Kisah Stasiun Solo Balapan: Arena Pacuan Kuda hingga Zona Galau Didi Kempot

Kisah Stasiun Solo Balapan: Arena Pacuan Kuda hingga Zona Galau Didi Kempot
info gambar utama

Ning Stasiun Balapan
Rasane Koyo Wong Kelangan
Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku
Da…Dada Sayang
Da…Selamat Jalan

Potongan lirik tersebut berasal dari lagu Stasiun Balapan milik maestro musik dangdut, Didi Kempot. Pria yang dijuluki The Godfather of Broken Heart ini merilis lagu tersebut dalam album dengan judul yang sama tahun 1999.

Stasiun Balapan memiliki nada yang sendu di awal tetapi pada bagian tengah mulai diiringi dengan tabuhan gendang. Didi memang memiliki kemampuan menyanyikan lirik berbahasa Jawa yang menyayat hati.

Diceritakan olehnya, lagu ini terinspirasi dari kisah nyata yang ditemuinya secara langsung. Di tengah era 1984-1986, saat masih mengamen di Stasiun Balapan, ia melihat banyak orang yang berpelukan hingga menangis karena berpisah.

“Jangan khawatir saya akan cepat pulang. Katanya seperti itu. Janjinya, tidak sampai sebulan sudah kasih kabar lagi. Tetapi ternyata, setelah ditunggu dua minggu, tidak ada kabar. Dua bulan semakin tidak jelas, apalagi setahun. Ini lupa atau memang sengaja melupakan sebenarnya? Ternyata, di situlah ingkar janji tadi. Ini cerita tentang tetangga sebelah,” kata Didi, sambil tertawa terbahak-bahak saat diwawancarai Andy F Noya dalam acara Kick Andy 14 November 2019 silam.

Stasiun Gambir dan Kisah Mengantar Perjalanan Selama Lebih 1,5 Abad

Stasiun Solo Balapan memang bukan tempat sembarangan. Selain menjadi saksi usainya kisah cinta kekasih yang ingkar janji. Stasiun ini juga menjadi lokasi dari peristiwa-peristiwa bersejarah.

Menurut laman resmi Pemda Surakarta, Stasiun Solo Balapan merupakan stasiun terbesar dan bersejarah di kota Solo. Stasiun ini berada di jalur kereta api yang menghubungkan Solo dengan Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Stasiun ini berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi No 112, Kestalan, Banjarsari. Lokasi tersebut sangat strategis dan berdekatan dengan Keraton Mangkunegaran, Pasar Legi, serta Villa Park yang merupakan pemukiman Eropa pada masa itu.

Dimuat dari halaman resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Balapan awalnya dibangun oleh perusahaan kereta api swasta asal Belanda, yaitu Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Stasiun ini didirikan mulai tahun 1870, yang dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur rel Tanggung-Kedungjati-Gundih-Solo Balapan, sepanjang 83 kilometer yang dimulai pada 1868 dan selesai pada 10 Februari 1870.

Dari pacuan kuda

Berdirinya Stasiun Solo Balapan, tak bisa dilepaskan dari peran pemimpin Mangkunegaran Solo. Bahkan tanah yang ditempati stasiun tertua dan bersejarah ini konon merupakan lahan pacuan kuda milik Keraton Mangkunegaran.

Dani Saptoni, Ketua Solo Societeit menyatakan kawasan Solo Balapan sering digunakan untuk latihan berkuda pasukan legiun Pura Mangkunegaran. Dalam bahasa Jawa, arena pacuan kuda itu dikenal sebagai balapan jaran.

“Jadi dahulu kalangan bangsawan Mangkunegaran juga kerap berlatih pacuan kuda di situ, selain Pasukan Legiun Divisi Setabel atau Pasukan Berkuda. Kandang kudanya berada di Kampung Setabelan, dekat Pasar Legi sekarang,” paparnya yang dimuat Solopos.

Kawasan Solo sejak lama dianggap sangat strategis dan sesuai, karena bisa langsung mengarah ke Semarang, sebagai ibu kota provinsi. Karena itu Pemerintah Kolonial Belanda mulai menggalakkan perubahan dengan mengubah pola pedesaan menjadi perkotaan.

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian mulai menggagas jalur rel kereta api dari Semarang sebagai Ibu Kota Provinsi menuju Solo. Karena itu Solo harus memiliki stasiun sendiri, lokasi pacuan kuda ketika itu dianggap paling pas.

“Karena jalur rel bisa langsung mengarah ke Semarang. Akhirnya pacuan kuda itu diubah menjadi sebuah stasiun, dan nama Balapan tetap dipertahankan,” tulis artikel di website resmi Pemkot Solo.

Dalam laman puromangkunegaran.com, dijelaskan bahwa sejarah pembangunan stasiun itu tak berselang lama dengan masa pembangunan dua pabrik gula oleh Mangkunegara IV (1853-1881).

Inovasi PT KAI di Tengah Menurunnya Penumpang Kereta Api Imbas Pandemi Covid-19

Dua pabrik gula itu, yakni PG Colomadu di Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar yang dibangun pada 1861 dan PG Tasikmadu, Karanganyar pada 1871. Mangkunegoro IV sendiri disebut ikut memprakarsai pembangunan Stasiun Solo Balapan.

Peletakan batu pertama Stasiun Solo Balapan pada tahun 1864 digelar dengan upacara meriah. Selain dihadiri oleh Mangkunegara IV, upacara ini juga dihadiri langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van de Belle.

Stasiun Balapan menjadi semakin besar setelah perusahaan milik pemerintah Staatsspoorwegen (SS) menyambung jalur kereta api yang sudah ada, dengan jalur Madiun-Paron-Sragen-Solo sejauh 97 km pada 24 Mei 1884.

Penyambungan jalur tersebut membuat Stasiun Balapan menjadi stasiun terbesar pada masanya. Pembangunan Stasiun Balapan selesai pada 1910. Namun pada 1927, stasiun ini kemudian direnovasi agar telihat mewah dan megah.

Pemugaran tersebut dilakukan berdasarkan rancangan desain Ir.Herman Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda ternama yang juga melakukan perencanaan bangunan di wilayah Hindia Belanda.

Karsten merancang stasiun dengan gaya arsitektur campuran Belanda-Jawa atau dalam istilahnya disebut Nieuwe Bouwen atau bangunan baru. Hal ini membuat fungsi bangunan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Stasiun kelas satu

Setelah stasiun ini berdiri, Belanda menghubungkan rel kereta dengan stasiun-stasiun yang berada di titik-titik strategis, yakni di Purwosari, Sriwedari, dan Jebres. Stasiun ini juga dahulunya terhubungkan oleh rel-rel yang melewati tengah kota.

Salah satu buktinya adalah jalur rel yang ada di tepi jalan Slamet Riyadi hingga kini masih digunakan. Saat ini, kereta dari timur yang menuju jalur utara (Semarang) maupun sebaliknya dilayani di Stasiun Solo Jebres.

Sedangkan kereta kelas ekonomi jalur selatan (Yogyakarta, Bandung, Purwokerto, dan Jakarta) dan lokal/komuter (Yogyakarta dan Kutoarjo) akan dilayani di Stasiun Purwosari. Sementara itu Stasiun Balapan Solo hanya menampung kereta eksekutif.

Bukan hanya megah dan terbesar pada masanya, Stasiun Balapan juga merupakan pemberhentian kereta kelas satu di Solo. Karena itu tidak heran, stasiun ini menjadi stasiun dengan penumpang terbanyak.

Catatan tahunan NISM tahun 1887 mencatat, penumpang Stasiun Balapan sudah mencapai 55 ribu per tahun. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan dengan semua stasiun di Semarang maupun Vorstenlanden (kawasan D.I Yogyakarta dan Karesidenan Surakarta).

Di stasiun ini banyak peristiwa bersejarah yang terekam, mulai dari momen ketika Pakubuwono X hendak menikah dengan putri Hamengkubuwono VII pada 1915 hingga pengangkutan massa Sarekat Islam yang akan melaksanakan kongres di Solo.

Menghidupkan Kembali Bon-Bon, Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

Hingga saat ini, Stasiun Solo masih aktif beroperasi dan sering digunakan oleh pelancong maupun masyarakat sekitar. Stasiun ini bahkan telah ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya berdasarkan SK Bupati Nomor 646/1-R/1/2013.

Stasiun ini bertambah populer setelah dijadikan sebuah lagu yang cukup populer pada 1990 an oleh Didi Kempot. Atas hasil karya tersebut, Didi ditetapkan sebagai Duta Kereta Api Indonesia oleh KAI.

Ketika datang ke stasiun ini, akan terdengar melodi penyambutan kereta api dengan lagu “Bengawan Solo” dalam format keroncong instrumental. Serta juga setiap kali kedatangan kereta api penumpang di seluruh stasiun besar wilayah Solo Raya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini