Baru, Museum Bahari Kini Punya Ruang Titik Nol Meridian Batavia

Baru, Museum Bahari Kini Punya Ruang Titik Nol Meridian Batavia
info gambar utama

Warga Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah tak asing dengan nama Museum Bahari yang berada di Penjaringan, Jakarta Utara. Museum yang juga cagar budaya ini menempati bangunan yang dulunya digunakan VOC sebagai tempat penyimpanan atau gudang rempah-rempah yang akan dijual kepada para pelayar dari China, India, dan Eropa.

VOC juga menggunakan bangunan tersebut untuk menyimpan komoditi lain seperti kopi, teh, tekstil, timah, dan tembaga. Gudang Barat atau Westzijdsche Pakhuizen yang saat ini menjadi Museum Bahari dibangun secara bertahap mulai tahun 1718, 1773, dan 1774.

Museum Bahari sendiri pertama kali diresmikan pada 7 Juli 1977 dan memiliki berbagai koleksi seperti alat navigasi, replika perahu tradisional dan kapal asli dari berbagai daerah, juga benda-benda peninggalan zaman penjajahan Belanda.

Bertepatan dengan hari jadi Museum Bahari yang ke-45 pada 7 Juli 2022 ini, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta akan membuka Ruang Pameran Garis Nol (Titik Nol) Meridian Batavia di Museum Bahari. Seperti apa ruang pameran tersebut?

3 Museum yang Dapat Dikunjungi untuk Mempelajari Sejarah Perbankan Indonesia

Ruang Titik Nol Meridian Batavia

Ilustrasi | PPID DKI Jakarta
info gambar

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Mis’ari, menjelaskan bahwa ruang pameran ini ditujukan guna meluruskan persepsi masyarakat dan narasi yang selama ini beredar mengenai titik nol kilometer sebagai acuan berlayar.

"Pemahaman masyarakat mengenai titik nol atau garis nol sebagai acuan waktu berlayar itu yang ada di Tugu Nol Kilometer Yogyakarta dan Titik Nol Kilometer Indonesia di Pulau Weh, Sabang, Aceh. Padahal sebenarnya, titik nol atau garis nol yang berada di Museum Bahari ini merupakan acuan waktu yang benar saat berlayar," jelasnya.

Menurut keterangan Mis'ari, garis nol yang dimaksud adalah garis bujur nol yang sangat diperlukan pada masa aktifnya perdagangan di Kawasan Sunda Kelapa saat itu. Museum Bahari pun berinisiatif menyajikan informasi yang lebih akurat mengenai sejarah garis nol atau titik nol tersebut di ruang pameran.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Iwan Henry Wardhana menjelaskan di ruang pameran ini terdapat beberapa koleksi navigasi mengenai titik nol meridian Batavia dan penjelasan tentang aktivitas pelayaran zaman dahulu. Pameran ini juga dibuka untuk jadi pengingat dan menyebarluaskan informasi penting pada masyarakat tentang kegiatan pelayaran di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapada di masa lampau.

“Kehadiran ruang pameran itu menjadi bukti kepada masyarakat, bahwa keberadaan aktivitas pelayaran di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa pada masa lalu berada di garis nol (titik nol) meridian tersebut. Harapannya, pameran ini nantinya dapat menjadi pengingat sejarah bagi masyarakat, serta memberikan manfaat bagi keberlangsungan informasi seputar sejarah di Jakarta,” kata Iwan.

Titik nol meridian sendiri terletak di Menara Sinyal yang dibangun tahun 1839 dan berada di kawasan Museum Bahari. Di gedung tersebut tersimpan jam paling akurat beserta kelengkapannya. Di bagian atapnya ada sebuah sinyal waktu yang bisa dilihat dari kejauhan. Dengan mengamati sinyal harian, awak kapal yang berlabuh di teluk Batavia bisa menyesuaikan jam kapal mereka.

Penjaga waktu sangat dibutuhkan pelayar pada masa itu guna menentukan posisi mereka selama pelayaran. Titik nol merididan Batavia ini juga masih digunakan untuk produksi peta Indonesia sampai 1942 meskipun sejak tahun 1883 meridian Greenwich sudah diterima secara universal sebagai meridian utama.

Lokasi gedung yang berada di area Menara Syahbandar itu terletak di atas bekas Bastion Culemborg atau benteng pertahanan kota Batavia yang dibangun sekitar tahun 1645.

Menara ini juga berfungsi sebagai menara pengawas dan pengatur lalu lintas bagi kapal-kapal yang keluar-masuk ke Batavia lewat laut. Sebelum aktivitas pelabuhan pindah ke Tanjung Priok, Menara Syahbandar ini juga berfungsi sebagai kantor pabean atau pengumpulan pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan.

Selagi melihat ruang pameran, pengunjung juga bisa menjelajah isi Museum Bahari. Kompleks Museum Bahari dulunya disebut Westzijdsche Pakhuizen dan dirancang oleh Ir. Jacques Bollan. Kompleks ini terdiri dari tiga bangunan bergaya Eropa tertutup. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat kapal-kapak zaman VOC, alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar, dan meriam.

Selain itu Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data ikan di perairan Indonesia, cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan, hingga koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, matra TNI AL, tokoh-tokoh maritim, hingga perjalanan kapal KPM Batavia - Amsterdam.

Berbak Sembilang, Tempat Terbaik untuk Melihat Tapir Asia dan Burung Air

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini