Buya Hamka dan Perannya Ketika Memilih Bersahabat dengan Jepang

Buya Hamka dan Perannya Ketika Memilih Bersahabat dengan Jepang
info gambar utama

Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal akrab sebagai Buya Hamka (1908-1981) bagi banyak kalangan tidak begitu dikenal dalam kiprahnya sebagai pejuang politik. Dia juga tidak terkenal sebagai aktivitas dan elit politik Islam.

Meski demikian, Hamka memang turut berjuang secara fisik dan politik dalam revolusi kemerdekaan. Keterlibatan dalam revolusi kemerdekaan menjadi pertimbangan pokok bagi pemerintah Indonesia untuk mengakuinya sebagai pahlawan.

Cendekiawan Islam, Azyumardi Azra menyebut Hamka memilih sikap politik yang merupakan gabungan moderasi keteguhan hati, realisme, tetapi tetap memegang integritas vis-a-vis kekuasaan.

“..Di tengah keterlibatannya yang intens dalam dunia kesusastraan, keilmuan dan keulamaan, Hamka juga tidak meninggalkan masyarakat dan bangsa yang tengah berjuang untuk mencapai kemerdekaan,” tulisnya dalam artikel Perjuangan Politik Buya Hamka yang dimuat Geo Times.

Setelah pulang dari Tanah Suci, Hamka pergi ke Medan untuk aktif dalam dakwah dan menulis pada tahun 1936. Dicatat oleh Azyumardi sebagian tulisan Hamka disita penguasa kolonial karena dianggap mengandung informasi dan gagasan berbahaya.

Setelah tumbangnya kekuasaan kolonial Belanda di tangan Jepang, ternyata mengubah arah perjuangan politik Hamka. Berbeda dengan sikapnya yang sangat anti Belanda, Hamka cenderung bersikap akomodatif terhadap para penguasa Jepang.

Buya Hamka, Jalan Dakwah dan Perjuangan Melalui Masjid Agung Al Azhar

Apa bentuk sikap akomodatif Hamka terhadap penjajah Jepang? Hal ini bisa terlihat dari kesediaan Hamka untuk menjadi penasehat Jepang untuk hal ikhwal Islam dan kepentingan kaum Muslim.

Dirinya juga bersedia diangkat pada 1944 sebagai anggota Sangi Kai Syu, semacam Dewan Perwakilan. Kesediaan Hamka untuk bersikap akomodatif karena dia percaya pada janji Jepang untuk memberikan kemerdakaan kepada Indonesia.

Namun, karena sikap akomodatif untuk bekerjasama dengan penjajah Jepang, Hamka, seperti halnya Soekarno dan Mohammad Hatta akhirnya dituduh sebagai kolaborator oleh kelompok revolusioner, salah satunya adalah Sutan Syahrir.

“Sikap akomodatifnya inilah yang kemudian membuat Hamka dituduh sementara kalangan sebagai ‘kolaborator’ penjajah Jepang,” tulisnya.

Hamka dan sahabat Jepang

Jepang mulai mempererat cengkraman atas Medan pada 12 Maret 1942. Pada minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya, Hamka dan pemimpin-pemimpin Muslim di Medan bersikap hati-hati dengan penjajah baru.

Sekitar tiga bulan kemudian, Jenderal Tetsuzo Nakashima diangkat sebagai gubernur atau chokan. Hamka mengingat sosok ini sebagai laki-laki tua gemuk, mantan diplomat dengan pembawaan tenang dan cerdas.

Dalam pertemuan mereka, Hamka mencatat bahwa dia begitu membuat Nakashima terkesan, sehingga memintanya untuk menjadi penasihat urusan agama. Hingga didapuklah Hamka sebagai anggota Dewan Penasehat Agama, bahkan disapa “Hamka-San”.

“Kemampuan retorika, ketegasan, dan karisma Hamka dikagumi penguasa Jepang,” tulis Yusuf Maulana, kurator pustaka lawas Perpustakaan Samben Yogyakarta yang dimuat Republika.

Menurut Yusuf, Jepang berbeda dengan Belanda dalam pendekatannya terhadap masyarakat Islam. Mereka merangkul para ulama untuk kemudian menjadikannya sebagai alat propaganda Jepang.

Janji pembebasan negeri-negeri yang dijajah terdenger nyaring dari para ulama umat. Hamka pun termasuk salah satu tokoh umat yang populer karena dikenali sebagai “ulama agitator.” Jepang.

Jalan Terjal Dakwah KH Ahmad Dahlan hingga Dituduh Kiai Kafir

Dalam tugasnya, Hamka pernah harus pergi ke Aceh untuk menyelidiki seorang guru agama muda yang penuh semangat memimpin pemberontakan. Guru muda tersebut bernama Tengku Abdul Jalil.

“Guru muda ini menyemangati dengan mengatakan bahwa Jepang sebenarnya adalah Ya’juj dan Ma’juj yang disebutkan Qur’an akan muncul sebelum akhir zaman,” tulis James R Rush dalam Adicerita Hamka.

Hamka tiba di Lhokseumawe pada hari ketika serdadu Jepang membunuh Jalil dan dua hari sebelumnya, sembilan puluh delapan pengikut Jalil telah dibantai di suatu surau. Masyarakat Aceh yang resah atas peristiwa itu gagal menyakinkan Jalil untuk menyerah.

Tetapi dalam laporannya kepada Nakashima, Hamka menuliskan peristiwa itu terjadi karena para prajurit Jepang mandi bertelanjang dada, mewajibkan keirei (hormat kepada Kaisar Jepang), main tampar dan pukul seenaknya, sehingga memancing amarah warga Aceh.

Kesediaan Hamka melakukan perjalanan berbahaya ke Aceh membuat Nakashima berkata bahwa semangat Hamka serupa semangat Nippon. Dirinya bahkan memanggil Hamka dengan sebutan Hamka-San.

“Nakashima menarik dia menjadi teman dekatnya, dan tak lama kemudian tersebar kabar bahwa Hamka-san “kawan” dengan chokan. Tiba-tiba, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Hamka dekat dengan kekuasaan,” tulisnya.

Permainan berbahaya

Bintang Hamka makin terang. Dalam upacara publik besar untuk merayakan setahun kekuasaan Jepang di Sumatra, Hamka menjadi satu dari lima pembicara lokal yang memuji pihak Jepang.

Sementara itu pada Juni 1943, Hamka mengadakan rapat pemimpin Muslim se Sumatra Timur untuk unjuk kesetiaan kepada Jepang. Dalam acara ini menampilkan para sultan, ada juga parade ulama bersorban dan berjubah.

Dalam tulisan Rush, tim propaganda Jepang memfilmkan seluruh acara itu, termasuk pidato penuh semangat Hamka yang mendorong sesama Muslim menganggap upaya perang Jepang sebagai upaya perang mereka juga.

“Hamka mengakhiri seruannya dengan mengatakan, "Hiduplah Kaum Muslimin di bawah perlindungan Dai Nippon!”

Beberapa bulan kemudian, ketika Jepang membentuk Shu Sangi Kai (dewan penasihat) di Sumatra Timur, Hamka ditunjuk menjadi anggota. Rush mencatat orang-orang pun sudah mengenal Hamka sebagai “anak emas” gubernur.

Berdekatan dengan kekuasaan memang menarik bagi Hamka, tetap dia juga tahu bahwa dirinya memainkan permainan berbahaya. Tetapi jelas Rush, Hamka mengambil risiko ini untuk memperkecil bahaya yang akan menimpa Islam.

Namun rasa kecewa mulai muncul ketika dorongan Hamka untuk mencabut “hak-hak raja dihapuskan” diabaikan oleh Jepang. Selama ini, Hamka memang menilai para raja ini merupakan benteng feodal yang berkolaborasi dengan penjajah.

Rasa khawatir ini kembali semakin besar pada awal 1944, saat dirinya menghabiskan waktu tiga bulan di Jawa. Kemanapun dirinya pergi, kata Hamka, dia melihat kelaparan dan kekurangan dalam skala besar yang melebihi kondisi Sumatra.

Nasehat KH Hasyim Muzadi tentang Islam, Kebangsaan dan Keikhlasan

“Segala sumber pangkal hidup diambil oleh Jepang.”

Di Medan, Hamka lagi-lagi terjepit di antara ulama sultan yang anti-Muhammadiyah dan obsesi Jepang akan perang. Antusiasmenya terhadap “kemenangan akhir” jelas melemah. Dirinya pun mulai menjauhkan diri dari para penjajah.

Tetapi harapan Hamka pulih saat Perdana Menteri Jepang yang baru, Koiso Kuniaki menjanjikan kemerdekaan Indonesia di masa depan. Dia mengetahui berita itu, melalui dua wartawan lokal kantor berita Jepang, Domei yang datang ke rumahnya.

Dicatat oleh Rush, Hamka kemudian langsung masuk kamar bersujud syukur kepada Allah. Bahkan Hamka kemudian terjun ke rapat umum di segala penjuru Sumatra Timur. Kamera Jepang kemudian menangkap wajah Hamka yang bercucuran air mata.

Pada musim panas 1945, sekutu-sekutu Jepang di Eropa telah runtuh dan wilayah kekuasaanya di Asia Tenggara mengerut. Karena itulah Jepang mengadakan pertemuan Chu Sang In se-Sumatra di Bukittinggi.

Hamka menggunakan kesempatan pertemuan Bukittinggi untuk mengunjungi kampung halamannya di tepi Danau Maninjau. Di mana ada seribu orang datang untuk mendengarnya berbicara.

“Kita berjuang betul-betul bukan buat Nippon! Kita berjuang buat kemerdekaan kita sendiri, kemerdekaan agama dan bangsa! Syukur kalau Nippon menolong…Tetapi jika sekiranya Nippon itu kalah, akan berhentikah kita berjuang mencapai kemerdekaan? Tentara Sekutu datang ke Tanah Air kita dan dirampasnya Tanah Air tercinta ini. Maukah kita?”

“Orang-orang menjawab.” Tidak, tidak!” catat Rush.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini