Bisnis Startup Perlu Sinergi Strategis

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Bisnis Startup Perlu Sinergi Strategis
info gambar utama

Dalam artikelnya di Harian Republika, Jumat (17/6/2022), Prof. Rahma Sugihartati dari FISIP UNAIR Surabaya mengulas tentang meredupnya bisnis perusahan rintisan (startup) baik di negara lain maupun di Indonesia. Beberapa startup lokal yang terkenal sejak awal 2021 dilaporkan melalui PHK. Di luar negeri pun banyak startup yang melakukan hal yang sama.

Prof. Rahma mengutip data dari laman aggregator Layoff.fyi, selama 2022 ada 31.707 perusahaan rintisan di berbagai belahan dunia mengalami PHK. Pada Mei 2022 ada 16.923 orang, awal Jun 2022 ada 1.229, baik karena PHK maupun mengundurkan diri.

Menurut catatan yang ada, sektor digital yang paling banyak melakukan PHK atau meminta karyawannya mengundurkan diri adalah transportasi, makanan, perjalanan, teknologi finansial, serta perdagangan secara elektronik atau e-dagang (eCommerce), dan ritel.

Kita memang menyaksikan bahwa terjadi penurunan ekonomi global maupun nasional dampak dari pandemi Covid-19 yang panjang, dan mengakibatkan ketidakpastian atau uncertainty dibidang ekonomi dan bisnis.

Tidak hanya bisnis rintisan, bisnis besarpun banyak yang kolap. Bisnis start-up itu kolap karena sulit beradaptasi dengan kondisi perekonomian makro yang penuh ketidakpastian dan berubah-ubah.

Prof.Rahma juga menyebutkan, startup di luar negeri melakukan PHK karena lebih banyak akibat situasi eksternal, seperti tekanan inflasi, dampak berbagai masalah global, yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Di Tanah Air, lebih disebabkan masalah internal pengelolaan bisnisnya.

Namun di tengah kondisi yang suram melanda bisnis startup itu ada berita gembira dan sangat 'motivating', yaitu ketika Duta Besar Nigeria untuk Indonesia Osman Ari Ogah mengunjungi Kabupaten Sleman--tepatnya di Bangunkerto, Turi Sleman--tanggal 7 Juni 2022 lalu karena 'kesengsem' atau tertarik dengan inovasi dari perusahaan startup Yogyakarta yang merintis usaha pembangunan rumah menggunakan teknologi 3D Printing.

Yang Mulia Duta Besar Nigeria itu tertarik inovasi anak-anak muda Yogyakarta karena negaranya sangat membutuhkan teknologi yang bisa membangun perumahan secara massif dengan biaya murah. Maklum, kebutuhan rumah di Nigeria ini sangat tinggi karena besarnya jumlah penduduknya yang mencapai 22 juta.

Pertumbuhan penduduknya sangat cepat dan menjadi negara dengan populasi terbesar di Afrika. Dubes Nigeria ini menginformasikan bahwa pemerintahnya punya rencana membangun 1 juta rumah layak huni setiap tahunnya. Karena itu beliau tertarik dengan teknologi yang digagas anak-anak muda dari Yogyakarta itu.

Di atas adalah satu contoh dari bisnis startup yang berjaya di negeri ini di tengah ketidakpastian perekonomian global dan nasional. Saya yakin masih banyak lagi contoh startup bisnis di negeri ini yang masih gigih untuk bertahan. Mereka itu dari berbagai sektor bisnis, misalnya kuliner, wisata, fintech, transportasi, dll.

Di Jepang ada sinergi yang menari yang disebut Japan Inc. itu adalah sistem hubungan antara pihak pemerintah dalam hal ini Kementrian Keuangan, The Ministry of Finance (MoF), Kementrian Perdagangan Internasional dan Industri, MITI (The Ministry of International Trade and Inudstry), The Prime Minister Office atau Kantor Perdana Menteri, Diet atau Perlemen, Badan Perancang Ekonomi Negara, dan pihak-pihak swasta Jepang--dalam hal ini Federasi Organisasi Ekonomi (Keidanren)--serta organisasi buruh dan swasta lainnya.

Semua elemen itu bertemu secara reguler untuk membahas situasi ekonomi global dan nasional, perkembangan industri dan bisnis serta mendengar keluhan pengusaha besar maupun kecil dan memutuskan solusi yang diperlukan.

Karena itu saya ingin menambah pendapat dari Prof. Rahma diatas bahwa kolapsnya bisnis rintisan nasional karena persoalan internal pengelolaan bisnisnya, namun juga tidak adanya sinergi antar lembaga seperti yang dilakukan Jepang itu.

Di negeri ini nampaknya melihat bahwa suatu bisnis nasional itu runtuh karena memang kondisi ekonomi global yang menurun seperti itu. Pihak pemerintah (pusat dan daerah), DPR, DPRD, tidak pernah melakukan pertemuan dengan kalangan usaha kecil menengah, usaha rintisan untuk memberikan konseling atau mendengar keluhan-keluhannya, sehingga terkesan “your problems are not ours”.

Wallahualam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini