Festival Lembah Baliem yang Bawa Jayawijaya Dikenal Dunia

Festival Lembah Baliem yang Bawa Jayawijaya Dikenal Dunia
info gambar utama

Papua dikenal sebagai salah satu wilayah di Indonesia dengan kehidupan masyarakat yang masih kental akan tradisi dan budaya. Sebagian besar daerahnya masih berstatus wilayah adat dan ditinggali masyarakat adat.

Salah satu wilayah adat yang dimaksud adalah La Pago, yang baru-baru ini disahkan sebagai salah satu Provinsi Baru tepatnya Provinsi Pegunungan Tengah. Cakupannya meliputi Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Puncak Jaya, Yalimo, Yahukimo, Membramo Tengah, dan Kabupaten Puncak.

Mengenal lebih jauh, jika mengintip lebih dalam wilayah La Pago, sebenarnya salah satu kawasan di pulau paling Timur Indonesia ini tidak terlalu ‘terbelakang’ seperti yang selama ini banyak dibicarakan. Ada sejumlah potensi yang dimiliki wilayah tersebut untuk dapat terus berkembang, terlebih jika pembangunan pasca penetapan Provinsi baru nanti benar-benar sudah berjalan. Salah satunya dari segi pariwisata.

Ada satu gelaran unggulan dari segi pariwisata yang sangat diandalkan, dan masuk dalam kalender wisata tahunan di Papua, yakni Festival Lembah Baliem. Saking populernya, setiap turis dari mancanegara bahkan banyak yang rela untuk datang ke wilayah ini untuk menyaksikan festival yang disebut memiliki pertunjukan kelas dunia.

Mengenal 3 Calon Ibu Kota Provinsi Baru di Papua

Sudah ada sejak 1989

Sekadar informasi, Lembah Baliem sendiri merupakan salah satu lembah di wilayah Pegunungan Jayawijaya yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permuakaan laut. Lembah ini pertama kali ditemukan pada tahun 1938, orang seorang peneliti asal AS bernama Richard Archbold.

Saat itu terungkap jika ada sejumlah suku yang meninggali kawasan lembah baliem, yakni Suku Dani, Suku Yali, dan Suku Lani.

Dari ketiga suku yang tinggal bertetangga tersebut, kemudian diketahui ada sebuah tradisi berupa ‘acara perang’ antar suku. Walau sebenarnya perang yang dimaksud hanya berupa gelaran simbolis yang dilakukan, sebagai wujud rasa syukur untuk melambangkan kesuburan dan kesejahteraan menurut kepercayaan mereka.

Untuk pertama kalinya, tradisi ‘perang’ tersebut mulai bisa disaksikan secara umum dan dijadikan gelaran wisata dengan nama Festival Lembah Baliem sejak tahun 1989. Seiring berjalannya waktu, gelaran ini semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi Papua khususnya kawasan Jayawijaya.

Pengunjung yang datang bukan hanya dari turis lokal, melainkan mancanegara yang jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Biasanya kebanyakan mereka yang datang juga merupakan kalangan fotografer profesional dunia yang ingin mengabadikan momen dari kehidupan dan tradisi salah satu masyarakat adat yang masih tersisa di dunia saat ini.

Padahal, tentu untuk bisa masuk atau sampai ke kawasan lembah baliem sendiri sebelumnya membutuhkan pengorbanan waktu dan biaya yang besar. Pasalnya untuk bisa sampai ke lokasi tempat festival diselenggarakan, para turis tidak cukup hanya menaiki pesawat untuk bisa sampai di Jayapura, melainkan harus menyambung rute pesawat atau transportasi udara untuk bisa mencapai Wamena.

Hal tersebut dilakukan karena dulunya belum ada jalur darat yang benar-benar menghubungkan Wamena dan Jayawijaya. Namun terbaru, sudah jalur Trans-Papua yang rampung belum lama ini.

Pesona Desa Hilisimaetano Nias, Dari Rumah Adat, Tarian Perang, Hingga Batu Megalitik

Skenario perang antar suku

Bukan tanpa alasan jika pertunjukkan yang digelar dalam Festival Lembah Baliem disebut sebagai pertunjukan kelas dunia. Pasalnya, semua rangkaian yang dipertontonkan memang dipersiapkan secara totalitas.

Seperti yang telah disebutkan, inti dari festival ini akan mempertunjukan skenario perang yang dipicu oleh peculikan warga salah satu suku, pembunuhan anak kepala suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka. Pemicu tersebut yang kemudian menyebabkan suku lainnya harus membalas dendam sehingga penyerbuan pun dilakukan

Semuanya pertunjukkan tersebut terasa nyata karena latar atau lokasi dari pertunjukan itu sendiri benar-benar dilakukan di alam secara langsung.

Meski begitu, ragam skenario atraksi ini dipastikan tidak akan memicu balas dendam atau permusuhan. Di baliknya justru memiliki makna positif yang oleh masyarakat ada dikenal dengan ungkapan Yogotak Hubuluk Motog Hanoro yang berarti “Harapan Akan Hari Esok yang Harus Lebih Baik dari Hari Ini.”

Karena semuanya dibuat secara totalitas dengan mencerminkan tradisi dan budaya yang ada, semua kostum dan perlengkapan pun memang masih dibuat sealami mungkin.

Kalangan pria suku Dani hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut koteka, yang terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari.

Sementara itu para wanita suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut sali.

Selain perang adat, di festival tersebut juga akan menyuguhkan berbagai pertunjukan yang memanjakan mata seperti musik tradisional, tarian, lelang patung, lomba perahu, demo membuat ukiran, nyanyian, bahkan hingga pemilihan Abang None ala masyarakat setempat.

Mengenal 5 Wilayah Adat yang Jadi Dasar Pemekaran Provinsi Papua

Kembali setelah absen pandemi

Lebih dari 30 tahun, gelaran Festival Lembah Baliem bisa dibilang tidak pernah absen digelar setiap tahun. Dulunya acara ini biasa diselenggarakan setiap bulan Oktober, namun kemudian berubah menjadi setiap bulan Agustus dan digelar selama tiga hari berturut-turut.

Pemerintah Kabupaten Jayawijaya sendiri disebut sengaja terus mempertahankan gelaran ini untuk mempertahankan kelestarian nilai-nilai budaya suku yang ada. Meski kenyataannya, memang gelaran Festival Lembah Baliem terakhir kali digelar pada tahun 2019 lalu.

Gelaran ini sempat absen selama dua tahun di 2020 dan 2021 karena pandemi. Meski belum ada tanda kembali digelar secara normal, namun Pemkab Jayawijaya mengonfirmasi jika pada awal Agustus mendatang akan diselenggarakan mini Festival Lembah Baliem untuk mengobati kerinduan.

Menurut Engelbertus Surabut, selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisaya Jayawijaya, mini festival tersebut akan digelar selama tiga hari di Distrik Usilimo, dan akan menampilkan sejumlah pertunjukkan yang diharapkan dapat menarik.

“Mini festival ini akan berlangsung dari tanggal 8 hingga 10 Agustus 2022, dalam mini festival ini akan menampilkan atraksi perang-perangan, lomba panahan, lempar tombak, karapan babi, dan beberapa lomba lainnya,” jelas Engelbertus.

Eksplorasi Wisata Kaimana, Sepotong Surga di Papua Barat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini