Jejak Akulturasi Budaya Indonesia-Tionghoa yang Kini Tetap Lestari

Jejak Akulturasi Budaya Indonesia-Tionghoa yang Kini Tetap Lestari
info gambar utama

Nusantara memiliki posisi yang sangat strategis dalam hubungan internasional, karena itulah kebudayaan di wilayah ini banyak dipengaruhi oleh bangsa lain, termasuk salah satunya budaya dari Tionghoa.

Pengaruh ini masih berjejak, bahkan bercampur dengan budaya Indonesia saat ini. Hal-hal yang selama ini dikenal secara umum. Akulturasi dari kebudayaan Tionghoa ini bisa dilihat mulai dari bangunan, makanan, hingga bahasa.

“Tidak ada budaya yang berdiri tunggal, saya meyakinkan itu. Karena budaya itu ada interaksi, take and give,” kata Udaya Halim, budayawan Tionghoa dan pendiri Museum Benteng Heritage, Rabu (22/6/2022)

Udayana dalam diskusi Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS) Online Public Talkshow Episode #3 - Akulturasi dalam Memori Kolektif Bangsa Indonesia menyebut kebudayaan Tionghoa di Nusantara bisa ditarik mulai pelayaran Laksamana Cheng Ho.

Menurut Udaya, pelayaran Laksamana Cheng Ho atau Zheng He (1371-1433) banyak berpengaruh di Nusantara dalam bentuk tinggalan budaya, dari bendawi dan nonbendawi yang tersebar di hampir sebagian wilayah Nusantara.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/02/16/cap-go-meh-dan-budaya-tionghoa-betawi-dalam-perayaan-terang-bulan

Ketika itu Cheng Ho diperintahkan oleh Kaisar Yong Le (Zhu Di) dari Dinasti Ming di Tiongkok untuk melakukan pelayaran ke Laut Selatan. Tujuannya membangun hubungan bilateral dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Selatan.

Cheng Ho dalam kurun waktu 1405-1433, memimpin pelayaran sebanyak tujuh kali dengan armada kapal kayu (junk) sebanyak 220-300 kapal. Pelayaran itu membawa hampir 30.000 orang yang terdiri atas tentara, ahli pertanian, penerjemah, dan sebagainya.

Udaya menyebut tujuan utama dari Cheng Ho adalah Jawa, bermula dari Majapahit. Dirinya kemudian menuju ke Semarang, kemudian ke Sunda Kelapa (Jakarta), lalu ke Banten. Cheng Ho juga pergi Sumatra, yakni Palembang dan Aceh.

Pengaruh terhadap bangunan

Akulturasi bangunan Indonesia dengan kebudayaan Tionghoa yang tersebar di berbagai wilayah. Awalnya merupakan jenis penggabungan elemen antara bangunan khas Nusantara, ditambah dengan pernak-pernik khas Tionghoa.

Misalnya pada makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Makamnya dipenuhi dengan keramik dari berbagai dinasti Tionghoa, seperti Song dan Ming. Fenomena ini juga bisa ditemukan pada Masjid Merah Panjunan yang didirikan pada 1480.

Pengaruh Tionghoa di Cirebon memang cukup besar, hal ini mengingat pada masa lalu Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan yang memiliki hubungan internasional yang kuat dengan budaya Tionghoa.

“Bahkan istri Sunan Gunung Jati, Ong Tien Nio adalah seorang Tionghoa dari Champa (Vietnam-Kamboja kini),” ungkap Udaya.

Akulturasi budaya ini muncul secara arsitektur, misalnya pada masjid pertama Kesultanan Banten yang dibangun Syarif Hidayatullah (1522-1570). Udaya menyebut ketika masjid ini didirikan, disebutnya sebagai masjid China atau masjid Pecinan.

Udaya menambahkan Masjid Agung Banten juga didirikan oleh insinyur yang bernama Tjek Ban Tjun. Kesultanan Banten juga diketahui memiliki kehidupan sosial yang sangat multikultural dan multietnis, karena lokasinya sangat strategis sebagai bandar dagang.

Singkap Jejak Orang China Timor, Titisan Pemburu Wewangian Surgawi

Jajaran pemerintahannya juga diisi oleh etnis lain, termasuk Tionghoa. Dia mendapati laporan tentang Menteri Perdagangan Banten, Cakradana yang pernah menyurati Raja Denmark untuk mengambil lada yang dipesan pada tahun 1671 dan 1672.

“Cakradana diketahui ternyata seorang Tionghoa bernama Tan Che Ko,” bebernya.

Pengaruh budaya Tionghoa juga ada di Batavia, misalnya saja dalam pembangunan jembatan. Pasalnya pembangunan arsitektur di Batavia ini dipimpin oleh orang Tionghoa bernama Souw Beng Kong.

“Angkat empat bagi orang Tionghoa dianggap sebagai angka sial karena terdengar seperti kata “kematian”,” ucapnya.

Souw Beng Kong datang ke Banten pada 1580, dirinya membuka kebun lada dan perdagangan. Dia juga menjadi orang kepercayaan Sultan. Dan pada 1619, dia diminta Jan Pieterszoon Coen untuk pindah ke Batavia.

Kehidupan sehari-hari

View this post on Instagram

A post shared by Info Makanan || PROUDFOODISM ✨ (@proudfoodism)

Tidak hanya dalam bangunan, masyarakat Tionghoa juga mengenalkan beberapa jenis teknologi anyaman dan sajian yang diperdagangkan. Misalnya para pedagang pikul yang dahulunya banyak dirintis oleh orang Tionghoa.

Sedangkan istilah-istilah yang digunakan juga banyak meresap dalam bahasa Indonesia yang kini dikenal, seperti kuli, kemoceng, pengki, kue, soto, kuali, cincau, sate dan masih banyak lagi.

Udaya juga mengatakan dalam hal makanan juga terserap antara budaya Tionghoa dan Nusantara, salah satunya adalah kecap. Masyarakat Jawa menghasilkan kecap manis dari campuran gula jawa dan kedelai yang diperkenalkan orang Tionghoa.

“Kecap komponen utamanya adalah soya (kedelai) yang dalam bahasa Tionghoanya dibilang tau. Tau inilah yang dibawa Cheng Ho dalam kapal pertaniannya. Kalau ditanam menjadi tauge, kalau digiling menjadi tahu, busuk saja pun bisa diasinin jadi tauco, jelas Udaya.

Akulturasi juga membawa beberapa makanan tradisional Tionghoa menjadi khas Indonesia. Beberapa di antaranya, jenis pia seperti bakpia, lumpia, dan popia yang sebenarnya adalah jenis pai atau kue kering Tionghoa.

Ledakan Petasan, Cara Masyarakat China Usir Setan di Hindia Belanda

Budaya ini akhirnya mengalami perubahan bentuk berdasarkan kebudayaan setempat. Misalnya bacang yang merupakan makanan khas orang Tionghoa dengan bahan beras berisi daging.

Tetapi setelah diadopsi, di beberapa daerah terjadi perubahan bahan seperti lemper, jaje bantal bali, lepet, arem-arem, dan buras dari Sulawesi Selatan. Modifikasi ini dalam akulturasi juga ada dalam kebudayaan.

Udaya mencontohkannya dalam ondel-ondel. Masyarakat Betawi yang merupakan percampuran dari berbagai etnis dan suku, menggunakan ondel-ondel yang sebenarnya diadopsi dari barong Tionghoa.

“Ada inspirasi yang mengubah atau menambahkan. Kalau kita lihat di zaman dahulunya ini di Jakarta disebutnya berongan. Itu barongan yang saya yakin ini akulturasi juga dari tiga budaya seperti Bali dan Tionghoa.” jelas Udaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini