Amerika Serikat Terancam Resesi, Apa Dampaknya Bagi Perekonomian Indonesia?

Amerika Serikat Terancam Resesi, Apa Dampaknya Bagi Perekonomian Indonesia?
info gambar utama

Kondisi perekonomian dunia bisa dibilang belum baik-baik saja. Pandemi Covid-19 belum usia, kini dunia harus dihadapkan dengan ancaman resesi yang diprediksi para ekonom akan terjadi di Amerika Serikat (AS).

Baru-baru ini, The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin atau 0,75 persen menjadi 1,5-1,75 persen yang dilakukan untuk menurunkan inflasi tinggi dan memulihkan stabilitas harga. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak tahun 1994 silam. Namun, kebijakan tersebut juga dinilai dapat memicu resesi di AS.

Pimpinan The Federal Reserve, Jerome Powell, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga yang tajam dapat mengarahkan ekonomi AS ke jurang resesi. Prediksi tersebut juga disampaikan Nomura Holdings Inc. Menurut Nomura, negara-negara di Uni Eropa, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, ataupun Kanada paling lambat akan masuk ke jurang resesi pada 12 bulan mendatang.

Nomura memperkirakan ekonomi AS dan kawasan Uni Eropa akan terkontraksi sebesar 1 persen pada 2023 dan ekonomi Korea Selatan diperkirakan akan terkontraksi 2,2 persen pada kuartal tiga tahun ini.

Lantas, apa itu resesi, mengapa kondisi ini bisa terjadi, dan apa dampaknya bagi Indonesia? Berikut penjelasannya:

Berkomitmen dengan Korea Selatan dalam IK-CEPA, Apa Untungnya Bagi Indonesia?

Memahami kondisi resesi

Ilustrasi | @Brian A Jackson Shutterstock
info gambar

Resesi ekonomi atau biasa disebut resesi saja merupakan penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Para ahli menyatakan resesi ketika perekonomian di suatu negara mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif, meningkatnya tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan ukuran pendapatan dan manufaktur yang berkontraksi untuk jangka waktu yang lama.

Resesi sendiri dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari siklus bisnis dan kontraksi reguler yang terjadi dalam perekonomian suatu negara. Pada tahun 1974, ekonom Julius Shiskin menjelaskan aturan untuk mendefinisikan resesi, yaitu penurunan PDB selama dua kuartal berturut-turut. Pada dasarnya ekonomi yang sehat akan berkembang dari waktu ke waktu, sehingga dua kuartal berturut-turut dari hasil yang berkontraksi menunjukkan ada masalah mendasar yang serius.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan resesi, salah inflasi. Inflasi merupakan tren kenaikan harga yang stabil dari waktu ke waktu dan bukan hal buruk. Namun, tren inflasi berlebihan menjadi fenomena berbahaya. Selain itu, inflasi tak terkendali akan menyebabkan resesi dan kondisi deflasi akan memperburuk perekonomian.

Faktor lain penyebab resesi adalah gelembung aset yang terjadi saat investor terlalu optimis terhadap kondisi ekonomi. Pasar saham dan real estate kebanjiran investor sampai menggelembung, kemudian gelembung pecah dan menyebabkan kepanikan sehingga investor berbondong-bondong menjual saham danmenghancurkan pasar yang kemudian menjadi penyebab resesi.

Penyebab lainnya yaitu guncangan ekonomi mendadak, mulai dari tumpukan hutang individu maupun perusahaan. Banyaknya hutan akan membuat biaya pelunasan semakin tinggi dan terus meningkat sampai ke titik mereka tidak dapat melunasinya lagi.

Selain itu, berkembangnya teknologi juga dapat menjadi penyebab resesi. Revolusi industri kemudian membuat beberapa profesi menjadi usang. Para ekonom khawatir bahwa Artificial Intelligence (AI) dan robot akan menyebabkan resesi lantaran banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya.

Dampak dari resesi sendiri akan memperlambat ekonomi, perusahaan mungkin tutup, pemutusan hubungan kerja meningkat, kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan, dan ekonomi yang semakin sulit akan berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat.

Memahami Konsep Ekonomi Sirkular dalam Mendorong Pemulihan Ekonomi yang Berkelanjutan

Pendapat para ahli di Indonesia

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat kemungkinan ekonomi AS mengalami resesi begitu terbuka lebar dan bisa saja terjadi pada tahun 2023. Saat ini, kekhawatiran terkait inflasi masih tinggi sehingga ada kemungkinan selanjutnya akan berlanjut ke resesi.

Sementara itu, Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menerangkan bahwa kenaikan bunga acuan sebesar 75 basis poin ini sudah mengikis ketidakjelasan di pasar keuangan. Kenaikan bunga oleh The Fed juga memberi sinyal pada kemungkinan terjadinya resesi, terlebih ada sekitar 50 negara yang sudah menaikkan bunga acuannya.

Sarman Simanjorang selaku Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia mengatakan bila terjadi resesi ekonomi dikhawatirkan akan berpengaruh pada cadangan devisa. Ini karena terjadinya aliran modal asing yang keluar dari Indonesia dan membuat nilai tukar rupiah kian melemah. Ditambah lagi, ekspor-impor akan mengalami gangguan.

Gonjang-ganjing resesi di negara adidaya tersebut tentunya akan membawa dampak kepada Indonesia sebagai salah satu mitra dagang. Namun, David Sumual menjelaskan jika dampaknya tidak akan terlalu besar karena porsi ekspor dan impor Indonesia ke pertumbuhan ekonomi tidak sebesar konsumsi rumah tangga.

David juga mengimbau agar pemerintah menguatkan kondisi pertumbuhan ekonomi domestik dengan menjaga suplai pangan untuk menekan tingkat inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Menurut David, Bank Indonesia bisa menaikkan suku bunga acuan pada semester dua atau kuartal tiga tahun 2022 seiring dengan kebijakan The Fed yang kian agresif.

Di sisi lain, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat bahwa situasi global dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan inflasi. "Kondisi ekonomi global yang dipenuhi risiko menimbulkan pelemahan kurs dan dikhawatirkan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor terutama pangan," jelasnya.

Namun saat ini kenaikan biaya impor belum terasa karena dari produsen masih menahan harga di tingkat konsumen. Jika beban biaya impor sudah naik secara signifikan, maka imbasnya baru akan terasa oleh konsumen.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini