Pusat Persemaian Modern Rumpin, Harapan untuk Solusi Degradasi dan Kekeringan Lahan

Pusat Persemaian Modern Rumpin, Harapan untuk Solusi Degradasi dan Kekeringan Lahan
info gambar utama

Tanggal 17 Juni telah menjadi peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia. Sejak pertama kali ditetapkan oleh PBB pada tahun 1994, momentum ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan salah satu dari sekian banyak kondisi permasalahan iklim yang terjadi di bumi, yakni degradasi dan kekeringan lahan.

Dalam cakupan luas, degradasi pun memiliki sejumlah permasalahan jangka panjang yang mengikuti. Mulai dari banjir, longsor, hingga sejumlah lahan kritis yang menyebabkan berkurangnya sumber pangan dan pasokan air bersih.

Karena itu berbagai penanggulangan dilakukan oleh sejumlah pihak, salah satunya dengan mengembangkan pusat persemaian berbagai macam tanaman. Nantinya, bibit berbagai tanaman dengan kualitas yang baik diharapkan dapat ditanam dan tumbuh dengan baik di sejumlah lahan, yang mengalami permasalahan lewat upaya reboisasi untuk mengembalikan kesuburan lahan.

Mengenal Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia

Pusat persemaian modern pertama di Rumpin

Pusat persemaian modern rumpin | Dok. Kementerian PUPR.
info gambar

Baru-baru ini, Indonesia memiliki pusat persemaian modern terbesar yang berlokasi di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di bangun di atas lahan seluas 128 hektare, pusat persemaian ini dapat menampung hingga sebanyak 16 juta bibit per tahunnya.

Merupakan hasil kerja sama antara Kementerian PUPR, Kementerian KLHK, dan pihak swasta APRIL Group, penyemaian bibit pada lahan ini akan diperuntukkan bagi program rehabilitasi lahan kritis, dan penghijauan daerah aliran sungai (DAS).

Mulai digarap sejak 6 Juli 2021 dan menelan anggaran hingga Rp11,9 miliar, pusat persemaian modern ini diresmikan langsung oleh Presiden RI pada, Jumat (10/6/2022) kemarin. Dalam proses operasionalnya yang membutuhkan air skala besar, pusat persemaian ini mengandalkan air baku yang berasal dari sungai tak jauh di lingkungan sekitar.

Lebih detail, prasarana air baku yang dibangun oleh PUPR mencakup pembangunan intake berupa pompa berkapasitas 3x10 liter per detik, kolam penampungan (water pond), pipa intake, unit filtrasi berkapasitas 11 meter kubik, tangki air berkapasitas 640 meter kubik, sumur bor, dan jalan akses kolam.

Bicara kebutuhannya, diketahui jika air baku yang dibutuhkan untuk persemaian di lahan ini mencapai angka 800 meter kubik per hari. Yang mana dibagi menjadi tiga sesi, yaitu pagi hari sebanyak 200 meter kubik, siang hari 400 meter kubik, dan sore hari 200 meter kubik.

"Ini merupakan hal baru bagi Kementerian PUPR, karena biasanya air baku disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri, tetapi prasarana kami bangun untuk proses penyemaian bibit-bibit pohon di Pusat Persemaian Modern Rumpin," jelas Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Lebih lanjut di pusat persemaian tersebut, terdapat berbagai macam jenis bibit yang disemai untuk selanjutnya didistribusikan ke lahan yang ingin direboisasi. Mulai dari bibit albasia atau sengon, bibit eucalyptus, bibit jati, bibit mahoni, manglid, sirsak, dan masih banyak lagi.

Sugiarto, Dedikasikan Hidup Lebih dari 20 Tahun untuk Gaungkan Aksi Menanam Pohon

Lima lokasi pusat persemaian di seluruh Indonesia

Pusat persemaian modern rumpin | BPMI Setpres/Muchlis Jr
info gambar

Selain di Rumpin, sebenarnya masih ada puluhan lokasi yang akan menjadi pusat persemaian di berbagai wilayah Indonesia. Sebelumnya Presiden Joko Widodo menyebut jika ditargetkan akan ada sebanyak 30 pusat persemaian, yang dapat dibangun dalam waktu 3 tahun ke depan.

Di mana dari keseluruhan pusat persemaian tersebut, masing-masing diproyeksi akan memiliki jumlah produksi mencapai 12 juta bibit per tahun.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam menangani dampak dari perubahan iklim dan kita tunjukkan nursery center ini yang bisa setahun memproduksi kurang lebih 12 juta bibit,”

“Kalau kita memiliki 30 pusat persemaian, setahun dapat menghasilkan kira-kira 360 juta bibit. Kita tanam bibit-bibit ini di lahan kritis, di kabupaten atau provinsi yang sering longsor, di daerah aliran sungai terutama di hulunya.” tambah Jokowi.

Selanjutnya Rumpin sendiri akan menjadi percontohan untuk lima lahan pusat persemaian berikutnya, yang akan dibangun di berbagai wilayah Indonesia. Adapun lima lokasi lain yang telah dipersiapkan untuk menjadi pusat persemaian dalam waktu dekat terdiri dari:

  1. Pusat Persemaian IKN di Kawasan Hutan Produksi, Desa Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Memiliki luas 120 hektare dengan kapasitas 15 juta bibit per tahun.
  2. Pusat Persemaian Danau Toba di Kawasan Hutan Lindung Blok Sibisa, Desa Motung, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara. Memiliki luas 37,25 hektare dengan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
  3. Pusat Persemaian Labuan Bajo seluas 30 hektare, di Kawasan Hutan Produksi Satar-Kodi, Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT. Memiliki luas 30 hektare dengan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
  4. Pusat Persemaian Mandalika berlokasi di Kawasan Hutan Lindung, Rembitan-Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB. Memiliki luas 35,25 hektare dengan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
  5. Pusat Persemaian Likupang di Kawasan TWA Batu Putih, Batu Putih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Memiliki luas 30,33 hektare dengan kapasitas 5 juta bibit per tahun.
Misi Lindungi Hutan, Chashif Syadzali: Kami Ingin Tanam Pohon Sejumlah Penduduk Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini