Kesejukan Taman Suropati, Tempat Rekreasi Favorit dari Zaman Kompeni

Kesejukan Taman Suropati, Tempat Rekreasi Favorit dari Zaman Kompeni
info gambar utama

Jakarta, di tengah hiruk pikuknya ternyata menyimpan sejumlah cerita pada masa lampau. Seperti kawasan Menteng, Jakarta Pusat yang telah menjadi pemukiman elite sejak zaman kolonial Belanda.

Sebelum menjadi pemukiman elite seperti yang dikenal sekarang, Menteng merupakan daerah yang kurang dikenal, bahkan dihuni binatang buas. Daerah ini dahulu merupakan hutan yang ditumbuhi Pohon Menteng (baccaurea racemosa).

Berbicara tentang Menteng, terdapat sebuah taman yang dikelilingi pepohonan rindang dan dihiasi bebungaan. Sekarang dikenal sebagai Taman Suropati, di tempat ini banyak menyimpan cerita sejak masa Hindia Belanda.

Taman Suropati yang berlokasi di sisi utara Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat jelas bukan sembarang taman. Tempat ini bahkan diambil dari nama pahlawan asal Bali yang ditakuti Belanda, Untung Suropati.

Taman ini sering digunakan oleh masyarakat untuk rekreasi, olahraga ataupun menghabiskan hari libur. Suasana yang teduh karena dipenuhi berbagai pohon menyebabkan tempat ini menjadi favorit.

Misteri Hantu Toko Merah: Saksi Peristiwa Berdarah Geger Pecinan di Batavia

Kekaguman akan Taman Suropati akan semakin bertambah bila mengetahui bahwa dahulunya pusat Kota Menteng merupakan sebuah Lapangan Bundar -cikal bakal Taman Suropati- yang menjadi titik temu jalan-jalan utama.

Hal ini berkat jasa dari seorang arsitek P.A.J Moojen pada tahun 1912 yang membuat Lapangan Bundar tersebut. Namun, karena Lapangan Bundar ini terlalu luas dan berpotensi menghambat kelancaran lalu lintas, rencana Moojen ini diubah.

Dimuat dari Historia, pada 1918, pemerintah Gementee (Kota) Batavia lantas menugaskan arsitek F.K Kubatz dan F.J.L Ghijsels untuk menyempurnakanya. Bersamaan dengan itu, rencana pembangunan Taman Suropati di mulai.

Zaenuddin HM dalam bukunya, Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe (2018) menjelaskan, seiring waktu, Lapangan Bundar gagasan Moojen ini kemudian dipangkas dan sebagian tanahnya dibuang ke Jalan Besuki.

Dari rencana lapangan luas ini kemudian direalisasikan menjadi sebuah taman di pusat kawasan Menteng. Lahan tersebut kemudian mulai ditanami banyak pohon dan bungan pada tahun 1920.

“Lapangan yang kini disebut Taman Suropati ini sejak tahun 1920 sudah menggantikan Lapangan Bundar yang luas dalam rencana Moojen,” tulis Zaenuddin HM.

Taman yang dikagumi

Adolf Heuken dan Grace Pamungkas dalam buku Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia (2001) turut mengungkap Taman Suropati sebagai tempat pertemuan poros timur-barat dan utara-selatan Jakarta.

Hal itulah yang membuat taman yang memadukan bentuk persegi dan lingkaran dengan ragam fasilitas penunjang ini, menjadi salah satu taman dengan kualitas terbaik yang berada di kota Jakarta.

Pada masa Hindia Belanda, taman ini dikenal dengan nama Burgemeester Bisschopplein. Nama diberikan untuk penghormatan bagi burgemeester (wali kota) Batavia pertama, G.J Bisschop yang menjabat 1916-1920.

Menukil dari VOI, kiprahnya sebagai wali kota yang memimpin Batavia patut diacungi jempol. Dalam buku Jakarta Punya Cara (2012) karya Zeffri Alkatri menyatakan Bisschop mempelopori pembangunan, terutama sarana pelayanan bagi masyarakat Kota Batavia.

Pada masanya dia telah menggerakkan pembuatan instalasi air ledeng dari Ciomas-Bogor ke Batavia (1918-1920). Sebelumnya dia juga telah menambah keperluan air bersih dengan membangun lebih dari sepuluh sumur bor dan pompa di berbagai wilayah di Batavia.

“Dia juga mempelopori pemberantasan nyamuk Malaria (Malaria Bestrijding) dengan mengeringkan dan menimbun beberapa rawa dan empang milik penduduk sekitar Batavia, khususnya Batavia bagian utara, seperti di Tanjung Priok, Angke, Kemayoran, Jembatan Merah, Pademangan, dan Sunter pada 1915,” tambah Zeffri.

Peran Tokoh Betawi MH Thamrin Persatukan Bangsa Melalui Sepak Bola

Ketika pemerintahan Hindia Belanda, Taman Suropati menjadi lokasi pusat rileksasi oleh masyarakat Menteng. Dalam sejarahnya, masyarakat elite saat itu memang lebih suka membangun rumah dengan kawasan perkebunan yang luas.

Karena itu, kawasan ini menjadi tempat incaran para konglomerat dari masa ke masa. Bukan saja kalangan hartawan, para pahlawan nasional juga memilih Menteng sebagai tempat tinggalnya, seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.

Setelah Indonesia merdeka, Burgemeester Bisschopplein berganti nama menjadi Taman Suropati. Warga tetap memanfaatkannya sebagai tempat olahraga, sekadar mencari kesejukan, bermain, atau duduk-duduk menikmati keindahan taman.

Taman yang melewati zaman

Hingga kini, Taman Suropati selalu dijadikan tempat dadakan perkumpulan dan rapat terbuka. Pada masa Orde Lama misalnya, atas respon kondisi politik saat itu, Nahdlatul Ulama Jakarta Raya bersama organisasi lainya mengadakan rapat umum di taman ini.

Seperti diberitakan Kompas, 21 Oktober 1965 mereka menghimpun kekuatan untuk mendukung langkah pemerintah dalam Konferensi Internasional Anti Pangkalan Asing (KIAPMA), mengganyang imperialis dan menuntut pembubaran PKI.

Di Taman Suropati, tak hanya ada aksi politik namun juga menjadi saksi bagi rumah para seniman beserta karyanya. Banyak seniman yang menjajakan lukisan karyanya kepada masyarakat di Taman Suropati.

Taman ini juga dihuni enam patung atau monumen karya seniman dari negara-negara pendiri ASEAN sebagai simbol persahabatannya. Karya tersebut ditempat secara resmi pada 20 Desember 1984.

“Keberadaannya menggeser patung-patung lama yang berupa binatang, seperti gajah, jerapah, dan sebagainya,” tulis Kompas.

Menyesap Hangatnya Persaudaraan Orang Betawi dalam Secangkir Kopi Jahe

Namun, taman ini sempat mendapat citra negatif sebagai tempat “mojok” muda-mudi ibukota. Seperti kerap dimanfaatkan sebagai tempat mesum hingga menggunakan narkoba, kesan rawan kriminal turut muncul.

Paling tidak hingga akhir 1990 an, nyaris semua taman di Jakarta dipandang buruk seperti itu. Dalam konteks ruang dan fungsinya, bisa dikatakan pada tahun 1990 an adalah masa-masa titik nol dari citra taman.

“Kira-kira sepuluh tahun yang lalu saja kesan itu masih ada di Taman Suropati.” ujar Agustinus Esthi Dwiharso, inisiator Komunitas Taman Suropati (Tamsur) Chamber yang dimuat medcom.id.

Ketika itu ruang terbuka hijau juga tak jadi pilihan utama melarikan diri dari kebisingan kota. Hal ini dipicu perkembangan pusat perbelanjaan dan hiburan modern, apalagi taman yang kurang terawat.

Kini dengan perbaikan kondisi taman, Taman Suropati kembali jadi pilihan tempat berkumpul berbagai komunitas setiap akhir pekan. Agus optimis bahwa citra Taman Suropati bisa dibenahi melalui kegiatan positif.

“Saya melihat peluang itu. Kenapa tidak kami gunakan. Lah, wong yang tidak positif saja bisa,” kata pria yang kerap disapa Ages.

Langkah komunitas warga ini mulai sejalan dengan menguatnya niat Pemprov DKI Jakarta untuk mengembalikan fungsi taman. Kebersihannya pun membuat orang segan untuk mengotori taman warisan Belanda itu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini