Berbak Sembilang, Tempat Terbaik untuk Melihat Tapir Asia dan Burung Air

Berbak Sembilang, Tempat Terbaik untuk Melihat Tapir Asia dan Burung Air
info gambar utama

Di Indonesia, ada sebuah tempat yang dikatakan memiliki komunitas burung pantai paling kompleks di dunia dan mendukung pengembangbiakan bangau bluwok terbesar di dunia. Tempat itu adalah Taman Nasional (TN) Sembilang di Kabupaten Banyuasin, pesisir Provinsi Sumatra Selatan.

Uniknya, lokasi taman nasional tersebut bersebelahan dengan Taman Nasional Berbak di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi sehingga keduanya juga dikenal dengan sebutan Berbak Sembilang. TN Berbak sendiri merupakan ekosistem lahan basah yang menjadi habitat harimau Sumatra, tapir Asia, dan burung air.

Meski terletak di dua provinsi, kedua taman nasional ini masih sama-sama berada di Pulau Sumatra dan bisa dikunjungi untuk tujuan penelitian, pendidikan, rekreasi, dan pariwisata.

Eksplorasi Wisata Kaimana, Sepotong Surga di Papua Barat

Taman Nasional Berbak Sembilang

TN Berbak awalnya merupakan Suaka Margasatwa yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda tahun 1935. Namun, mengingat nilai dan potensi yang tinggi akan keanekaragaman hayati baik tumbuhan maupun satwa, maka kawasan Berbak pun diubah menjadi taman nasional tahun 1992.

TN Berbak memiliki keunikan berupa perpaduan antara hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang terbentang luas di pesisir Timur Sumatera. Keberadaan taman nasional ini juga menjadi lahan basah yang secara ekologi berfungsi sebagai habitat harimau Sumatra, tapir Asia, dan burung air.

Sementara itu, kawasan Sembilang berawal dari tahun 1994 ketika saat itu Gubernur Sumatra Selatan menunjuk sekelompok hutan termasuk suaka margasatwa terusan dalam, hutan produksi terbatasan terusan dalam, hutan lindung Sembiang, dan perairannya menjadi hutan suaka alam seluas 205.750 hektare. Kemudian baru tahun 2003 kawasan tersebut berubah fungsi dan status menjadi taman nasional dengan luas lahan 202.896 hektare.

TN Sembilang memiliki ekosistem hutan rawa hambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian dan ditujukan untuk pengelolaan kawasan konservasi lahan basah dan perairan yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Menilik Potensi Wisata Alam, Budaya, Rohani, Hingga Kuliner di Floratama

Flora dan fauna Berbak Sembilang

Tapir Asia | @Karel Bartik Shutterstock
info gambar

TN Berbak dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak jenis palem, termasuk palem tanaman hias paling langka, yaitu daun payung dan Lepidonia kingii yang berbunga besar dengan warna merah atau ungu. Ada 261 spesies flora dari 73 famili yang berbeda tumbuh di taman nasional ini dan terdiri dari jenis pohon atau berkayu, liana, dan jenis herba serta epifit.

Di TN Berbak, Anda akan menemukan 10 spesies pandan, kemudian ada nibung, meranti, rotan, nipah, dan bakung. Sementara itu di TN Sembilang ada tumbuhan seperti gajah paku, nipah, cemara laut, pandan, laut waru, nibung, jelutung, menggeris, dan gelam tikus.

Ada juga tumbuhan bakau yang hidup di kawasan tersebut seperti Rhizophora, Nepenthes ampullaria, Kandelia candel, Sonneratia, Avicennia, Ceriops, Xylocarpus, dan Excoecaria agallocha. Anda juga bisa menjumpai flora jenis ramin yang dilindungi, nibung kantong semar, dan anggrek lokal.

Sementara itu untuk fauna, tercatat ada 53 jenis mamalia, 44 jenis reptil, 224 jenis burung, 95 jenis ikan, dan 22 jenis moluska yang hidup di Taman Nasional Berbak. Beberapa di antaranya bahkan termasuk jenis langka hingga terancam punah.

Di TN Berbak, ada harimau Sumatra, tapir Asia, buaya muara, buaya sinyolong, badak Sumatra, kancing, beruang madu, binturong muntu, macan dahan, bulus, dan musang leher kuning. Ada pula kelompok burung seperti kuntul Cina, bangau tong-tong, raja udang merah api, bebek hutan bersayap putih, bangau storm, dan menrok rimba. Untuk reptil sendiri ada kura-kura gading dan tuntong. Kemudian ada ikan betok, patin, tapah, betutu, belido, dan arwana.

Untuk di TN Sembilang, ada juga harimau dan gajah Sumatra, tapir, siamang, rusa sambar, dan babi hutan. Kemudian ada lumba-lumba tanpa sirip punggung, lumba-lumba air tawar atau pesut, dan lumba-lumba bungkuk.

Selanjutnya ada buaya air asin, biawak, labi-labi, ular punti masak, bangau tongtong, bangau bluwok putih, ibis cucuk besi, pecuk ular asia, undan putih, cangak abu, cangak laut, dara laut, dan 28 spesies burung air migran yang sering singgah di taman nasional. Pada bulan Oktober, puluhan ribu burung migran dari Siberia bisa dijumpai di kawasan ini.

Melancong ke Pulau Siberut untuk Melihat Satwa Endemik dan Kehidupan Suku Mentawai

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini