Berkarya di Industri Kreatif dan Multimedia Bersama Komunitas Sangkanparan Cilacap

Berkarya di Industri Kreatif dan Multimedia Bersama Komunitas Sangkanparan Cilacap
info gambar utama

#FutureSkillsGNFI

Mungkin banyak yang masih asing dengan Kabupaten Cilacap. Ya, Cilacap adalah sebuah kabupaten terpencil yang letaknya di pesisir selatan Pulau Jawa. Tepatnya, di pojok barat daya Provinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Jawa Barat. Daerah ini termasuk bagian dari Eks-Karisidenan Banyumas Raya yang terkenal dengan logat ngapak penduduknya.

Siapa sangka, di kabupaten terpencil ini ada suatu perkumpulan pegiat seni, multimedia, dan industri keatif, temasuk perfilman, yang aktif mewadahi para talenta di daerah tersebut dalam berkarya. Bahkan, meraih berbagai penghargaan pada level nasional maupun internasional. Perkumpulan itu dikenal sebagai Komunitas Sangkanparan.

Untuk mengetahui mengenai rekam jejak komunitas tersebut, penulis berkesempatan mewawancarai pendirinya, Kak Insan Indah Pribadi. Berikut pemaparan mengenai isi wawancara terbebut.

Asal Mula Komunitas Sangkanparan

Sejak berkuliah di Akademi Seni dan Desain Indonesia (ASDI) Solo pada 2001, Kak Insan bersama teman-temannya membentuk suatu komunitas yang kegiatannya berkecimpung dalam bidang multimedia dan industri kreatif.

Sewaktu muda, Kak Insan dan teman-temannya lebih visioner dan idealis untuk membawa komunitasnya sebagai pelopor awal mula bangkitnya Jawa Tengah dalam mengimbangi dominasi industri kreatif yang Jakarta sentris. Maka itu, komunitas tersebut diberi nama Sangkanparan yang dalam Bahasa Jawa Kuno berarti “awal mula” atau origin.

Setelah lulus pada 2005, Kak Insan kembali ke kampung halamannya, yaitu Cilacap. Ia melanjutkan aktivitas Komunitas Sangkanparan di sana bersama dengan para pegiat industri kreatif lokal yang lain.

Komunitas Sangkanparan punmendirikan Studio Sangkanparan serta Rumah Belajar Sangkanparan guna memfasilitasi para talenta di bidang multimedia dan industri kreatif untuk belajar dan berkarya, khususnya para pelajar.

Insan Indah Pribadi, pendiri Komunitas Sangkanparan.
info gambar

Aktivitas Keseharian di Sangkanparan

Meskipun pada awalnya Sangkanparan berpusat di Cilacap, tetapi dalam perkembangannya, komunitas tersebut turut mewadahi para talenta dari berbagai daerah di sekitarnya, seperti Banyumas, Purwokerto, Kebumen, Banjarnegara dan lainnya.

Selama betahun-tahun, Sangkanparan rutin telah banyak membantu para talenta di bidang multimedia dan industri kreatif dari berbagai daerah tersebut untuk belajar dan berkarya, khusunya para pelajar SMK dengan menjadikan Rumah Belajar Sangkanparan sebagai tempat Program Praktek Kerja Industri (Prakerin).

Para siswa tersebut mendapatkan pengalaman kerja kreatif yang layak melalui berbagai aktivitas pembelajaran, seperti mengkaji film dan mempelajari proses pembuatan film.

Prosesnya meliputi tahap persiapan seperti penggalian ide, penelitian, penyusunan, dan penulisan naskah skenario. Lalu, tahap produksi mempelajari hal teknis di antaranya pengenalan dan penggunaan kamera, teknik pengambilan gambar, penyutradaraan. Terakhir, tahap penyuntingan hingga paska produksi seperti sosialisasi karya, pemutaran film, dan presentasi substansi karya di depan khalayak umum.

Kak Insan mengarahkan anak didiknya dalam suatu proses syuting.
info gambar

Karya, Kontribusi, dan Prestasi Komunitas Sangkanparan

Sangkanparan telah melahirkan banyak anak didik berpretasi. Beberapa film besutan mereka berhasil menyabet berbagai penghargaan dari berbagai festival nasional maupun internasional, salah satunya adalah film dokumenter pendek berjudul Urut Sewu Bercerita karya siswi SMKN 1 Kebumen, Dewi Nur Aeni, mengenai perampasan lahan para petani di wilayah Urut Sewu, Kebumen, oleh TNI.

Film tersebut berhasil masuk dalam daftar official selection di Singapore International Film Festival 2017 dan memenangkan penghargaan film dokumenter terbaik di berbagai perhelatan seperti Festival Film Denpasar, Malang, dan Purbalingga 2017 dan sebagainya.

Film berjudul Dawuk yang merupakan besutan anak didik Sangkanparan lain, yaitu Syifa Zein Aulia, siswi SMKN 1 Karanggayam, turut berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi Viu Shorts Season 2 pada 2020.

Dawuk mengangkat salah satu urban legend Cilacap yaitu kisah seorang penari Lengger Dempet yang selalu menggendong boneka. Konon, boneka itu merupakan pengganti anaknya yang telah meninggal. Melalui Dawuk, Kak Insan dan Syifa mematahkan stigma bahwa Bahasa Jawa ngapak hanyalah cocok untuk genre komedi karena logatnya yang terdengar lucu, tetapi cocok pula untuk genre drama lebih serius dan tragis. Syifa, sebagai Pemenang Viu Shorts tersebut berhak menerima beasiswa kuliah perfilman di Insititut Kesenian Jakarta.

Kak Insan sendiri telah menyutradarai dan memproduksi beberapa film pendek yang sebagian besar kisahnya mengangkat budaya dan sejarah lokal yang belum banyak diketahui, seperti film berjudul Maos yang tayang pada 2022. Film tersebut menceritakan perlawanan warga Desa Maos, Cilacap, melawan penjajahan Belanda dengan menggunakan berbagai motif kain sebagai media koordinasi untuk mengecoh Belanda. Hingga kini, Maos terkenal dengan industri batiknya.

Kak Insan bersyukur karena Sangkanparan mampu mengantarkan para anak didiknya menemukan jalan untuk berkarya dan berkarir di bidang multimedia dan industri kreatif, khususnya perfilman.

Hal itu membuktikan bahwa daerah terpencil seperti Cilacap dan sekitarnya tidaklah kalah dari kota besar lain mengenai talenta kreatif. Ke depannya, beliau berharap mampu membantu lebih banyak talenta daerah untuk belajar, berkarya, dan berkarir di bidang industri kreatif. Beliau ingin terus mengangkat warisan budaya lokal yang belum terekspos oleh publik agar tidak hilang dan terlupakan begitu saja.

 

Referensi: Wawancara Sangkanparan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini