Perkembangan Keterkaitan Budaya Digital dan Transformasi Digital

Perkembangan Keterkaitan Budaya Digital dan Transformasi Digital
info gambar utama

Perkembangan budaya digital saat ini telah memengaruhi dan membentuk proses transformasi digital dalam aktivitas kehidupan manusia. Kemajuan teknologi menyebabkan nilai dan tradisi dari budaya tradisional yang ada di masyarakat beralih dan berubah ke budaya digital yang membentuk sistem, pola, dan model baru pada aktivitas masyarakat.

Tentunya, hal ini pun memengaruhi penerapan dan penggunaan teknologi digital dalam rutinitas keseharian. Perubahan budaya digital yang berbarengan dengan proses transformasi digital memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti bekerja, belajar, bermain, berbelanja, berkomunikasi, serta aktivitas internet lainnya, serta berbagai dinamika yang terjadi, termasuk dampak dari perubahan tersebut.

Adanya keterkaitan antara budaya digital dengan transformasi digital, membuat sebagian besar para ahli sepakat bahwa keduanya memiliki kaitan erat dan saling bersinergi. Beberapa pandangan ahli seperti (Hemerling, Kilmann, Danoesastro, Stutts, & Ahern, 2018) mengatakan bahwa digital culture sebenarnya merupakan hal sulit untuk diubah bagi perusahaan.

Namun, budaya digital termasuk faktor signifikan dalam transformasi digital karena budaya merupakan proses yang berlangsung lama secara turun menurun, menggali dari dasar yang paling dalam dari nilai perusahaan yang melibatkan seluruh komponen perusahaan untuk membantu transformasi digital perusahaan.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan perkataan Ian Rogers Chief Digital Officer LVMH bahwa momen bagi sebuah organisasi adalah ketika mereka menerima kenyataan bahwa transformasi digital bukanlah masalah teknis, tetapi perubahan budaya.

Perubahan budaya merupakan prasyarat terjadinya transformasi digital karena penerapan budaya digital lebih kepada mengubah pola pikir (mindset) agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital. Strategi menumbuhkan perilaku dan budaya dalam transformasi digital salah satunya yaitu mengembangkan growth mindset, jangan lagi memiliki fixed mindset.

Peran budaya digital dalam memengaruhi proses transformasi digital tentunya didukung oleh beberapa faktor, di antaranya sisi sumber daya manusia serta dari masyarakat atau organisasinya. Di samping itu, ada pula stakeholder di sekitarmya.

Tidak dapat dipungkiri, pada hubungan keduanya ini sangat erat dan kuat. Budaya digital di Indonesia memengaruhi perkembangan transformasi digital, baik disektor publik ataupun sektor swasta, yang dampaknya seperti dua sisi mata uang, keduanya saling berkaitan dan tidak terpisahkan.

Tidak kita pungkiri, adanya transformasi digital memberikan dampak positif, seperti membuat efektifitas, efisiensi, dan menciptakan produktivitas akan inovasi yang baru dengan dukungan kepemimpinan yang agile.

Di sisi lain dampak negatifnya pun tetap hadir, tidak disadari dengan peradaban yang makin berkembang dan kecanggihan teknologi, membuat lunturnya nilai humanisme dan nilai sosial yang selama ini ada di masyarakat. Selain itu, masalah etika dan keamanan penggunaan teknologi digital, tindak kejahatan di dunia digital yang semakin marak akibat dari ketidakpahaman masyarakat dalam menyikapi perkembangan digital.

Cepatnya transformasi digital menghadirkan peluang dan tantangan tersendiri. Peluang yang membuat masyarakat secara kualitas meningkat, baik individu atau organisasi. Begitu pula dengan tantangan yang masih harus diperbaiki terkait pengetahuan masyarakat Indonesia yang belum maksimal.

Perlunya literasi digital sebagai bentuk pengenalan dan pemahaman akan ruang digital. Lalu, dukungan yang penuh dari regulasi, infrastruktur, dan anggaran yang masih belum mencukupi. Maka, di sini peran pemerintah sangat penting dalam membangun masyarakat digital yang bijak dan beretika.

Situasi dan Kondisi Masyarakat Digital di Indonesia

Ilustrasi | Foto: Pexels.com
info gambar

Seperti kita ketahui, kondisi pandemi yang menimpa seluruh dunia, tanpa terkecuali di Indonesia, sangat memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya. Sebelum pandemi, masyarakat melakukan aktivitas dengan pola beragam, mobilitasnya terbilang cukup tinggi.

Kemudian pandemi muncul, mengubah seluruh sendi kehidupan di masyarakat dengan aturan ketat mengurangi mobilisasi atau di rumah saja agar mengurangi penularan virus.

Di balik kebijakan tersebut tentunya berakibat pada meningkatnya kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Andalan masyarakat dalam melaksanakan aktivitas, seperti belajar, bekerja, bermain, belanja, berkomunikasi, serta akses internet.

Apabila dilihat dari kondisi jumlah penduduk Indonesia, yakni 272,1 juta penduduk, dengan komposisi aktivitas pengguna digital pada saat pandemi terdiri dari pengguna internet berjumlah 202,6 juta, sebanyak 37 juta adalah pengguna internet baru dari tahun sebelumnya.

Kemudian, tercatat 96% penduduk mengakses internet menggunakan mobile devices, penggunan internet setiap harinya rata-rata sampai dengan 8 jam 52 menit, sebanyak 170 juta pengguna aktif di berbagai platform media sosial.

Menurut Hootsuite (2021), pada smartphone, terkoneksi sebanyak 338,2 juta atau 124% dari total penduduk, dengan perbandingan koneksi pada Januari 2019 dan Januari 2020 bertambah 15 juta (4,6 %) serta pengguna sosial media bertambah 12 juta atau (8,1%).

Dengan meningkatnya aktivitas digital masyarakat Indonesia di masa pandemi, menunjukkan bahwa perkembangan budaya digital tumbuh sangat pesat. Namun, apakah pertumbuhan aktivitas digital berbanding lurus dengan pengetahuan literasi digital masyarakat Indonesia?

Saat ini, masyarakat dengan berbagai jenis latar belakang pendidikan, usia, pekerjaan, dan sebagainya, hanya sebagai penikmat dan pengguna saja, tanpa mengetahui dan memahami dampak baik dan buruk dari penggunaan aktivitas di dunia maya. Akibatnya, mereka cenderung salah arah dalam menggunakan teknologi digital.

Harapannya, di masa sekerang dan mendatang, budaya digital masyarakat Indonesia semakin meluas di seluruh penjuru. Jadi, tidak hanya di perkotaan maupun pedesaan. Selain itu, pengetahuan akan literasi digital masyarakat pun makin meningkat yang secara tidak langsung akan berdampak pada meningkatnya pembangunan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan menurunnya tindak kejahatan di dunia maya karena pemahaman akan ruang digital lebih baik.

Dengan begitu, Indonesia lebih siap bertransformasi digital secara keseluruhan, baik dari manusia dan teknologinya.

 

Referensi:

Hemerling, J., Kilmann, J., Danoesastro, M., Stutts, L., & Ahern, C. (2018). Its Not a Digital Transformation Without a Digital Culture. BCG.

Hootsuite. (2021). Pandemi dan Lanskap Digitalisasi Aktivitas Masyarakat.

Kemenkominfo RI. (2021). Pentingnya Aspek Budaya untuk Menggerakkan Transformasi Digital. Diakses dari https://aptika.kominfo.go.id/2021/02/pentingnya-aspek-budaya-untuk-menggerakkan-transformasi-digital/.

Organisasi dan SDM. (2020). Membangun Budaya Baru Untuk Menjadi Digital Company. Diakses dari https://e2consulting.co.id/2020/09/17/membangun-budaya-baru-untuk-menjadi-digital-company/.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini