Bermain Adu Muncang, Cara Jawara Unjuk Kesaktian pada Zaman Kerajaan

Bermain Adu Muncang, Cara Jawara Unjuk Kesaktian pada Zaman Kerajaan
info gambar utama

Muncang atau biji kemiri (Candlenut) tidak hanya digunakan sebagai pelengkap bumbu masakan. Di masyarakat Sunda, biji yang memiliki tingkat kekerasan yang berbeda ini dijadikan bahan aduan yang terkenal dengan sebutan adu muncang.

Dalam prakteknya, ngadu muncang ini dilakukan dengan cara menyusun dua buah muncang milik dua pemain secara vertikal, lalu di atasnya disimpan bambu yang kanan kirinya dipegang oleh dua orang anak sehingga posisi muncang terjepit.

Muncang yang disusun untuk diadu diposisikan agar bagian yang terkuat tampak berurat dan saling berhadapan. Nantinya setelah muncang terjepit dan posisinya tidak berubah, bambu penjepitnya dipukul oleh benda keras, muncang yang pecah berarti dia kalah.

Seiring berjalannya waktu, peralatan mengadu muncang mengalami perkembangan. Kini mereka tak perlu lagi mencari dua bilah bambu dan orang yang memegang kedua sisinya ketika muncang dijepit.

Kini mereka telah membuat tempat untuk menjepit muncang, sehingga tidak perlu lagi ada anak lain yang memegangnya, hanya butuh seseorang untuk memukul bambu penjepit muncangnya saja.

Hal yang menarik, dalam adu muncang anak anak biasanya memiliki ritual tersendiri. Salah satu ritual yang paling umum adalah para pemiliknya akan merendam kemiri yang akan diadu ke dalam rendaman air cuka selama beberapa jam bahkan seharian.

Ragam Permainan Tradisional Jawa Barat untuk Kegiatan Ngabuburit

Para pemiliknya percaya, hal ini dapat memperkuat kulit luar dari muncang aduan. Beberapa pemain bahkan berbuat ekstra dengan membersihkan dan menggosok permukaan kulit muncang dengan minyak hanyak untuk mempercantik tampilan.

Adu muncang memang permainan tradisional yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Namun kini, sayangnya permainan ini sering disalahgunakan oleh oknum yang menjadikannya menjadi arena judi.

Padahal permainan ini dimaksudkan untuk mengasah kebersamaan dan kerja keras anak. Hal ini karena pada zaman dahulu, anak-anak yang ingin memperoleh muncang harus berusaha memetiknya sendiri dari pohonnya yang tinggi.

Setelah itu mereka juga harus mengeluarkan buahnya, membersihkannya, sampai memolesnya hingga muncangnya terlihat bagus dan mengkilap. Jadi untuk memiliki muncang yang bagus, anak-anak perlu bekerja keras.

Bahkan dalam catatan sejarah, adu muncang merupakan cara kerajaan-kerajaan di Jawa untuk mengadu kesaktian. Dan daerah Sunda, menjadi wilayah yang dianggap memiliki jawara-jawara paling unggul untuk adu muncang.

Adu kesaktian

Ngadu muncang memang salah satu permainan tradisional dari Indonesia, biasanya dimainkan oleh anak laki-laki pada musim kemiri. Namun bila membaca sejarah, adu muncang bukan hanya permainan di kala senggang.

Dimuat dari koropak, pada masa Kerajaan Sunda, ngadu muncang dijadikan sebagai alat menunjukan kesaktian. Siapa yang muncang atau kemirinya paling kuat, dipercaya dia punya kesaktian yang tinggi.

Dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kerajaan-Kerajaan Islam Jawa, Dr H.J. Graff hanya menulis sedikit mengenai permainan adu muncang. Dia hanya mencatat bahwa Sultan Agung, Raja Mataram Islam menggemari permainan adu muncang.

“Buah muncang beliau yang terbaik, terkuat, dan tidak terkalahkan,” tulis Graff.

Bagi Ihya M Kulon dalam Adu Muncang Pilkada, permainan adu muncang yang dijadikan lomba, bisa dipastikan dimulai oleh Sultan Agung. Hal ini kemudian disebarkan ke seluruh tanah jajahan Kerajaan Mataram Islam kala itu, termasuk wilayah Priangan.

Kerajaan Sumedang Larang bahkan tercatat pernah menjadi daerah yang memiliki muncang atau buah kemiri paling kuat di Pulau Jawa. Muncang Sumedang Larang bisa mengalahkan muncang lainnya dalam sebuah acara adu muncang.

Mainan Favorit Masa Kecil, Begini Asal-usul Conglak si Permainan Tradisional Indonesia

Dimuat dalam Balebandung, hal ini bisa dibuktikan di Museum Prabu Geusan Ulun yang berupa gamelan kuno dan antik. Bila kita menengok museum, di salah ruangan bernama Ruang Gamelan, ada seperangkat gamelan bergaya Jawa.

Di salah satu gamelannya, ada catatan bahwa gamelan tersebut merupakan hadiah dari Kerajaan Mataram Islam. Hal ini atas prestasi Kerajaan Sumedang Larang dalam adu muncang, hadiah itu bernama Gamelan Sari Oneng.

“Gamelan ini memang hadiah dari Mataram karena Sumedang menjadi jawara dalam adu muncang,” tutur Ny Lilis, seorang petugas museum.

Sayangnya, hingga kini tidak ada bukti fisik berupa muncang terkuat di daerah kekuasaan Mataram. Pasalnya, konon, muncang Sumedang yang memenangkan sayembara adu muncang ini diserahkan kepada Kerajaan Mataram.

Tetapi dengan fakta ini, permainan adu muncang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Priangan, termasuk para bangsawan dan keluarganya. Namun sangat disayangkan, kini warisan ini telah dilupakan oleh masyarakat.

Mengembalikan tradisi?

Bagi masyarakat Sunda, muncang atau biji kemiri yang memiliki tingkat kekerasan berbeda sering dijadikan bahan aduan. Namun, permainan tradisional yang diwariskan turun temurun ini malah dijadikan ajang judi

Pada tahun 2018 silam, polisi merazia judi adu muncang di Kecamatan Karangpawitan, Garut, Jawa Barat. Ironisnya, razia itu harus menelan satu korban jiwa yakni Asep Saepudin (31) yang tewas setelah timah panas petugas kepolisian menerjang dadanya.

Ketika itu beberapa petugas kepolisian menyergap kerumunan, suasana judi adu muncang menjadi riuh. Peserta yang kebanyakan berasal dari luar kampung itu, langsung lari tunggang langgang berusaha menyelamatkan diri.

Ketika pandemi Covid 19 sedang melanda, polisi juga menangkap 10 orang yang disinyalir terlibat dalam praktik perjudian adu muncang, di Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa barat, kegiatan ini dianggap meresahkan masyarakat.

Permainan Hompimpa, Ternyata Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan

“Kami sangat menyayangkan di tengah pandemi corona ini masih ditemukan penyakit masyarakat yang menggelar perjudian dengan berkerumun,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tasikmalaya, AKP Siswo De Cuellar Tarigan yang dikutip dari Republika.

Praktik perjudian ini menurut Siswo, bermula dari para tersangka mengajak masyarakat sekitar untuk bermain judi adu muncang dengan taruhan uang. Dirinya mengatakan para pelaku dengan sengaja menyelenggarakan kegiatan judi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut, Budi Gan Gan mengaku menyesalkan akan kejadian ini. Dirinya menegaskan bahwa permainan ini sudah sejak lama digemari oleh anak-anak.

“Sebelum mainan anak modern berkembang, permainan ini memanfaatkan hasil alam,” katanya yang dimuat di Tribun Jabar.

Dirinya menyayangkan, seiring berjalannya waktu permainan adu muncang malah disalahgunakan oleh mereka yang mencari peruntungan dalam perjudian. Hal ini akhirnya memberikan citra buruk bagi permainan tradisional tersebut.

Dirinya menjelaskan bahwa praktik perjudian dalam adu muncang ini memang selalu dilakukan oleh segelintir orang di Kabupaten Garut sejak lama. Setahunya, permainan ini dahulu hanya terdapat di kampung, namun sekarang di kota juga mulai ramai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini