Amerika mengenai kopi dan kita sebagai produsen terbesar di Indonesia. Mengenai kopi, saya rasa Indonesia paling besar dari macam-macamnya. Jadi saya rasa perlu representatif dari Indonesia sendiri, salah satunya kopi Cafe Dangdut ini untuk kita bisa mempromosikan kopi dari Indonesia sendiri," ujar Romy, seperti dikutip Suara.com.

Seperti apa kedai kopi lokal yang menggoyang New York dengan musik dangdut tersebut?

Hari Kopi Sedunia: Kiprah Kedai Kopi Lokal di Kancah Internasional

Cafe Dangdut di New York

Dijelaskan Fitri bahwa ide mendirikan Cafe Dangdut ini muncul setahun lalu pada bulan Maret. Saat itu, dirinya tampil di acara Super Bowl Week dan pada momen itu nama dangdut sedikit demi sedikit mulai dikenal. Ia pun kemudian terpikir untuk membuat kedai kopi bernuansa dangdut.

"Dalam waktu sebulan, kami memikirkan ide, logo, dan menyiapkan coffee truck. Akhirnya pada September, Café Dangdut soft launching. Saat itu kami masih menggunakan coffee truck dan booth,” jelas adik dari pedangdut Nini Carlina.

Setelah itu, Fitri dan rekannya mengikuti acara Indopop Movement, organisasi atau yayasan yang bertujuan untuk membantu dan mendukung potensi Indonesia, baik kuliner, fesyen, dan budaya di New York. Acara ini dimanfaatkan Fitri untuk mempromosikan Cafe Dangdut di depan Time Square.

“Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan dengan mengikuti bazar dan festival di sana-sini, kami memutuskan untuk membuka Cafe Dangdut secara permanen di Long Island City. Sambutannya cukup bagus. Bahkan antrean orang yang ingin mencoba kopi di Café Dangdut sangat panjang. Mas Menteri (Sandiaga Uno) juga sudah datang ke Cafe Dangdut. Rasanya tidak menyangka bisa seperti ini,” kata Dina.

Selain menyajikan kopi lokal dan kuliner khas Indonesia, Cafe Dangdut yang berlokasi di 4502 23rd St, Long Island City, ini juga akan memutarkan banyak musik dan video klip dangdut. Bahkan, mereka juga berencana membuat pertunjukan musik dangdut di kedainya.

Soal desain kafe, Fitri memberikan sentuhan tropikal dan detail yang kental dengan Indonesia. Meski saat ini sudah memiliki kedai permanen, para pemilik masih terus mempromosikan kade dengan coffee truck dan membagikan kopi gratis pada pengunjung yang datang selama setahun agar menarik lebih banyak orang dan membuat penasaran.

Bersamaan dengan promosi, para pemilik juga masih terus menjalankan proses perizinan dan inovasi menu. Mereka juga tengah mencari barista dari Diaspora untuk memperlihatkan kepada warga sekitar tentang hospitality yang ramah khas Indonesia.

“Beruntung Diaspora di sini sangat suportif. Banyak pengusaha swasta dan owner kafe Indonesia lainnya juga yang mendukung kehadiran Cafe Dangdut. Kami mendirikan Cafe Dangdut di New York bukan untuk menjadi saingan, tapi justru untuk menambah khasanah kuliner Indonesia di Amerika,” ujar Fitri.

Fitri dan Dina pun mengakui bahwa membuka kedai di New York memang harus siap menerima berbagai persayaran dan izin yang ketat dari pemerintah setempat. Mereka pun berkomitmen untuk terus menjaga kualitas bahan baku, meski mengalami kendala dari distribusi dan logistik.

“Sebenarnya kami sudah banyak melakukan audiensi ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat di Chicago dan lembaga Indonesia terkait mengenai kendala logistik. Karena masalahnya bahan baku dan sangat penting. Jika biasanya bahan baku bisa tiba dua bulan, kini harus menunggu bahkan sampai empat bulan. Akhirnya ada beberapa bahan baku yang kami hand carry agar bisa stabil antara supply dan demand-nya,” ungkap Dina.

Walau mengalami berbagai kendala, Fitri dan Dina mengaku puas dengan pencapaian Cafe Dangdut. Hingga saat ini, 70 persen pembeli mereka adalah warga lokal yang mana sesuai target. Lokasi yang cukup strategis membuat kafe ini cukup mudah ditemukan. Apalagi lokasinya juga berada di lingkungan anak-anak muda, dekat stasiun dan kampus, serta tempat anak-anak muda serta warga Indonesia biasa kongko.

“Rata-rata suka dengan cita rasa kopi Indonesia yang manis, khususnya kopi Gayo. Kami juga menjual kopi lainnya, seperti kopi luwak, kopi dari Papua dan daerah lainya. Warga lokal sini penasaran dengan jenis-jenis kopi dari Indonesia,” ujar Fitri.

Mendirikan kedai kopi dengan nuansa Indonesia di New York, para pemiliknya berharap dapat memperkenalkan Indonesia. Tak hanya dari kopi dan hidangan, tapi juga dari budaya, musik, dan fesyen Indonesia. Setelah New York, rupanya Cafe Dangdut juga rencananya aka hadir di New Jersey dan negara lain seperti Singapura serta Filipina.

“Meskipun namanya dangdut, Cafe Dangdut kami tampilkan dengan konsep kontemporer. Bisa membawa nama dangdut hingga ke New York, seperti hal yang mustahil, tapi ternyata bisa kami lakukan,” tambah Fitri.

Warung Kopi dan Santapan Nusantara, Bentuk Kesuksesan Kuliner Indonesia di Swiss

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini