Tahura Djuanda, Paru-Paru Kota Bandung yang Jadi Wisata Hutan

Tahura Djuanda, Paru-Paru Kota Bandung yang Jadi Wisata Hutan
info gambar utama

Di wilayah Bandung sebelah utara, terdapat suatu lokasi wisata alam yang cukup dekat untuk diakses dari pusat kota Bandung. Taman Hutan Raya Ir.H.Djuanda atau biasa disebut dengan Tahura Djuanda.

Taman hutan ini terbentang dari Dago Pakar (Curug Dago) hingga ke Maribaya-Lembang. Wilayahnya yang luas, sebagian masuk wilayah kota Bandung sedangkan sebagian lainnya wilayah kabupaten Bandung Barat.

THR Ir H Djuanda berasal dari hutan lindung yang disiapkan sebagai hutan wisata atau kebun raya, terletak di atas lahan seluas 30 hektare yang ditanami berbagai jenis tanaman dari dalam maupun dari luar Indonesia.

Awalnya Tahura Djuanda termasuk dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Pulosari yang diresmikan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922. Perintisnya dimulai tahun 1912 bersamaan dengan pembangunan terowongan penyadapan air Sungai Cikapundung.

Sejak Indonesia merdeka, kawasan ini otomatis menjadi aset pemerintah Republik Indonesia yang dikelola oleh Jawatan Kehutanan. Status hutan ini menjadi kawasan hutan negara, yang kemudian dikonsep sebagai kawasan hutan wisata dan kebun raya.

Dipati Ukur, Perjalanan Hidup Pemberontak yang Ditumpas oleh Mataram

Pada tahun 1963, Ir. R Djuanda Kartawidjaja (Perdana Menteri RI terakhir dan penggagas deklarasi Djuanda) wafat, kemudian namanya diabadikan sebagai nama kawasan hutan ini dengan nama Kebun Raya Rekreasi Ir H Djuanda.

Tahura ini diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 14 Januari 1985 hari kelahiran Ir. H. Djuanda. Statusnya berubah menjadi Taman Hutan Raya melalui Kepres No 3 Tahun 1985 dan menjadi Taman Hutan Raya pertama di Indonesia.

Tahura Djuanda merupakan kawasan konservasi dengan konsep memadukan antara wisata dengan hutan tanaman. Tahura yang berada di ketinggian 770 meter sampai 1.330 meter di atas permukaan laut membuatnya udara di kawasan ini cukup sejuk.

Terdapat sekitar 2.500 jenis tanaman yang terdiri dari 112 spesies serta 40 famili. Keberadaan berbagai tumbuhan di Tahura ini juga bisa digunakan sebagai media untuk belajar sehingga bisa menjadi wisata edukasi.

‘Selain kekayaan alam yang luar biasa ini di Tahura Djuanda terdapat beberapa objek yang menjadi daya tarik kawasan ini. Di antara objek tersebut adalah Museum Ir H Djuanda, Gua Belanda, Gua Jepang, Curug Ormas, Curug Koleang, Curug Kidung.

Agar bisa mencapai berbagai objek wisata ini, wisatawan bisa melintas jalan setapak beralas paving block yang terbentang dari gerbang Selatan di Dago Pakar hingga gerbang Utara di Maribaya.

Pentingnya Tahura bagi Indonesia

Pada peresmian Tahura Djuanda, muncul berita utama di koran Pikiran Rakyat edisi Selasa 15 Januari 1985. Di dalam tulisan ini ada kutipan Presiden yang disajikan di reportase itu berisi imbauan normatif tentang pelestarian alam.

“Dengan rasa tanggung jawab yang besar, kita harus terus menerus menjaga agar sumber kekayaan alam dan lingkungan tetap terjaga dengan baik dan tetap dapat terus berfungsi dengan baik pula, demi kesinambungan pembangunan jangka panjang dan demi kesejahteraan generasi-generasi yang akan datang,” kata Presiden.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia Soedjarwo dalam sambutannya menyebut Tahura Djuanda sebagai laboratorium alam yang akan menjadi wahana penelitian dan pendidikan, sekaligus sumber pelestarian plasma nutfah.

Dirinya juga menyebut tiga alasan pemilihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung sebagai Tahura. Ketiganya adalah taman studi bagi kota Bandung, pelestarian fungsi hidrologis DAS Cikapundung, serta penyaluran para wisatawan.

Institut Pasteur Dr Sardjito dan Perjuangan Tenaga Kesehatan bagi Kemerdekaan

“Jadi sejak awal peresmiannya, Tahura Ir H Djuanda memikul tanggung jawab ganda. Selain sebagai benteng alam yang melindungi kelestarian lingkungan di kawasan Bandung Raya, termasuk warga, lahan konservasi ini juga diberi tugas menarik minat wisatawan,” tulis Tri Joko Her Riadi dalam Taman Hutan Raya Ir H Djuanda Diresmikan, Rencana Perluasan Wilayah Tak Kunjung Kesampaian.

Sementara itu dari buku Kenangan Peresmian Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Aboeng Koesman, Wakil Gubernur Jawa Barat Bidang I menyebut empat tujuan pembangunan Tahura Djuanda.

Yakni mengabadikan dan menanamkan jiwa kepahlawanan, menyediakan fasilitas bagi pendidikan dan penelitian ilmiah, mengendalikan lingkungan hidup, serta memberikan tempat berekreasi yang sehat.

Dirinya membayangkan Tahura Djuanda kelak bisa dikagumi orang, tidak kalah dengan Kebun Raya Bogor yang memiliki luas 87 hektare yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1817.

“Insya Allah, 50-100 tahun yang akan datang bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa yang lain akan mengaggumi Taman Hutan Raya Ir H Djuanda yang dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri,” tulisnya.

Paru-paru kota Bandung

Tahura Djuanda yang terdapat di kawasan Bandung Utara yang relatif masih sejuk, serta alamnya yang indah dengan kontur wilayah yang berbukit-bukit, merupakan salah satu daya tarik yang diperebutkan.

Tahura Djuanda dengan alam dan lingkungannya yang masih utuh, bukan hanya merupakan paru-paru kota Bandung. Tahura ini juga sekaligus merupakan museum hidup (arboretum) sebagai tempat belajar tentang alam dan lingkungannya.

Kawasan Tahura ini berhawa sejuk sekitar 22-24 derajat celcius. Kekayaan floranya memiliki 250 jenis pohon. Sedangkan kekayaan faunanya tidak terlalu membanggakan karena hanya terdiri dari 3 spesies mamalia, 27 spesies burung, delapan spesies ikan.

Salah satu jenis flora yang selama ini paling banyak menarik perhatian karena bentuk buahnya unik adalah pohon Kigelia Aethiopicadecnes yang tumbuh di depan Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).

Aku Sangat Muda, Aku Sulut "Bandung Lautan Api" di Tanah Sunda

Pohon dari famili Bignoniaceae yang berasal dari Afrika tropis ini dijuluki “pohon sosis”. Buahnya yang menggelantung seukuran betis kaki manusia dewasa dengan panjang sekitar 20-30 sentimeter selalu menarik perhatian karena bentuknya mirip sosis.

Koleksi tumbuhan lainnya antara lain cemara sumatra (Casuarina Sumatrana), kayu taji (Padocar pusnerifolius) dari Jawa, kenanga (Canaga odorata), bayur (Preros permumcelbicum), jati (Tektona grandis), dan mahoni uganda (Khya anthotheca).

Sedangkan kekayaan faunanya terdiri dari berbagai jenis burung seperti ketilang (Pynonotus caferauurgaster), jalak (Sturunus Contra-jalla), tekukur (Streptopella chinensis), elang (Heliastur indus), perkutut (Geopeliastrica), dan puyuh batu (Coturnix javanicus).

Sebelumnya pernah tercatat beberapa jenis burung lainnya seperti kepodang (Oriolus chinensis), ayam hutan (Gallus gallus bankiva). Namun kedua satwa itu sudah jarang terlihat lagi saat ini.

Hal ini diduga karena pengaruh banyaknya kunjungan wisata ke tempat tersebut. Terutama pada hari minggu dan libur, Tahura Djuanda merupakan salah satu tujuan wisata keluarga atau tempat karya wisata para pelajar yang ingin mengenal flora yang tumbuh di sana.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini