Tepuk Tepung Tawar, Upacara Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat

Tepuk Tepung Tawar, Upacara Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat
info gambar utama

Indonesia memiliki banyak sekali warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan pada setiap generasi. Salah satunya adalah tradisi yang berkaitan dengan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala kenikmatan, kesehatan, hasil panen melimpah, keberkahan, pernikahan, kelahiran, dan sebagainya.

Seperti tradisi yang masih terus dilakukan oleh masyarakat Melayu di Riau yaitu tepuk tepung tawar. Baru-baru ini diketahui Bupati Rokan Hulu H. Sukiman melepas keberangkatan 26 jemaah calon haji dengan menyelenggarakan prosesi tepuk tepung tawar yang diiringi lantunan selawat dan doa-doa.

Prosesi serupa juga diadakan di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, di mana Bupati Karimun Aunur Rafiq mengadakan tepuk tepung tawar untuk 76 calon jemaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci. Lantas, apa itu tradisi tepuk tepung tawar dan untuk apa prosesi itu dilakukan?

Kaya Kebudayaan, Ini Tradisi Suku Tengger Selain Yadnya Kasada

Mengenal tradisi tepuk tepung tawar

Tepuk Tepung Tawar | @Rey desain Shutterstock
info gambar

Tepuk tepung tawar merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Melayu dalam mengiringi acara-acara seperti pernikahan, khitanan, upah-upah, syukuran, penyembuhan, naik jabatan, dan lain-lain yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas segala kenikmatan serta memberikan doa selamat. Tradisi ini juga bertujuan untuk memberikan berkah untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan, permohonan agar dijauhkan dari kesialan dan duka nestapa.

Uniknya, tradisi ino bisa dilakukan dengan dua ketentuan yaitu pada manusia atau benda. Untuk ritual pada benda, biasanya digunakan dalam acara pernikahan, menempati rumah baru, kendaraan baru, dan bentuk-bentuk rasa kegembiraan bagi orang-orang yang memiliki hajat atau semacam upacara sakral lain.

Khususnya untuk calon pengantin, tepuk tepung tawar akan dilakukan secara bergantian dengan pertimbangan mereka belum melakukan mahar batih atau belum bersatu. Sedangkan, jika sudah resmi menikah, maka upacara bisa dilakukan bersamaan di sebuah peterakne atau tempat bersanding pengantin melayu. Upacara ini juga bisa dibuat untuk anak-anak yang siap khatam Al-Qur'an dan mereka akan didoakan agar diberi keselamatan, kesejahteraan, dan terhindar dari kesusahan dalam menjalankan kehidupan.

Upacara tepuk tepung tawar juga erat kaitannya dengan siklus kehidupan seseorang dari lahir hingga meninggal dunua. Fase-fase kehidupan itu tak hanya ditandai dengan perubahan biologis, tetapi juga diikuti dengan perubahan kedudukan sosial di masyarakat.

Maka untuk menghadapi perubahan menuju situasi yang baru, seseorang perlu tahapan peralihan untuk menumbuhkan semangat baru dan di sinilah tepuk tepung tawar dimaknai sebagai upacara yang mengiringi masa peralihan tersebut.

Masyarakat Melayu memiliki rasa kekerabatan dan kekeluargaan yang kuat. Ketika ada yang berhasil mendapatkan sesuatu, maka masyarakat yang lain wajib memberikan ucapan selamat dengan mengadakan tepuk tepung tawar.

Nandong, Mitigasi Bencana Tsunami dengan Kearifan Lokal Masyarakat Simeulue

Rangkaian upacara adat

Upacara tepuk tepung tawar | kebudayaan.kemdikbud.go.id
info gambar

Ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum melaksanakan upacara tepuk tepung tawar, yaitu daun penepuk atau perenjis, bahan penabur, dan bahan renjis seperti daun setawar, daun sedingin, daun ati-ati, daun gandarusa, daun juang-juang, bunga rampai, air percung, dan beras tabur yang terdiri dari beras kunyit atau beras kuning, beras putih basuh, dan bertih.

Setelah itu, Mak Inang akan mempersiapkan alat-alat seperti satu buah kaki batil, paha, astakone, mangkuk kecil, tepak sirih, terenang, keto, sirih nikah dalam senjong dengan bahan beras kunyit, beras basuh, air tepung tawar, bertih, perenjis, embat, dan satu telur ayam mentah.

Upacara akan dimulai dengan mengambil sejumput beras kunyit, beras putih, dan bertih kemudian ditaburkan ke kepala orang yang akan diupacarakan, selanjutnya ke bahu kanan dan kiri. Orang yang menaburkan beras akan membacakan selawat, kemudian mengambil perenjis dan dipercikkan ke kening, bahu kanan-kiri, belakang telapak tangan, dan menempelkan telur di wajah hingga bibir.

Dalam kepercayaan masyarakat Melayu, beras kunyit merupakan simbol dari raja atau sultan, lambang kebesaran, kemuliaan, dan keagungan. Sedangkan beras basuh atau beras putih melambangkan kesucian diri dan air mawar melambangkan nama yang harum. Prosesi tepuk tepung tawar pun biasa diakhiri dengan pembacaan doa agar orang tersebut selalu dalam keadaan selamat dan diberikan keberkahan.

Dikei, Ritual Pengobatan Suku Sakai yang Melibatkan Roh Baik Pembangkit Semangat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini