Digital Peacemaker: Berdiri di Tengah, Menjadi Penengah

Digital  Peacemaker: Berdiri di Tengah, Menjadi Penengah
info gambar utama

Suatu pagi di tahun akhir bulan Maret 2009, di sebuah coffee shop di Phnom Penh, ibukota negara Kamboja. Saat itu, sudah hampir tiga bulan saya tinggal di negara tersebut untuk bekerja di sebuah lembaga non profit yang bergerak di bidang pembangunan pedesaan.

Pagi itu, saya kedatangan beberapa kawan yang datang dari Jakarta, Jogja, dan Bali, yang datang bersamaan untuk berwisata ke negara yang terkenal dengan Angkor Wat-nya itu. Sambil menunggu check-in, pagi itu mereka saya jamu kopi dan Bobor Kreung, semacam bubur ayam, khas Kamboja.

Kopi panas pagi itu diisi dengan obrolan politik menjelang pilpres yang akan berlangsung kurang dari 2 minggu lagi kala itu, yakni pilpres 2009. Yang tak saya duga sebelumnya, ketiganya memiliki pilihan politik yang berbeda satu sama lain, kebetulan waktu itu ada tiga pasangan capres-cawapres, ada yang memilih Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan JK-Wiranto.

Meski semuanya adalah orang-orang awam politik, namun ternyata ulasan mereka pagi itu tentang mengapa mereka akhirnya akan memilih salah satu pasangan, cukup menarik dan interaktif.

Alhasil, waktu hampir tiga jam terisi dengan saling adu argumen, debat, dan yang paling penting tetap rukun, akur, berada dalam lingkup persaudaraan sebagai sesama anak bangsa Indonesia.

Namun, itu dulu, lebih dari satu dekade lalu.

Jurang pun digali

Rasanya, di 2009 lah terakhir kali pemilu terasa 'asyik' dan 'exciting', pemilu yang benar-benar menjadi ajang pesta rakyat. Setidaknya menurut pandangan saya. Semuanya berubah setelahnya.

Pemilu 2014, dilanjutkan dengan 2019 benar-benar mengagetkan banyak orang, betapa yang selama ini kita menganggap bahwa sebagian orang Indonesia memiliki identitas partisan yang lemah, partai politik yang cenderung kolusif dan nir-ideologis, serta dominasi ketokohan dalam fitur politik akan mencegah munculnya polarisasi yang dalam. Ternyata banyak dari kita yang salah sangka.

Saling serang dengan intens, segala macam caci-maki, segala bentuk disinformasi, tersebar begitu luas di masyarakat melalui sosial media (terutama), dan berlanjut di ranah-ranah dan ruang-ruang masyarakat. Dan polarisasi benar-benar membelah kita sejak 2014.

Ini betul-betul mengagetkan banyak kalangan. Dari kacamata awam saya, masing-masing kubu terlihat begitu militan membela kelompoknya dan 'junjungannya', dan juga mati-matian menyerang kelompok lain dan 'junjungannya'.

Semua alat serang dipakai, mulai dari hoax, fitnah, hate speech, framing, cherry-picking, dan segala macam dipakai untuk melakukan keduanya.

Aktifitas-aktifitas ini berlanjut ke kontestasi-kontestasi politik setelahnya, dan makin memperdalam jurang polarisasi. Seolah-olah, ada yang memanfaatkan jurang polarisasi ini dengan menuduh kelompok menyebarkan hoax sementara kelompoknya sendiri bersih.

Polarisasi ini makin menjadi-jadi ketika merambah ke hal-hal non politik, mulai dari film animasi anak-anak, hingga ajang olahraga. Hal ini bertambah runyam ketika 'kelompok-kelompok akademis' yang selama ini menjadi 'tumpuan' terakhir masyarakat mencari referensi, ikut terjun memihak dan menjadi bahan bakar baru makin dalamnya polarisasi.

Mencari penengah

Pemilu 2024 kurang dari dua tahun lagi. Rasanya kita benar-benar harus sepakat bahwa polarisasi harus mulai dari sekarang dikurangi. Semua harus sadar, bahwa apa yang terjadi sejak 2014 benar-benar tidak menguntungkan bangsa ini.

Masyarakat, pemerintah, kampus-kampus, media, partai politik, perlu didorong betul-betul untuk membangun kesadaran kolektik mengenai hal tersebut, dan bukan terus menerus menjadi korban, apalagi menjadi bagian dari bangunan dari polarisasi politik.

Dalam acara “Transformasi Digital: Melindungi atau Menjerumuskan?” yang diadakan oleh Divisi Humas Polri, Selasa (14/6/2022) lalu, saya mewakili Good News From Indonesia (GNFI), menyampaikan bahwa polarisasi hanya bisa dikurangi jika ada kelompok penengahnya.

Mereka yang berdiri di tengah, melihat ke semua arah, mencari yang baik dari kiri kanan atas bawah, membuang yang buruk dari kini kanan atas bawah, dan sekaligus membangun narasi-narasi pemersatu, tanpa judgment, tanpa memihak, dan menyebarkannya secara luas di semua ruang-ruang publik.

Di 'ruang tengah' ini, kita bisa leluasa bergerak tanpa membawa identitas ideologi maupun preferensi politik kita, mengajak orang lain untuk juga ikut berada di tengah, ataupun mengajak mereka yang selama ini mati-matian berdiri di salah satu kubu, untuk bergerak lebih ke tengah, sehingga diharapkan mereka-mereka ini akan 'bertemu' dan saling mengenal satu sama lain, ide mereka, gagasan mereka, dan lainnya.

Karena bagaimanapun, siapapun kita, sehebat apapun prestasi kita, akan sulit mendapatkan trust dari semua kubu jika kita tidak berdiri di tengah, jika kita tanpa ragu memperlihatkan keberpihakan dan ketidak-netralan kita di dalam polarisasi akut ini.

Obat penawar

Menurut Aminuddin Ma'ruf, stafsus kepresidenan, yang juga hadir dalam event “Transformasi Digital: Melindungi atau Menjerumuskan?” di atas, bahwa rata-rata orang Indonesia mengakses sosial media selama 3,14 jam setiap hari.

Saya membayangkan, selama tiga jam lebih tersebut, informasi-informasi apa saja yang diakses, diabsorb/diserap oleh netizen-netizen kita.

Kemudian saya membayangkan, jika dalam tiga jam itu, setiap harinya mereka selama 30 menit saja terekspos dengan informasi-informasi baik, narasi-narasi pemersatu, berita-berita membanggakan dan inspiratif dari berbagai lini kehidupan, tentu setidaknya ada 'oleh-oleh' lebih manis yang bisa mereka simpan, ramu, dan masukkan dalam mindset mereka.

Jika ini berlangsung terus-menerus, setiap hari, selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, tak salah rasanya berharap bahwa hal ini akan menjadi obat penawar yang mampu menghilangkan penyakit polarisasi dan efek buruknya.

Saya sampaikan ke audiens kala itu, untuk bersama-sama membangun 'obat penawar' ini, dengan;

  • ‘Membanjiri’ sosial media dengan berita baik, positif, bermanfaat, inspiratif, membanggakan, dan dikemas dengan engaging, shareable, valuable. Dan ini sudah dilakukan oleh GNFI sejak satu dekade terakhir, akan tetapi perlu dilakukan dengan skala jauh lebih masif, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh lebih banyak orang, lebih banyak gerakan, lebih banyak aktifitas secara nasional.
  • Mengajak audiens digital untuk berdiri lebih ke tengah, membangun literasi, mengambil yang baik dari semua sumber, membuang dan menghindari yang buruk dari kubu manapun
  • Mengajak untuk mengubah habit / kebiasaan audiens digital untuk ‘share, read, engages, on positivities’, yang akan otomatis mengubah algoritma sosial media masing-masing pengguna sosial media.
  • Mengajak utk selalu melihat harapan, jalan keluar,solusi dari setiap masalah. Every cloud has its silver lining

Kita semua berharap, bahwa tahun politik mendatang, akan berbeda dengan sebelum-sebelumnya, ke arah yang lebih baik, lebih damai, dan kembali lagi lebih 'asyik' dan exciting. Dan tentu kita harus menjadi bagian dari usaha-usaha untuk menuju ke arah sana.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini