Legenda Buaya yang Dianggap sebagai Kembaran Manusia di Sulsel

Legenda Buaya yang Dianggap sebagai Kembaran Manusia di Sulsel
info gambar utama

Pada tahun 2020 silam, media sosial heboh dengan kemunculan buaya di Sungai Tallo, Kota Makassar yang diduga jadi-jadian oleh warga. Buaya itu kemudian diamankan ke rumah salah satu penduduk.

Hal yang membuat viral bukanlah penemuan buaya itu, namun reptil bertubuh besar ini oleh warga dibungkus dengan kain kafan, bahkan diberikan upacara adat dengan menabuh gendang seperti penyambutan tamu.

Salah seorang warga, Muladi yang menyimpan buaya itu di ruang tamu rumahnya di Jalan Pacinan, Kelurahan Tello Baru, Panakkukang, Kota Makassar meyakini bahwa buaya itu sebagai keturunan manusia.

“Buaya keturunan (manusia) itu,” tutur kerabat Mulladi, Firman kepada wartawan yang dimuat Detik, Senin (27/6/2022).

Kisah ini serupa dengan cerita seorang ibu di Murante, Kabupaten Luwu yang baru saja berduka karena anak lelakinya meninggal dunia. Dirinya dikejutkan dengan kemunculan seekor buaya di tangga depan rumahnya.

Menapaki Riwayat Pendirian Museum La Pawawoi di Kabupaten Bone

“Buaya ini berukuran kecil, seukuran kaki jempol orang dewasa. Berjalannya agak lunglai. Layaknya anak lelakinya yang difabel semasa hidup. Buaya itu dipercaya sebagai kembaran si anak lelaki,” tulis Eko Rusdianto dalam Legenda Buaya di Kalangan Masyarakat Sulawesi Selatan yang dikabarkan Historia.

Eko menyebut kejadian ini tidak hanya terjadi di Murante, di desa Suli, seekor buaya hitam juga dipercaya sebagai kembaran dari seorang warga. Bahkan sampai hari ini sebagian warga, masih menggunakan sungai untuk mandi dan ditemani para buaya.

Di sungai itu, buaya selalu hilir mudik. Anak-anak dan orang tua di Cerekang, Kabupaten Luwu Timur tak pernah takut untuk berenang bersama. Daeng Manakka, penduduk desa Cerekang menyebut buaya adalah leluhur dari manusia.

Sedangkan di Pinrang, beberapa orang juga menjadikan buaya bagian dari keluarga. Muhammad Ikbal, salah satu warga menyebut setiap tahun dirinya bersama keluarganya akan memberikan sesajen pada buaya yang ada di sungai.

“Biasanya diberikan telur dua buah. Itu dilakukan kalau nenek saya sudah mimpi bertemu dengan kembaran buaya-nya itu,” katanya.

Buaya dalam cerita

Menghormati buaya dan memperlakukannya layaknya manusia, tidaklah hal baru bagi masyarakat Bugis-Makassar. Jauh sebelum ajaran Islam masuk Sulsel sebagian dari mereka percaya manusia yang lahir memiliki kembaran seekor buaya.

Prof Dr Nurhayati Rahman, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) menyebut kepercayaan manusia memiliki kembaran buaya bagi masyarakat Bugis-Makassar juga tertuang dalam kitab sastra Bugis kuno I La Galigo.

Diungkapkannya, di La Galigo dijelaskan sebuah pandangan kosmologi, bahwa orang Bugis memandang alam raya ini terdiri dari tiga lapis, yaitu dunia di atas (langit) atau disebut Botting Langi dihuni oleh para dewa dan dewi.

Kemudian di dunia bawah laut, di tulis dalam La Galigo dengan Buri Liung yang juga dihuni oleh para dewa-dewi. Pertemuan antara dewi dari Botting Langi dan dewa di Buri Liung melahirkan manusia.

Nurhayati melanjutkan, berdasarkan kitab La Galigo, manusia yang lahir dari pertemuan dunia langit dan dunia laut ini kemudian menghuni dunia tengah atau disebut Ale Lino. Manusia diberi tugas untuk menjaga keseimbangan alam.

Menilik Riwayat Pembangunan dan Potensi PLTB di Indonesia

Masyarakat Bugis-Makassar di masa silam juga percaya apa yang berasal dari langit dan bawah laut, merupakan bagian dari dirinya, termasuk buaya yang yang diyakini sebagai kembaran manusia.

“Jadi mereka percaya setiap manusia itu lahir di dunia ini ada kembarannya. Ada yang kembaran air, ada yang kembaran ular, tetapi pada umumnya mereka menganggap kembarannya adalah buaya,” paparnya yang dimuat Detik.

Sementara itu, sejarawan Universitas Negeri Makassar, Taufik Ahmad mengatakan di masyarakat Bugis-Makassar buaya telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Misalnya di Bone, buaya dikenal dengan nama To ri solo (orang yang menghuni sungai).

Sedangkan di Luwu, buaya oleh masyarakat sekitar disebut ampu sulu (yang menguasai sungai) dan bahkan dalam menyebut buaya harus menggunakan kata nenek. Bagi, Taufik cara pandang ini sangat erat hubungannya dengan alam.

Karena baginya, cara pandang ini merupakan upaya leluhur untuk memproteksi sungai. Pada masa lalu, masyarakat tidak dibenarkan membuang hajat di sungai, menangkap ikan dengan racun.

“Bahkan rumah-rumah masyarakat yang berada di pinggiran sungai, menjadikannya sebagai halaman depan,” ungkapnya.

Tradisi yang hilang

Tetapi budaya penghormatan pada buaya mulai berkurang sejak 1905. Ketika itu, pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dicatat adanya kegiatan yang disebut sebagai hunting crocodile dan ada ribuan buaya yang ditangkap.

“Tetapi saya tak menemukan catatan, apakah itu dilakukan untuk kebutuhan pasar Eropa, untuk kulit buaya,” jelas Taufik.

Menurutnya pada masa itu, pegawai Belanda yang bermukim di Sulsel merekrut dan menggaji orang-orang pribumi untuk menangkap buaya. Karena itulah, pelan-pelan hubungan manusia dan buaya (alam) mulai luntur dan orang mulai mengotori sungai.

Taufik menyebut fenomena ini bisa ditemui hampir di semua wilayah di Sulsel, baik di pedalaman maupun kota kabupaten. Sungai kemudian menjadi tempat sampah. Bahkan rumah-rumah menjadikan sungai sebagai halaman belakang.

“Ingat, di kebudayaan kita halaman belakang adalah kotor. Itulah yang terjadi pada keberadaan sungai atau juga laut saat ini,” papar Taufik.

Selain itu, pembangunan pemukiman yang masif memaksa para buaya meninggalkan habitat dan minggat lebih dalam di hulu sungai. Belum lagi, jelas Taufik, menyoal masalah perburuan buaya untuk komoditas ekonomi.

Karena itulah mitos buaya sebagai upaya menjaga sungai, turut menjadi inspirasi Achmad Fauzi untuk menggelar instalasi Memori Sungai sebagai Halaman Depan di Makassar Biennale pada 2019 silam.

Dirinya percaya bahwa mitos inilah yang telah merawat sungai, karena itu secara proses kreatif dirinya mulai menyusun sebagian keping-keping ingatan warga Sulsel perihal sungai. Tentu yang paling mencolok adalah mitos-mitos yang telah berkembang di masyarakat.

Karena menurut Fauzi, kedudukan dan kemulian sungai mulai terkikis bersama dengan modernitas. Berbagai kebiasaan leluhur sebagai penghormatan pada ekosistem sudah jarang dilakukan.

Sungai tak lagi dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam masyarakat. Dia kini hanya dipandang sekadar tempat pembuangan limbah dan menyebabkan banjir, terutama masalah eksploitasi yang sangat berlebihan.

“Ketika sungai kotor, proses pembersihannya akan sangat sulit lantaran bentangnya yang panjang. Permasalahanya pun kompleks. Akhirnya yang terjadi adalah tuduh menuduh dari hulu ke hilir,” paparnya dengan nada prihatin yang dimuat IDN Times.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini