Soekanto dan Kisah di Balik Pataka Polri sebagai Falsafah Bhayangkara

Soekanto dan Kisah di Balik Pataka Polri sebagai Falsafah Bhayangkara
info gambar utama

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) selalu menggelar Upacara Pencucian Pataka, yakni mencuci panji-panji Korps Bhayangkara. Upacara tersebut menjadi tradisi wajib sebelum peringatan Hari Ulang Tahun Bhayangkara pada 1 Juli.

Upacara Pencucian Pataka yang merupakan upacara pemuliaan nilai-nilai luhur Tribrata tersebut dilakukan oleh Kepolisian Daerah Papua pada, Rabu (22/6/2022). Upacara ini dipimpin oleh Wakapolda Papua Brigjen Pol Dr Eko Rusdi Sudarto yang dihadiri pejabat utama Polda Papua dan purnawirawan.

Menurut Kadiv Humas Polda Papua, pencucian Pataka tersebut menjadi pedoman dan semangat untuk setiap insan Polri agar tetap memegang teguh kebenaran, melaksanakan tugas pokok melindungi, mengayomi, melayani dan menegakkan hukum.

“Pencucian Pataka ini juga mengingatkan kepada setiap anggota Polri bahwa tujuan bekerja untuk mengabdi kepada bangsa dan masyarakat, sehingga harus menjaga marwah Polri dengan baik, demi terwujudnya sosok Polri yang presisi,” ucapnya.

Madukala Kundoro, Polisi di Sulawesi Tenggara yang Jamin Pendidikan Gratis 65 Anak Jalanan

Upacara Pencucian Pataka Rastra Samara pada tahun lalu juga dilakukan di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Rabu (23/6/2021). Acara ini berlangsung dengan protokol kesehatan secara ketat.

“Upacara pemuliaan nilai-nilai luhur Tribrata merupakan suatu tradisi yang wajib dilaksanakan dengan melakukan pencucian panji-panji Polri yang merupakan simbol untuk mensucikan dan pembersihan diri,” kata Kadiv Humas Irjen Pol Argo Yuwono--saat masih menjabat saat itu--seperti dimuat Antara.

Pria yang kini menjadi Asisten Logistik (Aslog) Kapolri ini menyebut pencucian Pataka tersebut menjadi pedoman dan semangat untuk setiap insan Polri agar tetap memegang teguh kebenaran dan melaksanakan tugas polisi.

“...melindungi, mengayomi, melayani, dan menegakkan hukum serta mewujudkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” paparnya.

Dirinya mengungkapkan dengan adanya tradisi wajib itu, akan dijadikan momentum introspeksi dan renungan bagi seluruh prajurit korps Bhayangkara dalam menjalankan tugas-tugasnya di lapangan.

Sehingga ke depannya, kata Argo, Polri akan menjadi lembaga negara yang semakin dicintai oleh masyarakat dalam menjalankan tugasnya, menjaga keamanan dan ketertiban di negara ini.

“Agar Polri ke depan dapat menjalankan tugas pokoknya memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat secara profesional,” katanya.

Soekanto dan filosofi Polri

Dalam perayaan HUT Bhayangkara, ada hal yang penting bagi Polri yakni Panji Kepolisian yang merupakan bendera kesatuan tersebut. Pataka inilah yang menjadi pedoman dan nilai-nilai filosofis anggota polisi

Pataka atau panji kepolisian pertama kali diserahkan secara simbolis oleh Presiden RI pertama, Ir Soekarno kepada Kepala Kepolisian Negara Jenderal Polisi (Purn) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo pada 1 Juli 1955.

Soekanto dikenal sebagai Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dia menjadi Kepala Kepolisian Negara pertama sekaligus peletak dasar bagi kepolisian nasional yang profesional dan juga modern.

Pria kelahiran 7 Juni 1908 ini berhasil mengkonsolidasi aparat kepolisian dengan membentuk Kepolisian Nasional. Selain pembangunan fisik, dirinya juga memikirkan pentingnya pendidikan untuk menciptakan polisi terdidik dan berdedikasi tinggi.

Mengutip Kompas, ketika menjabat Kepala Kepolisian Negara (KKN), 29 September hingga 31 Desember 1959, dia merintis dibentuknya polair dan udara, brimob, polantas yang terorganisir, cikal bakal polda, dan pembentukan sekolah polisi.

Atas upaya Soekanto itulah, juga tercipta aspek pedoman hidup dan karya kepolisian yang pada akhirnya terkenal dengan nama Tri Brata dan Catur Prasetya, Sebuah filosofi yang terus dipegang bagi polisi hingga kini.

Wacana Polisi Soal Tak Ada Lagi Tilang di Jalan Raya

Soekanto memang tidak hanya membangun secara fisik, namun juga nilai-nilai spiritual dan mental bagi polisi. Misalnya saja Pataka Polri, yang merupakan warisan dari dirinya setelah melakukan tirakat secara khusus di Pulau Karimun Jawa.

“Tiang Pataka berasal dari pohon yang terdapat di Pulau Karimun Jawa, yang secara khusus diambil Soekanto dengan cara tirakatan,” kata Hendra Djajoesman dalam biografi ayahnya, Nugroho Djajoesman, Meniti Gelombang Reformis yang dimuat Historia.

Ayah Hendra tahu persis sejarah Pataka Polri karena pernah menjadi ajudan Soekanto. Menurut Hendra, Pataka Polri ini dibuat khusus oleh Soekanto, sementara benderanya dijahit oleh Lena Mokoginta yang adalah istri dari Soekanto.

Dalam Pataka, diusung bendera lambang Polri yang bertuliskan Rastra Sewokottama yang memiliki arti “abdi utama dan nusa dan bangsa”. Sebutan itu adalah brata pertama dari Tri Brata yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Tiga Jalan”.

Nagara Janottama adalah brata kedua yang memiliki arti, “warga negara teladan dari negara”. Dan ada juga brata ketiga yakni Yana Anucasana yang berarti “wajib menjaga ketertiban rakyat”.

Tri Brata inilah yang diucapkan Soekanto ketika menerima Pataka Polri dari Presiden (Soekarno) sebagai pedoman hidup kepolisian,” tulis Martin Sitompul dalam Kisah di Balik Falsafah Bhayangka.

Nilai yang dipertahankan

Awaloedin Djamin dalam biografi Soekanto berjudul Jenderal Polisi R.S Soekanto Tjokrodiatmodjo: Bapak Kepolisian Negara RI Peletak dasar Kepolisian yang Profesional dan Modern menyebut diperlukan panitia khusus untuk merancang Pataka Polri.

Soekanto menginstruksikan melalui Surat Perintah No.4/XVI/1995 tanggal 2 Maret 1955. Panitia ini melibatkan ahli heraldik (ahli lambang-lambang) dan Dewan Guru Besar dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Disebut oleh Martin, panji kepolisian itu terbuat dari kain beludru hitam berukuran 90 x 135 cm dan terlukis sebuah perisai berwarna kuning emas. Warna hitam melambangkan ketenangan nan abadi sedangkan kuning emas melambangkan kebesaran jiwa.

Perisai menandakan bahwa korps kepolisian adalah pelindung rakyat. Sedangkan di dalam perisai, terlukis sebuah obor bersudut 8, bersinar 17, dan tiang pada kepala bersaf 4, dan kakinya bersaf 5.

“Ini melambangkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945,” ujar Martin.

Sementara itu dalam situs polri.go.id disebutkan, bahwa tiga bintang di atas logo bermakna Tri Brata adalah pedoman hidup Polri. Sedangkan warna hitam dan kuning merupakan warna legendaris dari korps Bhayangkara ini.

Tugas Mulia Brigadir Henri, Polisi yang Abdikan Diri Demi Generasi Bangsa

Hal yang menarik jelas Martin adalah pada kanan dan kiri perisai dilingkari setangkai bunga kapas yang dilukiskan berdaun 29 lembar dan berbunga 9 buah, serta tangkai pada yang berbaris 45 biji.

Menurut Martin hal ini merujuk pada tanggal pengangkatan Soekanto sebagai Kepala Kepolisian Negara yang pertama yakni, 29 September 1945. Soekanto juga tercatat sebagai Kapolri terlama dalam sejarah Polri.

Sementara itu, Soekanto juga yang menyetujui rancangan Pataka yang diserahkan oleh panitia. Pada saat pembuatan kayu untuk tiang panji, dia bersama pengawasan DKPN, ikut menunggunya hingga pukul 4 pagi di sebuah rumah di Jalan Mentawai.

“Hingga kini, Pataka Polri merupakan lambang kesatuan Kepolisian Negara Indonesia,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini