Misteri Hantu Toko Merah: Saksi Peristiwa Berdarah Geger Pecinan di Batavia

Misteri Hantu Toko Merah: Saksi Peristiwa Berdarah Geger Pecinan di Batavia
info gambar utama

Toko Merah di Kota Tua Jakarta mendadak menjadi trending topic di Twitter, Rabu (8/6/2022). Pasalnya ada salah satu nitizen @araskyy18 yang mengaku bertemu sosok Noni Belanda di bangunan bersejarah tersebut.

Sosok Noni Belanda itu memaksa Ara untuk mendengarkan kisahnya. Bahkan, sempat berteriak kencang seperti sedang mencaci maki, namun dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian sosok itu mengajaknya melihat kejadian masa lampau lewat retrokognisi.

“Dalam retrokognisi, ada seorang pria memanggil dia dengan sebutan Maria Van (nah belakangnya ini aku gak terlalu tahu cara penulisannya). Dia wanita yang keras. Pro keadilan. Menurutnya, orang-orang etnis Tionghoa tidak bersalah,” cuit Ara dalam threadnya.

Banyak nitizen yang memberikan respon atas thread dari Ara tersebut, banyak yang meragukan pernyataannya termasuk para sejarawan. Namun ada juga yang meyakini kisah misteri dari Toko Merah itu.

Toko Merah ini terletak di sisi barat Kali Besar, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Bangunan ini memiliki ruangan cukup banyak, terdapat 16 di lantai dasar, 8 buah di utara dan 8 buah lainnya di selatan.

Gedung ini dibangun oleh Baron Gustav Wilhelm van Imhoff pada 1730. Dia kemudian menjabat gubernur jenderal Hindia Belanda pada periode 1743-1750. Bangunan yang terdiri dari dua lantai itu beberapa kali pindah tangan.

Dimuat dari Tagar, warna merah hati tampak jelas di permukaan tembok batu bata tanpa plester di bagian depan gedung. Dan pada sekitar abad 19, bangunan peninggalan kolonial itu memang berfungsi sebagai toko atau tempat untuk menjual barang.

Peran Tokoh Betawi MH Thamrin Persatukan Bangsa Melalui Sepak Bola

Selain dikenal sebagai bangunan sejarah, warga sekitar mengaku tempat ini banyak menyimpan kisah misteri berbau horor. Banyak orang yang bersaksi melihat penampakan aneh, baik sosok maupun suara.

Saipullah yang sudah bekerja di kawasan Kota Tua, khususnya sekitar Toko Merah selama 20 tahun mengakui bahwa kejadian berbau mistis merupakan makanan sehari-hari. Salah satunya adalah ketika dirinya melihat sesosok wanita bergaun putih yang muncul tiba-tiba.

Cerita senada juga disampaikan Sudaryan, seorang pedagang kaki lima di samping gedung Toko Merah. Dia sudah berjualan di sana hampir 32 tahun dan kerap menemui hal-hal ganjil ketika berjualan.

“Pernah lagi dengar suara misterius. Tetapi ini jelas suara perempuan. Suaranya seperti menangis, kadang tertawa. Itu dari dalam gedung, padahal kalau malam hari Toko Merah tutup, tidak ada orang. Suara itu akhirnya berhenti sendiri setelah saya menoleh ke gedung,” tuturnya.

Kisah berdarah di Angke

Keusilan hantu Toko Merah yang dirasakan oleh Saipullah dan Sudaryan memang serupa, yakni sosok bayangan berwujud perempuan yang mengenakan gaun putih panjang yang saking panjangnya, gaunnya seperti bergerak menyapu lantai.

Kedua orang ini mengaku tidak tahu menahu mengenai sosok perempuan berambut panjang ini. Namun dari cerita warga yang berkembang, sosok penunggu Toko Merah terkait dengan kejadian mengerikan ratusan tahun lalu.

Sebuah peristiwa berdarah pernah terjadi yang dinamakan Tragedi Angke atau Geger Pecinan tahun 1740. Kejadian ini merupakan cerita kelam bagi warga keturunan Tionghoa saat melakukan perlawanan kepada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Di tahun itu, tepatnya tanggal 9 Oktober, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier memerintahkan prajurit VOC menghabisi seluruh orang keturunan Tionghoa beserta seluruh keluarganya.

Dalam buku Hal-hal yang Luar Biasa karya George Bernhard Schwarz menceritakan keterlibatannya dalam pembantaian itu. Dia ikut membunuh orang-orang yang tidak pernah punya masalah pribadi malah memiliki hubungan baik.

Disebutkan dalam buku itu, sekitar 24 ribu orang Tionghoa tewas sepanjang pelaksanaan perintah dari Valckenier. Namun jumlah korban ini dibantah pihak Belanda yang mengklaim hanya ada 5 ribu sampai 10 ribu korban.

Menyesap Hangatnya Persaudaraan Orang Betawi dalam Secangkir Kopi Jahe

Namun dalam buku yang ditulis oleh Schwarzen berjudul Reise in Oost Indien (1751) cendekiawan asal Belanda ini menggambarkan jalanan dan lorong-lorong di kawasan Batavia yang digenangi darah dan dipenuhi mayat.

Ketika itu korban tidak hanya dari kaum laki-laki, namun para orang tua, wanita, dan anak-anak juga jadi korban. Bahkan mereka yang tengah dirawat di rumah sakit tak luput dari kebengisan prajurit VOC.

Dipercaya mayat-mayat yang sehabis dipenggal dikumpulkan dan dibuang di Kali Besar, depan Toko Merah. Tumpukan mayat-mayat tersebut sampai memenuhi Kali Besar, bahkan kali ini baru bisa disebrangi kalau menginjak tumpukan jasad manusia ini.

Dan bangunan Toko Merah juga disebut menjadi tempat penyiksaan bagi para gadis Tionghoa hingga banyak yang menemui ajalnya. Hal ini dipercaya sebagai jejak dari munculnya makhluk usil di dalam bangunan ini.

Kisah ini memang sangat sadis dan tragis, genosida ini memberikan luka, tangisan, ketakutan dan depresi bagi masyarakat Tionghoa. Kisah ini walau telah berlalu ratusan tahun silam masih terekam bagi etnis Tionghoa.

Peristiwa yang terekam

Setelah tragedi kemanusian yang merenggut kurang lebih 3.000 jiwa ini, etnis Tionghoa di Batavia diperkirakan hanya tersisa ratusan saja. Dengan jumlahnya yang sedikit, VOC juga memusatkan mereka di kawasan Grogol agar bisa dipantau.

Berselang beberapa tahun setelah Geger Pecinan, Van Imhoff kembali membeli Toko Merah. Namun tak lama kemudian, dirinya kembali menjual kepada kompeni untuk mendirikan Academie de Merine atau Akademi Pelayaran.

Toko Merah kemudian didaulat sebagai asrama para kadet itu. Sehingga Akademi pelayaran yang dibangun oleh kompeni tersebut menjadi yang tertua di daratan Asia bahkan dunia. Seiring perjalanan waktu, Toko Merah sempat berganti kepemilikan.

Mulai dimiliki oleh janda Gubernur Jenderal VOC, Nyonya De Kler dan Nyonya Van Der Parra. Sampai akhirnya mulai digunakan sebagai toko oleh Oey Liauw Kong pada tahun 1890, sejak itulah nama Toko Merah lebih melekat.

Balai Pustaka dan Politik Perbukuan yang Buat Bumiputra Lupa Merdeka

“Sejak tahun 1890 an, rumah itu disebut Toko Merah, yakni waktu digunakan oleh keluarga Oey sebagai toko. Batu bata merah tembok dicat merah hati lagi. Namun, pada suatu foto dari tahun 1927 tembok (pernah) diplester warna krem. Sedangkan, tampak muka sekarang ini rupanya berasal dari renovasi tahun 1960 an,” ucap Adolf Heuken dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (2007) yang dipaparkan VOI.

Tak hanya menjadi tempat tinggal dan jualan, Toko Merah juga sempat digunakan untuk berbagai macam aktivitas, misalnya pada 1934-1942 bangunan ini pernah menjadi kantor pusat N.V Jacobson van der Berg, sebagai lima besar perusahaan milik kolonial Belanda.

Ketika Jepang masuk dan menjajah Hindia Belanda, bangunan ini kemudian menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang hingga Perang Dunia II usai. Lalu ditempati oleh tentara gabungan Inggris-India.

Berjalannya waktu, ketika Indonesia merdeka. Bangunan kolonial berhasil diambil alih, termasuk gedung Toko Merah. Pada tahun 1990 an, gedung ini dijadikan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan UU No 5 Tahun 1992.

Setelah lama terabaikan, Toko Merah kemudian direstorasi pada 2012 dan menjelma menjadi gedung pertemuan dan lokasi foto pranikah. Tempat ini cukup ramai orang berjualan maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kota Tua.

Bangunan ini kini berubah menjadi gedung serbaguna. Dengan kondisi bangunan cat merah dengan dua pintu besar berwarna coklat di depan, bangunan ini masih terlihat mewah walaupun sudah berumur ratusan tahun.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini