Penghormatan dan Sakralitas Terhadap Perempuan dalam Budaya Sunda

Penghormatan dan Sakralitas Terhadap Perempuan dalam Budaya Sunda
info gambar utama

Perempuan ditempatkan dalam kedudukan yang tinggi dalam mitologi Sunda. Sosok ini dijunjung sebagai indung, dipuja layaknya batari. Banyak mitologi Sunda yang menampilkan sosok perempuan dan kisahnya diwariskan turun temurun.

Tokoh mitologi yang hidup dan sebagian masih sering menjadi tujuan persembahan upacara-upacara tertentu di masyarakat Sunda adalah Dayang Sumbi, Sunan Ambu, dan Nyi Sri Pohaci.

Cerita lisan yang telah melegenda di Tatar Sunda adalah Sasakala Gunung Tangkuban Parahu yang tokoh utamanya adalah Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Cerita ini juga sering disebut dengan judul lain yakni Legenda Sangkuriang Kabeurangan.

Di cerita ini digambarkan Dayang Sumbi sebagai seorang perempuan yang cantik jelita dan Sangkuriang seorang laki-laki tampan yang sakti mandraguna. Kedua karakter ini tidak menutup kemungkinan menjadi stereotype perempuan dan laki-laki Sunda pada masa itu.

Dayang Sumbi juga merahasiakan “keaiban dirinya” yang bersuamikan seekor anjing, Si Tumang. Kerahasiaan ini memang harus dibayar mahal, saat suaminya atau ayah dari Sangkuriang harus mati di tangan anaknya sendiri.

Dipati Ukur, Perjalanan Hidup Pemberontak yang Ditumpas oleh Mataram

Di cerita ini juga digambarkan sosok Dayang Sumbi yang berusaha menggagalkan pernikahan dengan anaknya, Sangkuriang. Keteguhan hati dan keluasan berpikir untuk jangka panjang telah menggagalkan rencana anaknya tersebut.

“Alhasil sosok ibu yang diperankan oleh Dayang Sumbi adalah seorang ibu yang berpendirian teguh atas kebenaran yang diyakininya,” tulis Agus Heryana dalam Mitologi Perempuan Sunda.

Mitologi perempuan lain terdapat dalam kisah Lutung Kasarung yang terdapat tokoh wanita bernama Sunan Ambu. Sosok ini menurut budayawan Sunda Ajip Rosidi, merupakan tokoh tertinggi dalam kosmos orang Sunda.

Sunan Ambu adalah pemimpin para dewa di kahyangan dan menjadi decision maker jika ada masalah apa pun yang muncul di dalam kehidupan manusia di Bumi. Sunan Ambu memerintah empat pujangga sakti laki-laki, juga para pohaci suci.

Arti Sunan Ambu sendiri dalam Bahasa Indonesia adalah Ratu Ibu atau Dewi Ibu. Sedangkan dalam kepercayaan orang Sunda, sosok ini perannya lebih dari itu, karena sosoknya dianggap sebagai ibu dari kebudayaan Sunda.

Tokoh perempuan lain yang dianggap penting dalam mitologi Sunda adalah Dewi Sri. Tokoh Dewi Sri dalam khasanah kepercayaan Sunda memiliki nama lain, seperti Nyi Pohaci. Objek ini dipuja oleh masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.

Nyi Pohaci dikisahkan harus “terlempar” ke Bumi, dianggap berkorban demi keseimbangan dan menumbuhkan harap untuk masyarakat adat Kanekes atau Baduy dan Jawa Barat secara umumnya melalui hasil pertanian.

Perempuan dalam sosiologi Sunda

Masyarakat Sunda memiliki sebuah idiom yakni mata holang yang bermakna sumber sekaligus pusat kehidupan atau ujung tombak dalam beraktivitas. Sedangkan penyebutan indung (ibu) akan lebih dominan dibandingkan ayah atau bapak.

Agus mencontohkan misalnya dalam bentuk sapaan sehari-hari, biasanya lebih mendahulukan ibu daripada bapak, seperti ibu dan bapak. Juga sebutan ibu pertiwi dan ibu kota yang lebih terkenal.

Menurutnya penyebutan kata ibu sebelum bapak bukanlah sebuah kebetulan atau sesuka hati pemakainya. Tetapi didasari oleh adanya pandangan-pandangan yang lebih menghargai perempuan.

“Seolah-olah indung menjadi pusat aktivitas, pusat dunia,” ucapnya.

Oleh karena itu, jelasnya, mudah dimengerti bila pada sebagian masyarakat tradisional indung menjadi pusat pemujaan atau puncak tertinggi kekuasaan. Karena dalam keluarga saja, indung ditempatkan dalam posisi yang strategis.

Lutung Kasarung, Cerita Rakyat yang Begitu Disakralkan oleh Masyarakat Priangan

Misalnya, kesalahan yang diperbuat oleh seorang anak, seringkali permintaan maaf dimohonkan terlebih dahulu pada atau melalui ibu daripada ayah. Hal ini ucapnya terlihat dalam ungkapan bahwa indung mah gede hampura (ibu selalu memberi maaf).

Sementara itu Istianah menyebutkan bila ditengok lebih dalam ke dunia mitologi, diketahui bahwa masyarakat Sunda Kuno pernah menjalankan sistem matriarki (garis ibu) yang berkebalikan dari sistem patriarki (garis ayah).

Istianah dalam jurnalnya berjudul Peran dan Kedudukan Perempuan di Kampung Geger Hanjuang Leuwisari Tasikmalaya ini meneliti peran dan kedudukan perempuan di Kampung Geger Hanjuang.

Menurut mahasiswa dari Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Cipasung, Tasikmalaya ini kampung itu di masa lalu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Galunggung yang dipimpin oleh seorang pemimpin perempuan bergelar Sang Batari Hyang.

Mulai bergeser

Namun banyak peneliti yang menangkap adanya pergeseran peran perempuan Sunda di masa kini. Misalnya perubahan ini terlihat dalam penggunaan kata perempuan di majalah bahasa Sunda, Mangle.

Susi Yuliawati meneliti penggunaan nomina yang melambangkan perempuan dalam majalah Mangle periode 1958 hingga 2013. Menurutnya dalam majalah itu sering menggunakan kata-kata seperti mojang, wanoja, wanita, geureuha, dan pamajikan.

“Kehadiran leksikon (kosakata) untuk melambangkan perempuan dalam bahasa Sunda mengindikasikan peran penting perempuan dalam masyarakat Sunda,” tulis dosen Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) ini yang dimuat di Bandung Bergerak.

Empat periode utama ini yaitu, masa Demokrasi Terpimpin (1958-1965), masa Orde Baru (1966-1998), masa transisi menuju demokrasi (1999-2003), serta masa Reformasi (2004-2013).

Menurutnya walau lima kata itu konsisten digunakan dalam setiap periode. Namun empat kata, seperti pamajikan, geureuha, wanita, dan mojang mengalami penurunan. Baginya perubahan sosial sangat mempengaruhi perubahan tren penggunaan nomina perempuan.

Dari empat kata itu, jelas Susi, istilah geureuha (istri) semakin langka digunakan, dari 156 di periode pertama menjadi tiga di periode keempat. Istilah wanoja (mandiri) justru meningkat penggunaannya, dari semula 13 di periode pertama menjadi 301 di periode keempat.

Rumah Bosscha, Hunian ala Belanda Milik Raja Teh Priangan

“Tren penggunaan wanoja yang meningkat sejalan dengan geliat perempuan Sunda di ranah publik, di mana usia perkawinan, tingkat pendidikan, hingga jumlah pekerja perempuan Sunda terus meningkat,” paparnya.

Dirinya pun menyimpulkan kata geureuha pada masa Demokrasi Terpimpin bermakna bahwa perempuan Sunda berperan sebagai istri yang fungsi utamanya sebagai pemenuh kebutuhan biologis laki-laki.

Sementara mojang awalnya merupakan konstruksi perempuan Sunda berdasarkan aspek kecantikannya. Namun pada periode ketiga, objektifikasi ini mulai menghilang dan berubah menjadi sebutan itu perhelatan mojang-jajaka.

Kata pamajikan konsisten menampilkan sosok perempuan Sunda sebagai istri dengan peran tradisionalnya dalam keluarga. Hal ini berbeda dengan wanoja yang dianggap menghadirkan perempuan Sunda dalam ranah publik.

“Jika empat kata lain memiliki pasangan istilahnya dengan laki-laki. Wanoja tidak punya pasangan dalam laki-laki. Ini menunjukkan bahwa wanoja cenderung memperbincangkan perempuan sebagai diri sendiri, tidak terikat dengan laki-laki,” kata Susi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini