Mempelajari Filosofi Gonjong Pada Rumah Gadang di Desa Sarugo

Mempelajari Filosofi Gonjong Pada Rumah Gadang di Desa Sarugo
info gambar utama

Siapa yang tidak mengenal Rumah Gadang? Rumah adat Suku Minangkabau ini identik dengan bentuk atap unik dan penuh makna. Menurut bentuknya, rumah adat tersebut juga disebut rumah gonjong atau rumah bagonjong karena atapnya yang semakin ke atas semakin runcing.

Pada dasarnya Rumah Gadang dihuni oleh keluarga besar dengan segala aktivitasnya sehari-hari. Namun, pada momen-momen tertentu, Rumah Gadang juga jadi tempat menyelenggarakan acara adat seperti Turun Mandi, Khitan, Perkawinan, Batagak Gala (Pengangkatan Datuak), dan upacaea kematian.

Untuk melihat kampung dengan deretan Rumah Gadang dan bisa mempelajari kebudayaannya, Anda bisa bertolak di Desa Wisata Saribu Gonjong atau yang juga dikenal dengan sebutan Desa Sarugo di Kanagarian Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Wilayah desa ini terletak di dataran tinggi gugusan Bukit Barisan, yang dikelilingi oleh gugusan perkebunan Jeruk Siam Gunuang Omeh (Jesigo).

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Desa Wisata Saribu Gonjong memiliki keunikan yaitu deretan Rumah Gadang lengkap dengan gonjong dan memiliki tradisi yang kuat. Semua rumah berderet rapi membentuk barisan dan menghadap ke Masjid Raya.

"Budayanya sangat terjaga, begitu juga dengan keindahan alamnya. Terlihat sangat menyatu di desa wisata ini dengan kearifan lokalnya dan ini yang harus terus dijaga," kata Menparekraf.

Menilik Potensi Wisata Alam, Budaya, Rohani, Hingga Kuliner di Floratama

Keunikan Desa Saribu Gonjong

Keunikan pertama dari desa wisata ini adalah filosofi terkait nama Saribu Gonjong yang artinya Seribu atap Rumah Gadang khas Minangkabau. Penamaan ini memang mengacu pada banyaknya Gadang beratap gonjong.

Keunikan lain di Desa Saribu Gonjong yaitu memiliki ikatan historis dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Desa tersebut rupanya pernah menjadi kawasan penting dan perannya tak terpisahkan dari upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketua PDRI Syafruddin Prawiranegara berserta beberapa petinggi lain pernah mendapatkan mandat dari Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta saat keduanya ditawan Belanda, ternyata pernah menginap di Desa Saribu Gonjong. Kini di desa tersebut masih ada beberapa peninggalan bersejarah yang dapat menjadi bukti terkait hal tersebut.

Selanjutnya yang tak kalah menarik adalah keberadaan perkebunan jeruk seluas 200 hektare. Selain sarat makna dan sejarah, desa ini juga dikenal dengan hasil alamnya dan masyarakat pun menggantungkan kehidupannya di sektor perkebunan dan pertanian.

Masyarakat setempat terus mengembangkan perkebunan jeruk yang ada di desanya. Sehingga mereka tak hanya memasarkan buah jeruk, tetapi lokasi perkebunan pun dikembangkan menjadi agrowisata. Di kebun tersebut, wisatawan bisa memetik buah jeruk dan menikmati buah langsung dari pohonnya.

Secara lokasi, Desa Saribu Gonjong terletak sekitar 180 Km sebelah utara Kota Padang dan bisa ditempuh dengan jalur darat kurang lebih lima jam. Meski cukup memakan waktu, pemandangan alam selama perjalanan tak akan membuat Anda bosan. Nantinya, wisatawan akan melewati kawasan Suliki dengan hamparan sawah yang berpadu dengan bukit. Di Suliki juga ada rumah kelahiran dan makam pahlawan nasional yaitu Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau yang lebih dikenal Tan Malaka.

Melancong ke Pulau Siberut untuk Melihat Satwa Endemik dan Kehidupan Suku Mentawai

Filosofi atap gonjong

Rumah Gadang merupakan cerminan dari kekayaan budaya dengan karakter, filosofi, dan cara pembuatannya yang unik. Dengan ciri khas arsitekturnya berupa atap gonjong dan ornamen pada puncaknya. Atap gonjong ini dirancang sedemikian rupa untuk menyesuaikan klim tropis dan bangunannya secara keseluruhan juga terbukti dapat menahan gempa.

Pada zaman dahulu, atap gonjong hanya digunakan di Rumah Gadang yang berlokasi di dataran tinggi. Namun, seiring dengan masyarakat yang mulai merantau ke luar Sumatra Barat, atap gonjong pun kini menjadi simbol bahwa mereka ada keturunan Minang.

Mengunjungi Desa Saribu Gonjong, wisatawan juga dapat mempelajari atap gonjong di Rumah Gadang dan filosofinya. Filosofi gonjong pun bisa punya arti yang berbeda. Ada yang mengaitkannya dengan tanduk kerbau, haluan kapal, atau daun sirih yang bersusun.

Untuk pendapat atap gonjong berbentuk tanduk kerbau ini berdasarkan legenda asal-usul kata Minangkabau. Sedangkan yang mengatakan atap gonjong serupa dengan haluan kapal ini berkaitan dengan kisah pendaratan Iskandar Zulkarnain, salah seorang nenek moyang masyarakat Minangkabau. Sedangkan filosofi daun sirih ini karena sejak lama sirih memang menjadi bagian dari budaya penting dan sakra di Minangkabau.

Ornamen rumah adat yang khas dianggap memiliki makna hierarki dalam pengambilan keputusan. Kemudian bentuk yang melengkung dan dominan bermakna bahwa sesuatu tidak perlu disampaikan secara langsung, cukup secara diplomatis.

Sementara bentuk perahu menjadi wujud kenangan masyarakat Minangkabau terhadap leluhur mereka yang berlayar ke daerah tersebut. Selanjutnya untuk bentuk topi Iskandar Zulkarnain melambangkan kekuasaan dan gonjong berjumlah lima buah di setiap Rumah Gadang melambangkan Rukun Islam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini