Istana Tampaksiring, Satu-Satunya Istana Kepresidenan yang Dibangun RI Pasca Merdeka

Istana Tampaksiring, Satu-Satunya Istana Kepresidenan yang Dibangun RI Pasca Merdeka
info gambar utama

Istana merupakan salah satu bagian penting dalam suatu Negara. Bangunan yang biasanya memang memiliki wujud yang luas dan megah ini secara umum diperuntukkan sebagai titik utama atau pusat kedudukan pimpinan suatu negara.

Biasanya, bangunan Istana didiami oleh keluarga kepala negara atau keluarga kerajaan, tergantung bentuk pemerintahan yang dianut masing-masing negara. Di Republik Indonesia sendiri, bangunan ini lebih dikenal dengan istilah Istana Kepresidenan.

Hinga saat ini (2022)--setidaknya sebelum ditambah dengan calon Istana Kepresidenan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan, Indonesia memiliki sebanyak enam Istana Kepresidenan yang sudah dibangun sejak lama.

Istana yang dimaksud terdiri dari Istana Merdeka dan Istana Negara yang berada di Jakarta, Istana Cipanas dan Istana Bogor yang ada di Jawa Barat, Istana Yogyakarta, dan Istana Tampaksiring yang berada di Bali.

Yang menarik, dari ke-enam istana tersebut hampir semuanya merupakan bangunan yang sudah ada dan dibangun sejak masa kependudukan Belanda. Otomatis, bangunannya sendiri memang dibangun saat sejumlah wilayah masih ada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Belanda.

Satu-satunya istana yang dibangun oleh Pemerintahan Indonesia adalah Istana Tampaksiring, yang berada di Kabupaten Gianyar, Bali. Bila 5 Istana yang lebih dulu dibangun memiliki gaya Eropa, maka Istana Tampaksiring dibangun dengan ciri khas serta nuansa Indonesia dan nuansa lokal Bali.

Ayo Tengok 6 Istana Kepresidenan Indonesia

Dibangun tahun 1957

Denah Istana Tampaksiring | kebudayaan.kemdikbud.go.id
info gambar

Istana Kepresidenan Tampaksiring berdiri di atas lahan sekitar 19 hektare yang awalnya merupakan milik Kerajaan Gianyar. Namun disebutkan karena kecintaan Soekarno terhadap wilayah Tampaksiring, Raja Gianyar kemudian menyerahkan lahan tersebut kepada negara di tahun 1955.

Nama Tampaksiring sendiri berada dua kata bahasa Bali yakni ‘Tampak’ yang artinya telapak, dan ‘Siring’ yang berarti miring. Memang, lahan di kawasan tersebut memiliki lanskap bukit-bukit yang miring.

Memang, titik lokasinya sendiri berada di ketinggian kuran lebih 700 meter dari permukaan laut dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Di tambah dengan lokasinya yang ada di di atas perbukitan, hawa di sekitar lingkungan Istana cukup sejuk dan cenderung dingin meski di tengah musim kemarau.

Rencana pembangunan Istana di Tampaksiring kemudian dimulai tahun 1956 yang dipersiapkan oleh Jawatan Pekerjaan Umum (saat ini Kementerian PUPR). Kala itu, arsitek R.M. Soedarsono menjadi sosok yang merancang bangunan istana.

Pembangunan dimulai sejak tahun 1957 dan menyelesaikan tahap pertamanya di tahun 1960, diikuti penyelesaian pembangunan tahap kedua di tahun 1963.

Punya empat bangunan utama, Istana Kepresidenan Tampaksiring, memiliki 4 bangunan utama berupa wisma dan bangunan pendukung lainnya, yang difungsikan sebagai tempat peristirahatan Presiden beserta keluarga dan tempat menerima tamu-tamu negara.

Adapun ke-4 bangunan utama yang dimaksud terdiri dari Wisma Merdeka, Wisma Yudistira, Wisma Negara, dan Wisma Bima.

Puri Bhakti Renatama, Museum di Dalam Kompleks Istana Kepresidenan

Fungsi Istana Tampaksiring

Istana Tampaksiring | kebudayaan.kemdikbud.go.id
info gambar

Sama seperti Istana Kepresidenan lain yang dimiliki Indonesia, Istana Tampaksiring memang kerap menjadi tempat peristirahatan bagi Presiden beserta keluarga, dan tamu-tamu Negara.

Dalam periwayatannya, sejumlah tamu Negara yang pernah bermalam di kawasan Istana ini terdiri dari Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang datang pada tahun 1957 bersama Permaisurinya, Ratu Sirikit.

Lain itu ada pula Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chin Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Belanda, dan Kaisar Hirohito dari Jepang.

Seiring berjalannya waktu, fungsi dari Istana Kepresidenan Tampaksiring mengalami perkembangan. Tak hanya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Kepresidenan, kawasan ini juga berfungsi sebagai tempat pariwisata. Masyarakat umum diizinkan untuk mengunjungi Istana Tampaksiring pada waktu-waktu tertentu.

Lain itu, nyatanya di kawasan Istana Tampaksiring memang terdpaat titik Pura Tirta Empul. Pura tersebut merupakan kolam yang biasa digunakan oleh ribuan penduduk asli Bali untuk melakukan sejumlah adat atau ritual tradisional berupa penyucian diri. Tidak sembarangan, Kolam utama Tirta Empul sendiri tidak boleh dipakai untuk mandi dan hanya bisa diziarahi oleh orang yang berpakaian adat Bali.

Sementara itu ada juga sebuah pemandian yang terletak beberapa meter dari kolam utama, dan selalu digunakan masyarakat terutama saat hari raya besar seperti Galungan (Hari Kemenangan Kebenaran) dan Saraswati (Hari Pendidikan).

Memahami Makna Galungan dan Kuningan yang Diperingati Umat Hindu

Berita acara untuk pohon rusak

Wilayah rusa di Istana Tampaksiring
info gambar

Sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa Presiden pertama RI yakni Soekarno memiliki kegemaran menanam pohon. Istana Tampaksiring sendiri nyatanya memang tak lepas dari campur tangan dan arahan Soekarno dalam setiap jengkal pembangunannya.

Dipenuhi oleh berbagai ragam jenis pohon. Soekarno dulunya sering membawa bibit pohon bila pulang dari perjalanan muhibah ke luar negeri atau daerah-daerah Indonesia lainnya. Beberapa pohon yang dimaksud terdiri dari pohon kembang saputangan yang ditanam di depan Wisma Merdeka, bibit tersebut didapat saat ia berkunjung ke Istana Malacanang di Filipina.

Saking pentingnya pohon-pohon tersebut, disebutkan bawa jika saat itu ada pohon yang tumbang atau rusak di lingkungan Istana Tampaksiring, maka wajib dibuatkan laporan berita acara.

Lain itu ada juga pohon yang merupakan oleh-oleh dari sejumlah para pejabat negara. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Ahmad Yani, pernah membawa bibit tiga pohon cemara dari Irian Barat yang ditanam di dekat jembatan lengkung. Pohon itu dibawa dan ditanam untuk mengenang Operasi Trikora membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.

Kemudian sejak pertengahan 1990-an, di kawasan hamparan hijau Istana yang luas juga tampak beberapa ekor rusa merumput beserta kandangnya. Rusa-rusa tersebut didatangkan langsung dari Istana Bogor untuk menambah keramaian di Istana Tampaksiring.

Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini