Kenangan dari Tanamur: Dentuman Disko dari Diskotek Tertua di Asia Tenggara

Kenangan dari Tanamur: Dentuman Disko dari Diskotek Tertua di Asia Tenggara
info gambar utama

Menyebut Tanamur menjadi tempat yang begitu identik bagi para clubbers atau pengelana dunia malam. Terletak di Jalan Tanah Abang Timur, No 14, diskotek ini tidak pernah sepi pada masa keemasannya.

Tanamur yang merupakan akronim dari Tanah Abang Timur ini merupakan diskotek pertama dan tertua di Jakarta. Klub malam ini berdiri pada 12 November 1970 dan membawa pengaruh dalam perkembangan dunia party di ibu kota.

Dikutip dari Svr.id yang dimuat Sindonews, Jumat (1/7/2022), awalnya Tanamur hanya memainkan musik dari piringan hitam atau kaset yang terinfluence dari diskotek dan night club yang ada di Amerika, Jerman, serta Paris yang kala itu sedang hype musik disko.

Pendiri Tanamur, Ahmad Fahmy Alahdy mengubah citra dari klub malam yang dahulunya identik dengan suasana formal, menjadi hiburan alternatif untuk banyak orang dari berbagai kalangan dengan suasana lebih bebas dan santai.

Fahmy yang kelak menikah dengan Ratna Sarumpaet ini, ketika masih menjadi mahasiswa di Jerman, pernah mengunjungi salah satu diskotek dan terkagum akan hiburan malam yang tidak dapat ditemukan di Jakarta.

Fahmy kemudian melihat peluang bisnis bagi hiburan malam. Apalagi iklim investasi dan peluang pasar terbuka lebar. Karena Jakarta ketika itu tengah dilanda demam kelab malam seiring dibukanya keran investasi asing dan tumbuhnya kelas menengah.

Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta ketika itu pun menopangnya. Dirinya memang sedang gencar-gencarnya mempromosikan rencana modernisasi kota Jakarta menjadi kota metropolitan.

Bioskop Rakyat Hadir di Jakarta

“Tempat-tempat hiburan diberikan izin selama dapat menghasilkan pajak yang menjadi sumber pemasukan provinsi DKI Jakarta,” tulis Jeniffer Gracellia dalam Tanamur: Sisa Dentuman Disko di Diskotek Pertama dan Tertua di Jakarta.

Bagi Bang Ali -panggilan akrabnya- kelab-kelab malam dapat menjadi sumber pemasukan provinsi, di sisi lain para pengusaha melihat ibu kota sebagai pasar yang sedang bergeliat pada masa itu.

Mulai berdiri beberapa kelab malam seperti La Cassa Cosindo (LCC) di sekitar Lapangan Merdeka, Latin Quarter di Harmoni, dan Tropicana di Senayan. Di sana pertunjukan live music disuguhkan tiap malam, bersama minuman keras sebagai teman dalam temaram.

“Selain itu, untuk menarik pengunjung, kelab-kelab malam menyediakan hostes (pramuria perempuan yang dapat diajak berkencan) dan tari telanjang,” tulis Hendaru Tri Hanggoro dalam Kenangan yang Tertinggal di Tanamur yang dikabarkan Historia.

Tanamur dan pesta tanpa batas

Teguh Esha seorang wartawan majalah Stop mengungkapkan kebanyakan pengunjung klub malam adalah orang tua, pejabat, dan pengusaha. Dia beberapa kali mengunjungi tempat itu untuk mencari bahan tulisan.

Melihat peluang ini, Fahmy memilih menghentikan studinya dan kembali ke ibu kota dan mendirikan diskotek. Dengan modal sekitar 25 juta rupiah bersama dengan saudaranya yaitu Anis dan Kadim, dia menyulap sebuah rumah tua menjadi diskotek.

Bangunan Tanamur bercat hitam. Jendela dan pintunya menyerupai ornamen di gereja. Di dalamnya, ada lengkungan atap yang dapat dijumpai di masjid. Konsep bangunan ini memang cukup eksentrik.

Ketika orang ingin memasukinya, mereka harus melewati pintu merah bercorak klasik lalu menuruni tangga. Bar mini yang terbuat dari kayu akan segera menyambut. Sementara ruang ajojingnya cukup luas dan bangku-bangkunya berbantal kulit kambing.

Selain itu, Tanamur juga menghadirkan budaya pesta baru di Jakarta, pasalnya di tempat ini orang bebas joget ajojing tanpa harus melanggar aturan formal seperti yang ada pada klub malam kebanyakan kala itu.

Tanamur pun berhasil mencapai tujuannya karena 60 persen pengunjungnya adalah anak muda. Tak hanya booming di Jakarta, Tanamur juga menjadi diskotek pertama di Asia Tenggara yang terkenal sampai mancanegara.

Hanya 18 Hari, Pasar Malam Sekaten di Yogyakarta Sudah Mulai Loh...

Kala itu Tanamur bagaikan obat untuk masyarakat Jakarta yang sedang terjangkit demam disko. Karena untuk sekali masuk, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp10 ribu - Rp20 ribu, cukup mahal tetapi sangat murah dibanding klub malam lainya.

Fahmy memang menginginkan diskoteknya didatangi mahasiswa atau anak muda dengan kantong kempes. Bahkan disediakan juga Tanamur Student Club yaitu kartu anggota untuk mahasiswa yang nantinya akan mendapat potongan biaya masuk.

Bukan tanpa pesaing, beberapa hotel juga menyediakan diskotek seperti Guwa Rama di Hotel Indonesia dan The Oriental Club di Jakarta Hilton. Ada juga diskotek Mini Disco dan Pitsop, namun Tanamur tetap jadi pilihan anak muda ketika itu.

Tanamur juga terkenal sebagai diskotek tanpa menu hostes dan tari telanjang. Mereka hanya menyediakan pramuria biasa, bukan hostes seperti umumnya di kelab-kelab malam yang ada di Jakarta.

“Sepanjang saya mengunjungi Tanamur sedari 1980 sampai 1993, Tanamur tak pernah menyediakan itu,” ujar Wawan (54), seorang pengujung setia Tanamur.

Kenangan di Tanamur

Firdaus al-Hadi selaku mantan manajer Tanamur menyebut ketika itu ada istilah tidak ke Jakarta kalau tidak ke Tanamur. Di buka setiap hari, Tanamur memang selalu ramai khususnya di akhir pekan dengan berbagai acara.

Ada acara pesta Hallowen, pesta kostum, pesta busa, Ladies Night, hingga Beach Party. Tanamur yang memiliki kapasitas untuk 800-1.000 orang saat itu bagaikan magnet bagi anak muda Jakarta.

Firman Lubis, ketika baru menjadi dosen muda di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah mengunjungi Tanamur dengan kawan-kawannya pada tahun 1971. Dia mengaku penasaran dengan diskotek yang baru buka setahun ini.

“Kuping saya sampai pengang seharian setelah mengunjungi Tanamur malam itu,” kenang Firman.

Kala tempat hiburan malam mulai gulung tikar karena kejenuhan masyarakat, Tanamur masih bertahan. Bahkan terus berkibar, pengunjungnya mulai beragam. Pada masa keemasannya, sederet nama beken dalam dunia hiburan dan seni pernah datang.

Memori Landhuis Pondok Gede, Rumah Mewah yang Kini Telah Lenyap

Nama seperti Peter Gontha, Sardono W, Nurul Arifin beserta Mayong, Almarhum Bagong sampai Setiawan Djodi tercatat pernah datang ke tempat ini. Tidak hanya dari lokal, artis mancanegara pun pernah hadir.

Berbagai pesohor dunia pernah datang dan menikmati hiburan tengah malam di Tanamur yakni Muhammad Ali, Chuck Norris, Ruud Gullit, Bee Gees, Deep Purple, Mick Jagger hingga Jean Cluade van Damme.

Krisis moneter dan razia ekstasi pada era 1990 an tidak juga mengurangi pengunjung Tanamur. Situasi sulit justru muncul setelah peristiwa Bom Bali 2002. Menurut Firdaus, isu keamanan dan terorisme membuat pengunjung Tanamur mulai sepi.

Pada 2005, Fahmy berkata kepada Firdaus yang telah menjadi GM Tanamur untuk beristarahat kerena lelah. Lampu disko Tanamur kemudian meredup, dua tahun kemudian, Fahmy meninggal dunia karena stroke.

“Terlampau banyak kenangan di Tanamur,” ujar Firdaus.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini