Direvitalisasi Sejak Awal Tahun, Begini Progres Pembangunan Bandara Halim Perdanakusuma

Direvitalisasi Sejak Awal Tahun, Begini Progres Pembangunan Bandara Halim Perdanakusuma
info gambar utama

Bandara Halim Perdanakusuma (Bandara Halim), Jakarta, telah direvitalisasi sejak Januari 2022 guna memperbaiki fasilitas sisi darat maupun udara dalam rangka meningkatkan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan.

Selama proses revitalisasi, operasional bandara dihentikan sementara dan tidak ada penerbangan dari dan ke Halim. Untuk operasional penerbangan pun direlokasi ke bandara lain seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Kertajati, Bandara Budiarto, dan Bandara Pondok Cabe.

Adapun pekerjaan yang dilakukan dalam revitalisasi ini yaitu pembangunan di sisi udara maupun sisi darat meliputi penyehatan landas pacu dan landas hubung, peningkatan kapasitas landas parkir pesawat udara Naratetama dan Naratama, renovasi gedung Naratetama dan Naratama, renovasi bangunan operasi, perbaikan sistem drainase di dalam bandar udara, dan penataan fasilitas lain yang perlu disesuaikan akibat pekerjaan revitalisasi.

Setelah kurang lebih enam bulan revitalisasi, berikut perkembangan pembangunan Bandara Halim:

Staf Bandara Soekarno-Hatta Raih Predikat Terbaik Asia 2022

Progres revitalisasi Bandara Halim

Pembangunan bandara ini sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Fasilitas Pangkalan Tentara Nasional Indonesia/Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Dalam Perpres tersebut, Menteri Perhubungan juga menunjuk langsung Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan revitalisasi Bandar Halim yaitu PT Wijaya Karya Tbk; PT Pembangunan Perumahan Tbk; dan PT Indah Karya.

Menurut keterangan Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati, alokasi anggaran untuk revitalisasi bandara sekitar Rp600 miliar. Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan penunjukan langsung pada BUMN dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengadaan barang dan jasa, serta dengan memperhatikan akuntabilitas dan integritas. Juga untuk mempercepat revitalisasi bandara.

Pada Selasa (12/7/2022), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Panglima Komando Operasi Udara Nasional Marsekal Madya Andyawan yang mewakili KASAU, melakukan uji coba landasan pacu (runway) hasil revitalisasi Bandara Halim Perdanakusumah.

Baik prosesi lepas landas dan pendaratan di landasan pacu Bandara Halim menggunakan pesawat kalibrasi jenis King Air 350i PK-CAP berjalan dengan mulus dan lancar. Menhub menyampaikan bahwa secara teknis, mulai 13 Juli ini landasan pacu Bandara Halim sudah dapat digunakan secara terbatas untuk latihan militer dan penerbangan VVIP.

Penggunaan landasan pacu terbatas yang dimaksud adalah untuk melakukan perbaikan-perbaikan jika ada kekurangan yang harus diperbaiki. Sementara itu untuk penerbangan komersial bisa dimulai pada bulan September mendatang.

“Selain runway, kami juga membangun terminal untuk tamu VVIP. Pengoperasian secara komersial akan dilakukan berbarengan dengan selesainya bangunan terminal,” jelas Menhub.

Perihal progres pembangunan revitalisasi Bandara Halim, saat ini sudah mencapai 72,6 persen. Untuk pekerjaan di sisi udara meliputi landasan pacu, landas hubung, dan landas parkir ditargetkan rampung pada akhir Juli. Sementara untuk pekerjaan sisi darat seperti gedung terminal akan selesai pada akhir Agustus.

Selama ini Bandara Halim melayani penerbangan niaga berjadwal, tidak berjadwal, kargo, penerbangan militer, dan VVIP. Bandara yang berlokasi di Jalan Halim Perdana Kusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, ini juga digunakan sebagai markas Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) TNI-AU.

Menurut catatan sejarahnya, bandara ini sebelumnya bernama Lapangan Terbang Tjililitan dan beroperasi sementara menjadi bandara komersial mulai tanggal 10 Januari 2014 untuk mengalihkan penerbangan dari Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta yang dinilai telah penuh.

Pada abad ke-17, daerah Cililitan adalah tanah partikelir bernama Tandjoeng Os milik Pieter van der Velde. Cikal bakal kawasan tersebut menjadi bandara dimulai tahun 1924 di mana sebagaian tanah dijadikan lapangan terbang pertama di Jakarta dan dinamakan Vliegveld Tjililitan atau Lapangan Terbang Tjililitan.

Bahkan pada tahun yang sama, lapangan terbang tersebut telah menerima kedatangan pesawat dari Amsterdam. Pada peresmian Bandar Udara Internasional Kemayoran, Lapangan Terbang Tjililitan juga turut andil dengan cara menerbangkan pesawat berjenis Douglas DC-3 menuju Kemayoran.

Selanjutnya pada 20 Juni 1950, Belanda sepenuhnya menyerahkan lapangan terbang kepada pemerintah Indonesia. Pada masa itu, lapangan terbang langsung dipegang AURI dan dijadikan pangkalang udara militer. Baru pada 17 Agustus 1954, lapangan terbang berganti nama menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma untuk mengenang mendiang hum Abdul Halim Perdanakusuma yang gugur dalam menjalankan tugasnya.

Ramah Lingkungan, Bandara Banyuwangi Masuk 20 Besar Arsitektur Terbaik Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini